Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Bertahan Dalam Segala Situasi

Posted : 29 September 2009
SEJAK dulu, Jalan Surabaya, Menteng,   Jakarta Pusat, terkenal sebagai tempat belanja barang antik yang kualitasnya masih sangat bagus. Tidak banyak yang tahu pasti kapan pasar antik itu mulai beroperasi. Namun para pedagang memprediksi pasar yang menyajikan segala sesuatu yang antik ini sudah ada sejak 30 sampai 40 tahun yang lalu, atau sekitar tahun 1960-an. Dari data yang kami himpun ditemukan bahwa sebelumnya, pasar ini meru-pakan pasar loak yang men-jual barang-barang bekas seperti baju, celana, kipas angin, dan barang bekas lainnya. Namun, sejak tahun 1971, para pedagang di pasar ini sudah banyak yang menjual barang antik, seperti alat-alat perlengkapan kapal berupa, teropong, kompas, lampu, setir kapal, guci, porselin, sampai keramik yang berasal dari luar negeri.
Yutan Siregar adalah salah seorang pedagang di kawasan tersebut. Ayah dari satu orang putra ini berjualan berbagai pernak-pernik dan beraneka macam barang. Mulai dari aksesoris, perhiasan ruangan, lampu hias, patung antik, sampai senjata antik. Ia mengatakan bahwa usaha berdagang barang antik ini mulai ia geluti sejak dua sampai tiga tahun terakhir. Usaha ini adalah “warisan” orang tuanya yang sudah lama berdagang di sana. Kebetulan dulu ia sering membantu orang tuanya berjualan di tempat ini. Pengalaman membantu orang tuanya inilah yang menjadi modal keterampilan dalam menjalankan usaha berdagang barang antik ini.

Barang-barang yang ia jual biasanya diantar oleh orang dari luar kota seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.. Menurutnya setiap orang yang membawa barang dari luar kota sudah mengetahui bahwa pasar di Jalan Surabaya ini siap menampung barang apa saja, khusunya barang antik dari mana saja. Karena itu siapa pun yang hendak menjual  barang antik miliknya, datanglah ke Jalan Surabaya ini. Jadi ia tidak perlu repot-repot mencari stok dagangannya karena sudah pasti ada yang menghantarkan barang tersebut.

Penghasilan satu setengah sampai dua juta perbulan tampaknya memang tergolong kecil jika dibanding dengan penghasilan dulu sebelum krisis. Saat ini pengunjung sering sepi. Tapi itu tidak membuat ia lemah semangat untuk tetap menjalankan usaha ini. Menurutnya ia tidak ingin berpindah usaha karena tentu perlu belajar dari awal lagi jika harus beralih usaha. Selain itu tentu diperlukan tempat untuk usaha yang baru, sementara persoalan tempat usaha di Jakarta bukanlah sesuatu hal yang mudah. Ia menegaskan bahwa apa pun usaha yang kita jalankan yang penting adalah keyakinan, usaha yang gigih dan doa. Pria yang biasa beribadah di HKBP Poltangan, Pasar Minggu ini pun mengatakan bahwa perlu cinta dalam berusaha. Jika kita tidak mencintai usaha yang kita jalankan maka tidak ada gunanya usaha itu dipertahankan.

Usaha seperti ini pun harus berurusan dengan pengen-dalian diri. Kesabaran ekstra perlu dimiliki dalam berdagang barang-barang antik. Hal ini dikarenakan peminatnya tentu berasal dari segala kalangan. Situasi semacam ini memer-lukan kesabaran ketika harus menunggui toko miliknya tanpa dikunjungi pembeli. Lebih penting lagi adalah bagaimana mengatur perekonomian ke-luarga sendiri, jika situasi pasar sepi maka ekonomi keluarga di rumah pun harus belajar untuk turut  menyesuaikan diri dengan situasi sulit tersebut. Namun di balik itu semua, Yutan selalu memiliki sikap percaya pada Tuhan bahwa tidak ada umat-Nya yang sudah berusaha keras dibiarkannya begitu saja, “Tuhan pasti kasih berkat”, ujarnya.

Menurutnya sebagian besar pelanggannya berasal dari kalangan turis mancanegara. Untuk itu ia pun harus pintar-pintar berkomunikasi dengan mereka. Karena dalam urusan jual-beli tentu diperlukan teknik negosiasi yang baik agar dapat menarik pelanggan dan tetap memperoleh keuntungan tentunya. Para turis asing ini umumnya membeli barang-barang, seperti porselin dan guci dari Cina. Namun, banyak juga yang membeli barang antik berupa peralatan kapal, seperti kompas, teropong nahkoda, helm untuk berenang, patung antik, senjata antik, lampu hias hingga setir kapal.

 Harga yang ia tawarkan kepada pelanggan pun cukup bervariasi, tergantung ari jenisnya, harga yang ia tawarkan berkisar antara puluhan ribu rupiah sampai jutaan rupiah. Situasi pasar yang sepi tampaknya melemahkan para pedagang barang antik di kawasan ini. Namun bagi Yutan situasi itu adalah bagian dari tantangan dalam usaha. Yutan ingin tetap bertahan dan berjuang gigih dalam menjalankan usahanya ini. Menurut data yang ada, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini sedang mengkaji apakah ada ke-mungkinan untuk merelokasi pedagang barang antik di jalan Surabaya untuk dipin-dahkan ke kawasan Kota Tua, hal ini dimaksudkan untuk mensinergiskan Kota Tua dan barang antik tam-paknya cocok. Tetapi bagai-manapun juga Jalan Sura-baya telah menjadi ikon tempat penjualan barang-barang antik.
 Jenda

63
29 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.7762 sec | TOP
Online Support :