DALAM satu kesempatan wawancara khusus yang dilakukan REFORMATA, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M. Ismail Yusanto mene-gaskan bahwa Islam sangat menyadari keberagaman (agama) masyarakat dunia, dan Indonesia pada khususnya. Kesadaran kebe-ragaman itu, lanjutnya, bukan baru hasil dari perenungan tentang realitas perkembangan masyarakat dewasa ini. “Sudah dari awal Islam mengakui adanya pluralitas masya-rakat. Itu adalah sebuah kenya-taan masyarakat sebagai akibat perbedaan pilihan bebas akan keyakinannya,” katanya.
Seiring dengan adanya kesada-ran keberagaman itu, Ismail me-ngatakan bahwa Islam adalah aga-ma yang memberi kebebasan pe-nuh pada setiap orang untuk menentukan pilihan keyakinannya. Ia mengatakan itu bersumber dari kutipan salah satu ayat di dalam Al-Quran. “Dalam Al-Quran ada ayat yang berbunyi, “Siapa yang memilih beriman, silahkan dan siapa yang tidak memilih beriman, juga silahkan”. Nah, itu menunjukkan dari Allah,” katanya.
Pilihan manusia, lanjut Ismail, memang bisa berbeda, sebab penentuan keyakinan itu tidak bisa dipaksakan kepada siapa pun juga. Menentukan keputusan keyakinan itu sifatnya subyektif. “Dasar-dasar iman memang obyektif, tapi kepu-tusannya kan subyektif. Ber-gantung pada orang yang ber-sangkutan. Tapi yang paling penting adalah bahwa yang bersangkutan itu menyadari konsekuensi dari pilihan itu,” tegasnya. Jadi, lanjut dia, ketika Al-Quran mengatakan, “Siapa yang memilih beriman, silahkan dan siapa yang memilih tidak beriman, juga silahkan”, sebenarnya terkandung be-berapa pengertian. Yang per-tama, bahwa konsekuensi dari pilihan itu haruslah disadari. Kemudian pengertian kedua, setelah disadari perbedaan pilihan-pilihan beriman tadi, maka pasti di tengah masyara-kat akan ditemukan banyak ragam keyakinan. Karena memang, beriman itu adalah pilihan.
Nah, masyarakat plural itu, hanya mungkin terwujud bila ada toleransi. Toleransi itu inheren di dalam ajaran agama Islam. “Kalau tidak toleran, mustahil ada masya-rakat plural, kan?” tanyanya yakin. Bersikap toleransi ini juga menda-pat dasarnya di dalam Al-Quran. “Bagiku agamaku, bagimu aga-mamu”, demikian Ismail mengutip ayat Al-Quran itu. Ka-rena itu, yang ketiga, berdasarkan pengakuan adanya ajaran toleransi itu, Ismail menegaskan bahwa Islam tidak pernah memaksakan suatu keya-kinan kepada orang lain. Islam juga tidak pernah dan tidak boleh me-nekan atau mengekang kegiatan keagamaan lain di luar Islam.
Toleransi Islam, lanjut Ismail, terejawantah dalam upaya men-jamin ketenteraman agama lain dalam menjalankan hak periba-datannya dan pelarangan melakukan tindakan perusa-kan terhadap tempat ibadah-nya. “Secara teknis, toleransi di dalam Islam seperti, tidak diperkenankan menghadang agama lain beribadah, meng-hindari perusakan gereja-gereja, dan tempat ibadah agama minoritas lainnya, tidak boleh mencela Tuhan yang diyakini agama lain semisal mencela patung Buddha, Katolik. Bahkan jihad juga tidak boleh dijadikan objek perang,” ujarnya.
Bukan pengakuan iman
Meski Islam mengajarkan toleransi, Ismail menegaskan bahwa toleransi yang diajar-kan di dalam Islam itu tidak berarti sekaligus memuat pe-ngakuan iman yang diyakini di dalam agama-agama lain itu. Dalam arti ini, Islam menolak paham pluralisme. “Karena kalau Islam me-ngakui pluralisme berarti meng-anggap semua agama itu benar,” katanya sembari menambahkan bahwa alasan penolakan kebena-ran agama lain itu karena satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah itu hanyalah Islam.
Ismail mengatakan, toleransi yang dinyatakan Islam ada batas-nya. Ada beberapa hal yang sebe-narnya bertentangan dengan iman Islam untuk beberapa kegiatan bersama sebagaimana yang sering dilakukan antarpimpinan agama selama ini. Ia menyebutkan bebe-rapa contoh toleransi yang salah, seperti Natal bersama tingkat nasional yang dihadiri pemerintah beragama Islam, tokoh-tokoh Islam, digelar doa bersama antar-pemuka agama-agama, dan lain-lain. “Islam tidak boleh mengada-kan doa bersama atau Natal ber-sama. Bagi Islam, Natal bersama itu haram. Juga doa bersama antar-pemuka agama bukan wujud tole-ransi dalam ajaran Islam,” jelasnya.
Terhadap apa yang telah dilaku-kan selama ini untuk beberapa kegiatan bersama yang disebut tadi, Ismail menilai itu toleransi yang sudah kebablasan. Toleransi yang menyalahi ajaran Islam. Karena dalam pandangan Islam, doa itu dilakukan atas dasar iman. “Kalau orang lain kan tidak beriman kepada Allah. Karena itu, kalau mau berdoa, ya berdoa sendiri-sendiri saja. Mengapa harus berdoa ber-sama-sama,” katanya. Jadi, lanjut-nya, toleransi itu tidak bisa dilaku-kan dengan cara melanggar keya-kinan agamanya sendiri.
Stevie Agas