Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Daily News

Pendidikan Agama Kristen Bukan Prioritas

Posted : 06 Agustus 2010
6.8.-anak-sekolah-300x215.jpg
Ilustrasi: Presiden SBY Dan Ibu Ani Menyapa Siswa

Reformata.com – JUMAT, 6 Agustus 2010, sekitar pukul 11.30, sebuah sekolah dasar negeri (SDN) di daerah Menteng, Jakarta Pusat baru saja selesai merayakan Isra Mi’raj. Pada jam yang sama, siswa yang beragama Kristen akan menerima Pelajaran Agama Kristen (PAK) di kelas yang sudah ditentukan. Guru agama Kristen pun sudah datang.

Lalu seorang ibu guru berkerudung menghampiri guru agama Kristen tersebut, dan dengan senyum ramah berkata, “Selamat siang Pak, maaf siswa-siswa Kristen yang akan Bapak ajari telah pulang lebih dulu. Saya lupa mengingatkan mereka selesai perayaan. Silahkan Bapak ke ruang Kepala Sekolah saja,” tutur wanita itu dengan ramahnya, sambil mempersilahkan guru tersebut duduk.

Lima menit kemudian, dua guru mewakili kepala sekolah, menyampaikan kepada guru honor agama Kristen tersebut. bahwa sebenarnya, sekolah memutuskan tidak akan ada lagi pelajaran agama Kristen di sekolah itu. Alasan pertama, sekolah tidak punya dana untuk membayar guru khusus untuk PAK. Kedua, jumlah anak-anak tidak mencapai jumlah minimal (20). Menurut ketentuan pusat, PAK akan berlangsung jika minimal ada 20 siswa. Ketiga, pihak orang tua mau menanggulangi pembiayaan untuk PAK, tapi kami takut ditegur pemerintah jika kedapatan ada pemungutan biaya di luar sekolah.

Penjelasan itu disampaikan dengan kesan terburu-buru.

Guru honor itu lantas menimpali, “Jika sekolah kesulitan dana, maka dengan sukarela saya akan mengajari anak-anak tersebut. Tak perlu dibayar. Kasihan jika anak-anak itu harus diabaikan, hanya karena dana yang tidak mencukupi”. Perwakilan kepsek itu menimpali, “Keputusan ada pada Kepsek, akan kami sampaikan”.

Sengaja ditiadakan?

Tidak ada dukungan sepenuhnya atau perjuangan dari sekolah tersebut, yang notabene hanya memiliki 10 siswa Kristen patut dipertanyakan. Apakah pemerintah benar-benar ingin membatasi adanya PAK, walaupun disupport dari luar sekolah? Bukankah ini kontribusi yang harus diterima dengan sukacita oleh pemerintah?

Bagaimana pengaruh orang tua melihat pentingnya PAK diberikan kepada anak di sekolah? Orang tua perlu bersama mengontrol mata pelajaran yang diterima anak setiap hari. Bagaimana menolong setiap anak Kristen, untuk menyadari pentingnya PAK sejajar dengan mata pelajaran yang lain? Menjadikan PAK, mata pelajaran wajib di sekolah. Bagaimana setiap sekolah negeri, memberi prioritas untuk mendukung dan menyediakan PAK bagi siswa-siswi Kristen di sekolah mereka?

Melihat jumlah minim anak Kristen, bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan mereka untuk mendapatkan PAK. Kurikulum pelajaran disediakan pemerintah bekerjasama dengan DEPAG atau lembaga-lembaga pendidikan Kristen. Bagaimana pemerintah memfasilitasi hal ini? Menjadikan PAK program belajar wajib di sekolah.

Seluruh pihak seharusnya bekerjasama mendukung hadirnya PAK bagi setiap anak Kristen, jika diyakini PAK memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan pendidikan anak. Cara meminta nilai agama dari gereja di mana anak bergereja, bukanlah solusi yang tepat. Sebaliknya anak semakin melihat PAK hanya tambahan pelajaran yang bisa ada dan tidak. Menyedihkan, jika ada pihak-pihak yang mencoba membatasi bahkan mencegat kehadiran pendidikan Kristen di sekolah negeri.

Lidya

47
28 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.9563 sec | TOP
Online Support :