Potensi yang dimiliki pemuda sangat besar. Perlu diberikan kesempatan pelayanan yang lebih besar dan strategis lagi. KETIKA digelar perayaan-perayaan besar di gereja, bahkan ibadah Minggu, tak jarang para pemuda ditempatkan sebagai juru parkir, penjaga keamanan dalam dan luar gereja. “Itu jelas kurang pas,” kata Penatua Johan Tumanduk SH, MM., Sekretaris II Majelis Sinode GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat).
Menurut Ketua Dewan Pemuda tingkat sinodal GPIB (1995-2000) ini, pemuda harus diberikan peran yang lebih besar dan strategis. “Mereka punya banyak ide cemerlang, punya idealisme yang baik dan energi yang prima. Saya pikir mestinya dikasih ruang yang lebar di gereja,” katanya. Tentu, tambahnya, dengan pendam-pingan dan pencerahan secara berkesinambungan.
Pendampingan peran itu dilakukan baik dalam konteks ibadah maupun dalam tugas-tugas sosial yang suitainable atau berkelanjutan. “Kebiasaan-nya, aktivitas orang muda itu bersifat sporadis dan insidental misalnya bikin retret lalu selesai. Tapi kita sudah mulai memberikan mereka peran yang berkesinambungan.” Ia mencontohkan beberapa program yang sudah dilakukan seperti mamanej program pencegahan HIV/AIDS, lalu program radio serta pelayanan bantuan hukum. “Jadi mereka tidak hanya aktif di gereja untuk hura-hura kumpul, tapi juga sebagai partner atau mitra kerja gereja untuk hadirkan damai sejahtera itu secara serius,” katanya sambil menambahkan bahwa ketika dikasih peran, para pemuda melakukannya dengan sungguh.
Keseimbangan ritual dan aktual
Menurut Johan, pemuda GPIB diarahkan menjadi pendukung utama realisasi visi teologis GPIB yang ditetapkan pada 2005 silam yang lebih menekankan pada penghadiran damai sejahtera dalam seluruh keutuhan ciptaan. “Tadinya kita memang melayani kebutuhan internal seperti dalam Lukas 13: 29 yang menitikberatkan persekutuan. Tapi setelah 2005, titik tolaknya pada Roma 14: 17 yaitu menghadirkan damai sejahtera,” katanya.
Lantaran itu, gereja tidak hanya menunggu tapi bicara. Bukan hanya sebagai tempat pengu-dusan diri, tapi juga sebagai ruang kerja untuk menghadirkan damai sejahtera. Visi itu sudah direalisasikan misalnya dengan mendirikan beberapa unit misioner. Misalnya ada Pelayanan Bantuan Hukum GPIB, UP2M (Unit Pembinaan dan Pember-dayaan Masyarakat), gerakan “Save Our Nation” untuk HIV/AIDS dan Narkoba, dan program “Rise and Shine” melalui radio.
Gereja tak hanya melayani aspek ritual, tapi juga dimensi aktual. Melalui UP2M misalnya, para pakar pertanian yang berasal dari GPIB dikumpulkan dan membagikan keahliannya bagi para pendeta dan kader Kristen untuk mebentuk kelompok tani. “Jadi kita menginjili bukan secara verbal, tapi sudah mulai ada ibadah-ibadah aktual, sehingga sudah mulai ada pergumulan dan perjumpaan dengan apa yang menjadi needs di tengah masyarakat, termasuk untuk HIV AIDS,” jelas Johan.
Empat tonggak
Lalu bagaimana GPIB, khusus-nya bagian kepemudaannya, melakukan pembekalan bagi kaum mudanya? Johan menyebutkan empat tonggak atau aspek aktivitas utama yang dilakukan. Pertama, memiliki benteng iman yang teguh. Kepada mereka diperkenalkan ibadah secara doktrinal dibarengi penyesuaian yang lebih konstekstual. “Di GPIB sekarang sudah mulai diadakan ibadah yang lebih kontekstual dan bernuansa muda yang bisa memenuhi kebutuhan psikologis mereka,” jelas Johan. Selain melibatkan pemuda dalam ibadah resmi, juga ada retret dan pelatihan. Tujuannya, agar para pemuda memiliki spiritualitas yang baik di GPIB. “Jadi bukan sekadar datang ke gereja, duduk, ya dan amin. Tapi sekarang kita lagi mengisi spiritual, jadi mereka datang ke ibadah dalam keadaan paham, sehingga mereka mengerti dan mereka dalam keadaan bertumbuh dalam iman. Kita coba mereka punya ruang untuk ber-ekspresi, tapi tetap harus dalam bingkai GPIB.”
Kedua, mengantar pemuda untuk bersosialisasi, meng-hadirkan damai sejahtera dalam hubungan lintas agama. Dialog antara agama dibangun melalui aksi bersama, seperti melalui Bakti Sosial. “Itu sudah menjadi darahnya pemuda GPIB,” tukasnya. Ketiga, membangun wawasan kebangsaan. Untuk hal ini, Komisi Pemuda telah melakukan kerjasama dengan Akademi Leimena dalam pencerahan dan penyadaran politik pemuda. “Tujuannya, agar mereka tidak menjadi autis sosial,” tambahnya. Keempat, melakukan kaderisasi. Hal ini dilakukan berjenjang sesuai dengan tingkat umur mereka.
Untuk mengumpulkan kaum muda, GPIB sebenarnya sudah memiliki caranya sendiri. Antara lain melalui kegiatan sosial. “Kita punya ‘Sport, Worship and Praise’. Di situ ada futsal, ada ibadah penyegaran iman dan paduan suara,” jelasnya. Pola-pola hubungan pun semakin bervariasi oleh adanya teknologi. Lewat facebook, milis, juga melalui percakapan itu, hambatan komunikasi dan keterbelakangan satu dengan yang lain itu sekarang sudah sudah mulai cair. “Jadi sekarang kalau jemaat mau bicara dengan pimpinan tingkat sinode, kita tinggal internet-an dan sudah beres,” ujarnya.
Paul Makugoru