Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
Kesempatan Bertumbuh Saat yang paling sulit bagi orang Kristen dalam proses bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan dalam menjalankan kesa-lehannya adalah di saat datangnya pencobaan-pencobaan. Penco-baan dalam istilah Yunani (peiras-mos) mencakup makna ujian ter-hadap keyakinan iman seseorang, terhadap integritasnya, sikap dan pikirannya, kebijaksanaannya, karakternya, ketahanan mental-nya, pencobaan itu bisa muncul dari diri sendiri atau dari luar dirinya, termasuk dari setan. Seringkali orang Kristen jatuh dalam dosa saat berhadapan dengan pencobaan-pencobaan, dan saat seperti itulah yang seringkali menyebabkan kegagalan pertumbuhan iman dan karakter orang Kristen. Padahal setiap situasi dalam hidup ini selalu mengandung kemungkinan mun-culnya pencobaan. Saat-saat krisis, gagal maupun sukses dan berke-menangan bahkan dalam kenya-manan dapat menjadi momen-momen pencobaan yang paling menjatuhkan.
Namun setiap pencobaan se-sungguhnya juga merupakan kesempatan bagi orang Kristen untuk bertumbuh semakin kuat dan semakin dewasa dalam kero-haniaannya seperti tertulis dalam Yakobus 1: 2-4, “Saudara-sauda-raku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai penco-baan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu meng-hasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
Kebanyakan orang hanya meli-hat pencobaan sebagai suatu kesu-litan dan beban yang membe-ratkan hidup namun Yakobus me-ngajarkan suatu cara yang positif dalam memandang dan menerima pencobaan dengan sukacita sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh. Menerima berbagai pencobaan dengan sukacita tidak-lah mudah dan hanya dapat dialami jika kita taat pada Allah dan melihat bahwa pencobaan adalah alat yang disediakan Allah untuk mem-proses kedewasaan kita mencapai kesempurnaan.
Megaphone Tuhan
Pencobaan, kesulitan dan pen-deritaan hidup seringkali merupa-kan alat yang paling efektif untuk mengubah hidup seseorang. CS. Lewis dalam bukunya “The Problem of Pain” menuliskan bahwa “Roh manusia tidak akan mau me-nyerahkan keakuannya selama ia merasa nyaman dengan keakuan-nya.” Selanjutnya ia menuliskan “Kita tidak bisa tetap tenang di tengah dosa-dosa dan kebebalan kita… namun penderitaan memak-sa kita memperhatikannya. Allah berbisik kepada kita di tengah kesenangan kita, berbicara dalam hati nurani kita, tetapi Ia berteriak dalam penderitaan kita: inilah pengeras suara raksasa untuk menyadarkan dunia yang tuli.”
Megaphone raksasa dari Allah seringkali sangat mengerikan, tetapi seringkali juga merupakan satu-satunya alat yang dapat membangunkan kesadaran kita dari ketertiduran yang mengha-nyutkan. Kita tentu tahu betapa sulitnya berpaling kepada Allah ketika kita sangat fokus pada ambisi-ambisi duniawi dan ketika nafsu dosa begitu menguasai kita, saat seperti itu kita menganggap Allah hanya pengganggu kesena-ngan kita. Kita sulit melihat bahwa Allah sedang hadir dalam segala macam penderitaan kita, dan kehadiran Allah itu sesungguhnya ingin menolong dan memberkati kita, namun seperti kata Agustinus dalam “The City of God”: “Allah ingin memberi sesuatu kepada kita, tetapi tidak bisa, sebab tangan kita sudah penuh – tidak ada tempat bagi-Nya untuk menaruhnya.”
Munculnya masalah, penyakit, penderitaan dan datangnya ben-cana (gempa, dll) seringkali menjadi lonceng besar yang mampu mem-bawa manusia kembali kepada Allah. Sekalipun menyakitkan namun mampu menghantar kita pada per-tobatan dan membawa kita pada kesadaran makna hidup yang se-sungguhnya, menegaskan bahwa kita tidak bisa mengatur hidup kita menurut kemauan kita sendiri. Allah berdaulat dan dalam kedaulatan-Nya pun Ia berniat untuk menolong dan menyelamatkan manusia kita dari kebinasaan. Rasul Paulus me-nguatkan kita agar kita bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menim-bulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. (Roma 5: 3-4).
Pemurnian Iman
Sesungguhnya Allah mengijinkan pencobaan dan penderitaan untuk suatu tujuan pertumbuhan, untuk menyucikan setiap aspek kehidu-pan kita (2 tim 2:21; Kol 3:12). Rick Warren dalam “Purpose Driven Life” megatakan: “Semua masalah merupakan kesempatan untuk membangun karakter, dan semakin sulit masalahnya, semakin besar potensi untuk membangun otot-otot rohani dan serat-serat moral kita.” Kesuksesan dan kegagalan besar tidak terjadi dalam semalam, setiap kesuksesan dan kegagalan besar merupakan kumpulan dari kesuksesan atau kegagalan kecil yang ditumpuk setiap hari. Hanya orang tekun yang akan melewati pencobaan dalam kemenangan, ketekunan yang tinggi sangat dibu-tuhkan untuk menghadapi penco-baan-pencobaan sehingga menca-pai kematangan. Karena Allah ingin menjadikan semua anak-Nya men-jadi serupa dengan Kristus, maka Allah pun akan memakai pengala-man hidup yang penuh tantangan dan kesulitan untuk membentuk kerohanian kita.
Namun pencobaan dan penderi-taan tidak secara otomatis meng-hasilkan perubahan dan pertum-buhan karakter. Banyak orang yang telah megalami dan melalui pende-ritaan yang sangat berat dalam hidupnya, namun tidak mengalami perubahan berarti dalam keroha-niannya. Hal penting yang perlu diperhatikan ketika kita mengalami pencobaan dan penderitaan adalah tetap berjalan di sisi Allah, meren-dahkan diri di hadapanTuhan dan sesama, menyerahkan diri terbuka pada kehendak Tuhan, berinte-raksi dengan Firman-Nya dan terus-menerus bergaul dengan Allah dalam doa (1Pet 4:19).
Dengan tetap fokus pada ren-cana Allah dan proses yang dise-diakan Allah untuk membentuk kita, kita pun harus melihat jauh ke depan sebagaimana diajarkan Paulus: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Kor 4:17-18). Tidak ada pen-deritaan yang menyenangkan namun Alkitab selalu memberikan harapan yang teguh dan positif. Petrus pun menegaskan agar orang Kristen bergembira menerima berbagai-bagai pencobaan, se-muanya itu dimaksudkan untuk membuktikan kemurnian iman kita yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji ke-murniannya dengan api…” (1 Pet 1:6-7).
Emas murni diperoleh melalui proses pembakaran yang ber-ulang-ulang hingga orang bisa ber-cermin padanya setelah pembaka-ran sempurna. Apabila orang-orang Kristen telah dimurnikan me-lalui pencobaan dan penderitaan, maka orang-orang akan dapat melihat bayangan karakter Kristus di dalam hidupnya. Jangan meng-hindar dari masalah dan kesulitan hidup atau menyerah ketika Anda mengalami penderitaan yang sulit, terkadang maksud Allah terlihat jelas pada proses yang panjang. Yusuf seorang pribadi unik dan menarik yang mengalami banyak penderitaan dan ketidakadilan dalam hidupnya, namun ia setia dan taat pada Allah. Dalam pen-cobaan dan penderitaannya, ia mampu menangkap maksud Allah di dalam penderitaanya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk ke-baikan..” (Kej. 50: 20). Pende-ritaan itu sifatnya hanya semen-tara, sehingga kita tidak boleh menyerah, karena Allah selalu me-nyertai kita, seperti kata pemaz-mur: “…tidak untuk selama-lama-nya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Maz. 55: 23).
Puji Tuhan! Orang Kristen di seluruh dunia memiliki ayat yang sangat menghibur ketika meng-alami pencobaan dan penderitaan: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pen-cobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melam-paui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Kor. 10:13). Soli Deo Gloria.v
Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.