MEMASUKI waktu subuh, orang mulai ramai berbelanja di Pasar Inpres Walang, Kelurahan Rawabadak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Pasar tradisional ini memang cukup ramai didatangi pembeli. Hingga sore pun tetap ramai. Kebutuhan sembako yang tersedia di pasar itu cukup lengkap dan murah. Yang ikut bikin ramai pasar tersebut adalah para penjual makanan ringan, seperti: nasi uduk, bubur, bakso, lontong, gado-gado, dan kue-kue. Makanan yang dijual juga cukup murah.
Lapak Anas, pedagang bermacam kue, terbilang ramai didatangi pembeli. Tiap kuenya cukup dijual Rp 500. Lantaran murah dan enak, orang pun silih berganti datang ke meja Anas. Perempuan setengah baya ini mengaku beruntung bisa berjualan tanpa ada pesaing. Alasan itulah yang membuat dia masih bisa bertahan di pasar tersebut.
Anas tergolong pendatang baru di daerah itu. Rumahnya tidak jauh dari pasar. Perempuan berdarah Jawa tapi besar di Palembang, Sumatera Selatan, ini memutuskan berjualan kue lantaran dia ingin mencari kesibukan sekaligus mencari uang untuk menafkahi kebutuhan hidup sehari-hari. Penghasilan bersih setiap harinya bisa mencapai Rp 30 ribu. “Kadang dapat Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Jualan kue tidak menentu untungnya,” kata ibu tiga putra ini.
Sejak ketiga anaknya kuliah di luar Jakarta, Anas tinggal sendirian menyewa rumah kos berukuran mungil. Sementara, suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Soal biaya kuliah ketiga anaknya, Anas mengandalkan gaji pensiun dari Departemen Sosial (Depsos) di Palembang. Selain itu, biaya kuliah anak-anaknya juga mendapat bantuan dana dari beberapa saudaranya. “Ada yang kuliah di UGM,” tutur perempuan lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang akrab dipanggil “mbah kue” di lingkungan tempat tinggalnya.
Pernah ketiban sial
Nasib Anas sebenarnya berujung mujur jika tidak mendapatkan musibah beberapa tahun lalu. Sebelum itu, Anas adalah pegawai negeri sipil. Tekadnya menjadi wirausahawan begitu besar hingga dia mengam-bil keputusan mengajukan pensiun dini dari Depsos. Dia pun meluncur ke Cikarang membuka rumah makan, warteg (warung tegal). Usahanya pun berjalan sukses. Sayangnya, baru berjalan satu tahun para pembantunya mem-bawa kabur barang-barang ber-harganya. Anas pun menjadi pu-tus asa. Usahanya itu dia tinggal-kan dan mencoba usaha lainnya, namun tidak beruntung. Pilihan terakhir adalah berjualan kue.
Berbekal keterampilan membuat kue getuk, selanjutnya Anas mengajak kerja sama dengan beberapa tetangganya yang sudah lama membuat kue. Di tempat tinggal Anas memang banyak warga yang menjalankan usaha kecil-kecilan membuat kue dan dititip jual ke pedagang keliling dan titip ke warung. Bagi Anas, hal itu dianggap peluang. Singkat cerita, terkumpulah beraneka jenis kue yang dijajakan Anas sampai hari ini. Kue dia kumpulkan sejak pagi pukul 04.00 WIB.
Meskipun setiap hari pengunjung pasar rutin membeli kuenya, tapi tidak banyak yang tahu bahwa Anas berjemaat di Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara. Salah satu anaknya kuliah di salah satu universitas Katolik di Jawa Tengah.
Herbert Aritonang