Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Dagangannya dijamin Halal

Posted : 29 September 2009
Leli Taruli Sihombing
 
WARUNG kopi di pemukiman padat, Jalan Maduratna, Kelurahan Rawabadak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, tak pernah sepi dari pengunjung yang rata-rata pria dewasa. Di sana mereka asyik ngobrol sambil minum kopi. Sebagian serius bermain catur. Pukul 06.30, saat warung baku dibuka, sudah tampak para langganan memasuki warung milik Leli Taruli Sihombing tersebut.

Perempuan yang masih berusia 34 itu terlihat sibuk mengantar makanan yang dipesan para pelanggan itu. Leli—demikian perempuan berdarah Batak ini disapa—juga menjual lontong sayur dan beberapa gorengan. Warga sekitar juga sering membeli lontong sayur jualan Leli itu untuk sarapan pagi. Rata-rata warga yang biasa membeli mengaku kalau lontong sayur buatan Leli itu enak dan lezat. Aromanya saja sudah mengundang selera.


Maka bagi yang ingin mencicipi lontong itu, jangan terlambat datang, sebab biasanya sebelum pukul 08.00 sudah habis. “Kadang banyak yang membeli. Jadi cepat habis,” kata ibu dua anak bernama Jose dan Jodi ini. Jenis makanan lain yang dijualnya seperti mie gomak juga digemari banyak pelanggan.
Bulan puasa seperti saat ini, memberi berkat tersendiri bagi Leli. Pada umumnya, saat itu para penjual nasi nasi uduk yang cukup banyak di wilayah itu, untuk sementara tidak berjualan. Akhirnya lontong Leli pun diburu orang-orang yang tidak ikut berpuasa, yang biasa sarapan pagi dengan makan dengan nasi uduk. “Walau bukan bulan puasa ramai juga,” akunya senang.

Demi sekolah anak
Di tengah situasi yang makin sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan kebutuhan hidup yang makin mahal, Leli tak punya pilihan lain selain membuka warung makanan. Dia mengaku, tak ingin berpangku tangan di rumah dengan hanya mengurus kedua anaknya. Penghasilan suaminya, Hotma Sinaga, sebagai kondektur bus dirasa tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup yang semakin membengkak. “Kebutuhan kami sangat mendesak. Bagaimana pun masa depan anak-anak harus diutamakan agar nasib mereka lebih baik dari kami. Kami tidak ingin hidup mereka kelak seperti kami. Makanya, kami berusaha mencari uang sekuat tenaga agar anak-anak bisa sekolah lebih tinggi lagi dan kelak bisa mendapat pekerjaan yang layak,” kata perempuan lulusan SMEA ini.


Sebagai orang Batak, Kristen pula, Leli menyadari sangat riskan berjualan makanan di tengah masyarakat yang mayoritas beragama lain. Sebab bukan tidak mungkin ada yang menganggap bahwa makanannya mengandung minyak babi. Tidak mengherankan jika sejak dua tahun membuka warung makanan itu, tak jarang pembeli yang beragama non-Kristen menanyakan dulu apakah makanan itu halal bagi mereka. Setelah yakin bahwa makanan itu halal, tidak mengandung unsur babi, mereka pun sering membeli.
Saking peduli terhadap masa depan anak-anaknya, perempuan kelahiran Jakarta, 3 September 1975, ini membuka warung minuman ringan khusus untuk anak-anak. Setiap hari, tenaganya terkuras dengan dua warung kecil yang dia rintis. Tentu, pekerjaan yang dilakoni cukup melelahkan lantaran Leli mulai menyiapkan dagangannya dari pukul 05.00 sampai malam pukul 21.00. “Keuntungan yang bisa dibawa pulang setiap hari hanya Rp 30 ribu saja,” kata Leli yang pernah bercita-cita sebagai sekretaris ini.
Yang paling utama bagi Leli adalah dirinya tak lupa bersyukur kepada Tuhan Yesus masih memberikan kesehatan kepada keluarganya sehingga masing-masing masih bisa beraktivitas. Kesibukannya yang luar biasa membuat jemaat HKBP Tanjungpriok, Jakarta Utara, ini sampai lupa hari ulang tahunnya. 
  Herbert Aritonang



75
15 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.841 sec | TOP
Online Support :