Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Alkitab yang Bersifat Satu dan Utuh

Posted : 01 Oktober 2009

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)

ALKITAB ini dibagi dalam dua bagian besar, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab dan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Isi Alkitab dapat dibagi secara substansial dan menurut subjek-subjek pokoknya.

Secara substansial, Alkitab adalah pesan-pesan Allah untuk diperhati-kan oleh manusia. Alkitab adalah perkataan Allah tentang diri-Nya sendiri dan tentang yang lain, se-perti alam semesta, iblis, malaikat, manusia, dosa, pengampuan dan keselamatan, serta tentang surga dan neraka.

Dari segi subjek atau tema, benang merah Alkitab sebenarnya berfokus pada keberadaan dan kar-ya Yesus Kristus sebagai klimaks-nya. Secara keseluruhan, pada ak-hirnya semua materi dalam Alkitab dapat dihubungkan dengan kebe-radaan Yesus Kristus, baik sebelum kedatangan-Nya ke dalam dunia (Perjanjian Lama), maupun setelah kedatangan-Nya (Perjanjian Baru). Ia adalah tokoh utama yang dibi-carakan dalam Alkitab. Ia dibicara-kan dalam kisah-kisah penciptaan, pemeliharaan ciptaan, dan dalam penyelamatan ciptaan. Surat Kolose 1:15-17 berpesan bahwa semuanya diciptakan oleh Yesus, di dalam Dia dan untuk-Nya. Ber-hubungan dengan posisi Yesus Kris-tus dalam konsep Allah Tritunggal, dipahami bahwa Yesus Kristus tidak secara spontan muncul dalam Perjanjian Baru melainkan sudah diperlihatkan dalam Perjanjian Lama. Yesus Kristus tidak dicipta-kan, tetapi menciptakan bersama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.
    
Perjanjian Lama
Perjanjian Lama dapat dibagi da-lam tiga kategori: Kitab-kitab Seja-rah, Kitab-kitab Pengajaran, dan Kitab-kitab Nubuat atau Apoka-liptik. Sejarah yang dimaksud di sini adalah karakteristik bagian-bagian Alkitab yang mengangkat nilai-nilai yang sangat bersejarah, yakni Kitab Kejadian hingga Kitab Tawarikh, meskipun Kitab Kejadian hingga Kitab Ulangan disebut juga sebagai Kitab-kitab Taurat. Pengajaran adalah sebagian dari kitab nabi-nabi, puisi-puisi dalam Alkitab, misal-nya kitab Ayub, Mazmur, Amsal, dll. Disebut pengajaran karena dalam penulisannya sengaja dibuat untuk tujuan mengajar umat untuk mela-kukan hal-hal yang bersifat sangat pokok dalam kehidupan mereka. Nubuat adalah kitab-kitab yang berisi dengan berbagai nubuat dan penyingkapan masa-masa yang belum terjadi di saat itu, seperti kedata-ngan Yesus Kristus di kemudian hari dan akhir zaman.

Perjanjian Lama memiliki nilai yang sangat tinggi. Tuhan Yesus Kristus dan para rasul sangat meng-hargainya. Pengajaran mereka bertolak dari Perjanjian Lama dan menjadikannya seba-gai landasan mutlak baik bagi pelayanan maupun dalam hidup sehari-hari. Perjanjian Lama merupakan sa-tu-satunya Kitab Suci yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus Kristus dan para rasul-Nya. Penulisan Perjan-jian Baru sangat banyak menggu-nakan Perjanjian Lama sebagai referensi utama.

Perjanjian Lama berisi banyak pe-lajaran berharga, misalnya tentang hikmat ilahi yang terdapat dalam Kitab Amsal. Hikmat dalam Kitab Amsal ini melebihi segala ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab lain yang ada di dunia ini. Hikmat illahi juga kita dapatkan melalui kisah-kisah yang diangkat dalam Alkitab.

Perjanjian Baru
 Disebut sebagai Perjanjian Baru karena sifatnya adalah menggenapi dan menyempurnakan Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, kita tidak dapat mempelajari Perjanjian Baru kalau tidak ada Perjanjian Lama. Sebaliknya, kita akan tersesat mempelajari Perjanjian Lama kalau tidak ada Perjanjian Baru. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang, yang menjadi resmi kalau dua-duanya ada.

Seperti halnya Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga dibagi dalam tiga kategori: Kitab-kitab Sejarah, Kitab-kitab Pengajaran, dan Kitab-kitab Nubuat atau Apokaliptik. Keempat Injil dan Kisah Para Rasul adalah kitab-kitab sejarah. Kitab pengajaran adalah Surat-surat para Rasul kepada jemaat-jemaat yang terdapat pada masa Perjanjian Baru. Contoh nubuat dapat dilihat dalam Kitab Wahyu, yang secara lang-sung berbicara tentang zaman akhir dan akhir zaman (eskatologi).
Perjanjian Baru mengandung nilai yang sangat tinggi. Ia mencatat sejarah awal kekristenan, bagai-mana gereja ada dan berkembang, menjelaskan bagaimana Allah menyelamatkan manusia serta menjelaskan pandangan teologi pada zaman itu dan nubuat me-ngenai akhir zaman. PB juga me-maparkan tentang adanya surga dan neraka serta penghukuman bagi orang durhaka. Memang tidak mudah bagi kita untuk membagi Perjanjan Baru (maupun Perjanjian Lama) berdasarkan tiga kategori ini, karena kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab nubuat juga hendak mengajar dan membimbing umat dalam kehidupan mereka.

    Sejarah tersusunnya Alki-tab disebut sebagai ’kanonisasi’. Kanonisasi adalah proses penga-kuan terhadap kitab-kitab yang dianggap patut untuk diga-bungkan dalam Alki-tab. Terdapat sangat banyak tulisan di se-panjang zaman Alkitab, tetapi tidak semuanya digabungkan ke dalam Alkitab. Kitab-kitab yang dianggap sangat mendu-kung Alkitab karena ber-bicara tentang hal yang sama dengan Alkitab sering disebut sebagai Apokrifa. Kitab-kitab ini bernilai sejarah yang tinggi dan memiliki nilai rohani tetapi tidak disetarakan dengan kitab-kitab yang sudah ada di dalam Alkitab.

Katolik Roma juga memakai kitab-kitab Apokrifa ini, yang dise-but sebagai Deutro-kanonika, na-mun ada kalanya mereka meng-anggapnya setara dengan Alkitab. Para reformator gereja, termasuk Martin Luther, tidak setuju me-nambahkan Apokrifa ke dalam Alki-tab, melainkan hanya mengang-gapnya sebagai kitab tambahan untuk tulisan yang dianggap penting (referensi) di luar Alkitab.

Ada tiga alasan mengapa para reformator gereja tidak menerima Apokrifa sebagai tulisan yang setara dengan Alkitab. Pertama, mereka tidak menemukan Apokrifa terse-but dalam kanon Ibrani, sekalipun dengan tulisan-tulisan lain yang sezaman dan mirip dengan PL. Kedua, Tuhan Yesus mendasarkan pengajarannya hanya pada PL, tetapi tidak pernah mengutip per-nyataan dari kitab Apokrifa ini. Ketiga, hal yang sama juga dilaku-kan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru.

Lalu, bagaimana PL dan PB menjadi satu kumpulan kitab yang dinamakan Alkitab. Memang sangat jelas bagi kita dan harus diakui bahwa Tuhanlah yang me-nuntun orang percaya sehingga Alkitab terkumpul sedemikian rupa karena tidak ada suatu lembaga sepanjang sejarah yang secara khusus menjadi tim yang meredaksi Alkitab ini. Perlu juga dilihat betapa sistematisnya susunan Alkitab ini. Semua itu diakui sebagai hasil karya Roh Kudus yang menggerakkan para ahli-ahli kitab dan tokoh-tokoh gereja selanjutnya.

Bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tertulis yang tidak memiliki kesalahan dan memiliki otoritas yang sangat tinggi, diwahyukan, diilhamkan dan oleh inspirasi Roh Kudus. Bukti-bukti bahwa ia adalah firman Allah terdapat dalam dirinya dan bagaimana ia tetap eksis atau bertahan dalam bentangan sejarah umat percaya. Alkitab melebihi ki-tab-kitab manapun yang dijadikan sebagai kitab suci karena ia bukan saja memberikan hikmat dan ditulis dalam kurun waktu kurang lebih 1600 tahun, tetapi ia adalah kitab tentang keselamatan manusia dan tentang sejarah penyelamatan oleh Allah, yang puncaknya adalah karya penyelamatan oleh Yesus Kristus.

*Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern  (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).

54
28 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 4.0395 sec | TOP
Online Support :