BENARKAH kaum muda kini mengalami disoriented? Tentu saja tidak semua kaum muda. Masih cukup banyak kaum muda yang memiliki orientasi hidup yang jelas, berkualitas dan sukses menembus gelombang globalisasi yang sarat tantangan. Tapi harus di-akui sebagian besar kaum muda Indonesia terjebak dalam ketidakpastian pilihan hidup. Pemerhati kaum muda, MM Restu Hapsari, mengasalkan penyebab ketidakpastian itu dari adanya tantangan zaman yang menyebabkan kaum muda semuanya menghendaki yang serba instan.
Anggota pengurus Depar-temen Pemuda DPP PDIP ini melihat kenyataan itu tidak semata keinginan kaum muda sendiri. Menurut Restu, faktor penyebab paling kuat karena sistem kurikulum pendidikan kita yang memperbolehkan sistem kredit. Mahasiswa boleh kredit mata kuliah dengan berlan-daskan pada penghitungan SKS. Dalam satu semester, mahasiswa bisa mengambil sebanyak-banyaknya mata kuliah asal sanggup bayar.
Kini, lanjut Wakil Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih ini, untuk menyelesaikan program sarjana (S1) bisa ditempuh hanya 3,8 tahun. Tentunya dipastikan bahwa mahasiswa fokus belajar saja, sedangkan aktivitas lain yang menunjang perluasan wawasan diabaikan. “Sangat disayangkan. Mahasiswa itu harus sarat dengan cakrawala yang lebih luas,” tandasnya. Yang lebih memprihatinkan, lanjutnya, usai kuliah mereka malah bingung menentukan pekerjaan. “Seharusnya tamatan S1 itu tidak boleh nganggur. “Tapi kalau sampai nganggur maka kurikulum itu di-review,” lanjutnya.
Harapan
Oleh karena itu, Restu mengharapkan beberapa hal pada kaum muda Indonesia. Pertama, jadilah orang muda yang ideologis, yang paham tentang sejarah, politik, peta geografis Indonesia. Di benaknya harus paham bahwa Indonesia ini besar dan tantangannya juga besar. Sehingga mereka cerdas, kritis, dan berkemampuan untuk menghadapi suasana itu. Sebab kalau sempit berpikir tidak akan berkembang.
Yang kedua adalah komitmen. Hal ini ditekankan untuk menciptakan toleransi, kedamaian, dan mampu kerja sama dengan orang lain. Dan ketiga adalah kapasitas atau kualitas kaum muda. Itu amat penting di tengah Indonesia yang harus berhadapan dengan globalisasi. Kalau tidak punya nilai keunggulan diri tentu akhirnya kita hilang. Tidak akan kelihatan. Sebab prinsipnya orang akan kelihatan kalau dirinya punya poin unggul tertentu di antara yang lain. Stevie Agas