Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Teror dan Intimidasi Karena Ikut Yesus

Posted : 29 September 2009

Asroni Timotius, Penjual Buku

Barang siapa ikut Yesus, wajib hukumnya memikul salib. Asroni Timotius (67) pun harus menerima cobaan berat. Dalam usia yang sudah di ambang senja, dia bukan hanya diajuhi keluarga, namun juga kerap mendapat ancaman. 

BAGI yang baru pertama kali berkunjung ke rumah Asroni, pasti kesulitan mencari alamatnya. Tempat tinggalnya di bilangan Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat itu memang merupakan pemukiman padat. REFORMATA bahkan sempat kesasar saking banyaknya rumah, apalagi jalan setapak selebar satu meter yang ada di daerah itu pun berkelok-kelok.
Roni tinggal sendiri di rumahnya yang kecil, bersebelahan dengan rumah istrinya, Roni tidak serumah lagi dengan istri keduanya ini sejak dirinya memutuskan untuk menjadi Kristen se-jati. Sebenarnya, Roni yang lahir di Se-marang, Jawa Te-ngah, pada 25 November 1942, su-dah menerima Ye-sus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dia dibaptis pada 1967, atau saat dirinya berusia 25, dan berstatus lajang. Namun kehi-dupan dan perilakunya saat itu tidak men-cerminkan sebagai se-orang Kristen. Buktinya pada 1974 dia malah menikahi gadis yang bukan Kristen, berda-sarkan tatacara agama (calon) istri. Dengan istri pertamanya ini, Roni memiliki dua anak.

Setelah menikah, istri pertama tinggal di Slawi bersama anak-anak mereka, sementara Roni, yang merupakan anggota militer berpangkat kopral satu, bertugas di Jakarta. Jauh dari keluarga, agaknya membuat Roni kurang mampu melawan godaan. Dia berselingkuh dengan seorang janda beranak tiga. Setelah mengetahui perselingkuhan ini, istri pertama menceraikannya. Sedang-kan Roni akhirnya menikah dengan janda beranak tiga tersebut. Dari pernikahannya yang kedua ini Roni dikaruniai seorang anak laki-laki.
Dalam usia 39 tahun, Roni minta pensiun dini dari dinas kemiliteran karena merasa bahwa pangkatnya tidak bakal naik lagi. Maklum ijazah-nya cuma sekolah rakyat (SR). Keluar dari dinas ketentaraan, Roni sempat bekerja di beberapa tempat, salah satunya toko buku. Setelah usianya makin menua, Roni menjual buku, majalah, tabloid, dan kaset rohani Kristen. Dia juga suka berkeliling ke berbagai tempat menawarkan beraneka jenis makanan ringan seperti kripik, getuk, kroket dan makanan lainnya.
Kini, di kala usia telah senja, dia memilih aktivitas berjualan buku setiap hari Jumat dan Sabtu. Dia membawa barang-barang dagang-annya tersebut dengan sepeda motor miliknya. Kadang dia juga memanfaatkan waktu luang sebagai tukang ojek. Hari-hari lain digunakan untuk beristirahat di rumah.

Sejak pisah rumah dari istri kedua, rasa cemas selalu meng-hantui Roni. Pasalnya, salah seorang anak tirinya, laki-laki berusia 30, suka meneror dengan bermacam cara. Setiap pergi atau pulang ke rumah, Roni sering dicegat di tengah jalan atau di gang-gang dekat rumah. “Saya sering ditantang berkelahi. Sudah tua begini diajak berantem. Saya sering dimaki oleh dia dan saudaranya yang lain. Sampai sekarang mereka masih bikin masalah ke saya. Saya memilih diam saja,” kata Roni sambil menarik nafas panjang. Roni diteror agar segera angkat kaki dari rumahnya. Rumah yang sekarang dia tempati itu dulu memang milik mertuanya, namun sudah dia beli sejak 10 tahun lalu. Sanak saudara istrinya yang tinggal di lingkungan itu kerap mengintimidasi. Memang banyak pihak yang tidak senang Roni berpindah keyakinan. Keputusan untuk mengikuti Juru Selamat memang membuat jiwanya sering terancam. Meski tidak merasa betah, tapi dia pasrah saja tinggal di rumahnya itu.

Penderitaan Roni tidak hanya tekanan fisik. Bermacam ilmu hitam dan santet sering dikirimkan ke dirinya. Roni mengaku, jika dirinya tidak memiliki Yesus maka hidupnya bisa hancur. “Serangan mereka bukan dari depan, tapi dari belakang. Saya diminta seorang pendeta harus berani bertahan karena bersama Yesus akan mendapat kemenangan. Kalau saya tidak bersama Yesus, saya lebih memilih lari meninggalkan tempat ini,” katanya. Dulu, ia pernah mempelajari ilmu gaib. Karena itulah, dia mengetahui niat jahat keluarga dan saudara tirinya ingin membunuh dia melalui ilmu hitam. “Dari keluarga mereka juga ada yang dukun dari Banten. Sampai sekarang santet itu sering datang,” ungkap pria bernama lengkap Asroni Timotius Suyitno ini.

Benih kepercayaan
Roni sadar, jika dia meninggalkan iman lama, nyawanya menjadi taruhan. Banyak cerita yang dia dengar seputar orang-orang non-Kristen yang mendapat anugerah mengenal dan menerima Yesus, hidupnya jadi teraniaya. Dia sudah banyak mendengar  kisah tentang orang-orang yang tadinya menguasai kitab suci, malah akhirnya memilih Yesus. Hal ini secara nalar manusia sangat tidak masuk akal. “Mestinya mereka (ahli agama itu—Red) lebih teguh imannya, dan tidak bakal pindah keyakinan. Saya memang melihat banyak keganjilan di kitab suci yang dulu pernah saya yakini. Sekarang saya mengerti mengapa banyak orang akhirnya meyakini ajaran Yesus sebagai jalan yang benar,” ungkapnya.
Sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah Roni mengikuti pendidikan di sekolah Kristen. Namun, menurutnya, bukan itu faktor utama dia pindah keyakinan. Sejak dia merantau ke sejumlah daerah dan tinggal di keluarga Kristen, mulai ada benih untuk beralih kepercayaan. Setelah melalui berbagai pergumulan iman, dia pun memutuskan untuk menerima Yesus.
Seperti dikatakan di atas, kendati sudah menjadi penganut Kristen, perilaku Roni tak mencerminkan kekristenan. Dia masih tergoda dengan kehidupan duniawi. Buktinya, istri pertamanya bukan Kristen, dan dia menikahinya berdasarkan tatacara agama (calon) istrinya itu. Setelah punya dua anak dia bercerai dari istri pertama. Dengan istri keduanya  pun dia menikah berdasarkan aturan agama lain.  

Bertobat
Pada 1984, Roni akhirnya bertobat penuh dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan Yesus. Sejak itu hubungan Roni dengan istri kedua merenggang, sampai akhirnya mereka pisah rumah. Selanjutnya, Roni menuntut ilmu teologi di sebuah sekolah Alkitab.
Rasa syukur selalu meluap dari batin Roni tiap kali mengenang masa lalunya yang kelam, hidup tanpa memiliki Yesus. “Keselamatan hidup kekal sudah saya genggam. Andai saya masih menganut agama lama, saya akan tinggal di neraka selamanya,” katanya yakin.
Herbert Aritonang

62
28 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 5.6042 sec | TOP
Online Support :