SEBAGAI ketua komisi kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Pastor Yohanes Dwi Harsanto menyadari sulitnya menemukan pola tepat kaderisasi terhadap kaum muda Katolik. “Kami sudah mencari terobosan baru yang relevan, tapi hingga kini belum ditemukan,” katanya. Walau begitu upaya pencarian tetap dilakukan mengingat pola kaderisasi yang relevan mendesak.
Selama ini, demikian Pastor Harsanto, kaderisasi tetap eksis tapi polanya masih tetap pola lama (tradisional) yang diulang-ulang. Pola yang dilakukan, misalnya dibuat acara sekian hari yang diberi judul kaderisasi. Usai acara itu, seolah-olah para peserta kemudian dianggap sudah lulus dan menjadi kader. “Nah, cara dan pemahaman seperti itu harus dirombak. Itu bukan kaderisasi namanya. Kaderisasi itu adalah pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan, dan bersinergi dengan seluruh elemen yang ada di dalam gereja,” jelasnya.
“Dimanjakan”
Belum ditemukannya pola kaderisasi yang sesuai, lanjut dia, bisa dimaklumi karena suasana pemerintahan Orde Baru (Orba) yang di satu sisi terkesan memanjakan gereja. Selama Orba, gereja merasa aman karena terlindungi. Gereja merasakan keberadaan dan perannya di dalam negeri ini. Dan gereja dimanjakan oleh situasi itu. Karenanya gereja nyaris tidak berpikir pola kaderisasi yang kreatif-inovatif. Kaderisasi memang tetap dilakukan tetapi mengarah kepada kemapanan tadi. Juga kadernya pun adalah kader lama.
Ketika orde reformasi bergulir dan gereja mendapat penganiayaan di mana-mana, barulah gereja sadar pentingnya kaderiasai kaum muda yang lebih menggigit perannya di masyarakat. Karena itu, sejak awal orde reformasi itu pula pernah dicoba menerapkan satu pola kaderisasi tertentu namun gagal karena kemudian dinilai tidak menjawabi kebutuhan.
Selain ditemukannya pola kaderisasi yang tepat, demi tercapainya peran optimal orang muda gereja di tengah masyarakat Pastor juga menambahkan perlu kerja sama yang mengakar antar gereja sendiri (bisa juga antara Katolik dan Protestan) dalam hal menyiapkan para kader itu. Sebab masalah yang dihadapi Indonesia ini kompleks, luas dan mendalam. Sebab itu, dalam menyiapkan kader-kadernya gereja harus bersinergi satu sama lain. “Selama ini gereja bekerja sendiri-sendiri dan tidak menampakkan sebagai satu tubuh Kristus di dunia ini,” ujarnya.
Hal lain yang ditegaskan Pator Harsanto bahwa yang namanya ka-derisasi itu sedikit jumlahnya. Masih banyak kaum muda yang tidak terlibat di dalamnya. Untuk mereka itu, mesti gereja arahkan ber-dasarkan minatnya. Dan para kader yang jumlahnya sedikit tadi harus menja-mah teman-teman-nya yang belum mengarah ke kehi-dupan sosial kemas-yarakatan atau yang imannya belum ko-koh. Sehingga nan-tinya semakin sesuai keinginan gereja yakni membentuk orang muda yang berkepribadian Kristen, muda dan Indonesia. Muda artinya tetap bersemangat belajar terus-menerus. Indonesia artinya dia sadar apa artinya hidup di negara NKRI yang plural, berPancasila. Stevie Agas