Mundhi Sabda Hardiningtyas, Kuat tapi Rapuh

Bingung! Itulah perasaan saya ketika teman-teman gereja mengajak saya membesuk istri hamba Tuhan yang sedang koma di ICCU. Sudah dua minggu lebih istri hamba Tuhan itu tergolek lemah akibat stroke.

Jujur saja, sebagai manusia saya sangat sedih melihat kondisi wanita itu. Tetapi saya yakin, keluarga hamba Tuhan itu diberi kekuatan yang luar biasa untuk mendampinginya.  

Melihat pelayanan sang suami, saya membayangkan betapa pun sakitnya wanita itu, ia tetap bahagia karena selama ini Tuhan telah memberikan rajawali yang kokoh di sampingnya. Saya pribadi sangat kagum dengan sosok hamba Tuhan yang sangat cerdas dan selalu menyibukkan hari-harinya untuk pelayanan. Gelar doktor di bidang teologi yang ia miliki, membuat saya pun semakin kagum. Kekaguman saya semakin lengkap karena ”rajawali” itu tidak pernah membiarkan istrinya sendirian, melewati masa-masa kritisnya di ruang ICCU.

Sejak berangkat ke rumah sakit, saya bingung mencari kata-kata penghiburan yang akan saya sampaikan kepada hamba Tuhan itu. Pasalnya, hamba Tuhan yang sudah saya anggap sebagai guru saya itu ibarat Alkitab berjalan. Ketika saya mengalami kesulitan mencari ayat-ayat tertentu, dalam sekejap ia bisa menemukan ayat yang saya maksud, tanpa membuka Alkitab.  

Kebingungan saya memuncak ketika berhadapan dengan hamba Tuhan itu. Ketika menyalaminya, mulut saya hanya bisa berucap ”Bapak sekuat rajawali!”. Kontan beberapa pendeta junior yang ada di belakang hamba Tuhan itu memberikan isyarat supaya saya tidak melanjutkan kata-kata saya. Saya semakin bingung, karena tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.  

Selama menemani hamba Tuhan itu menjaga istrinya, saya tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Saya bingung sekali mau berbicara apa. Tapi hati kecil saya ingin sekali mengklarifikasi kata-kata yang telanjur saya ucapkan ”Bapak sekuat rajawali”

Sesampainya di rumah, saya segera mencari ayat yang menuliskan tentang rajawali. Saya pun menemukannya di Yesaya 40. Buru-buru saya mengirim  SMS kepada hamba Tuhan itu ”Sebagai rajawali yang menanti-nantikan-Nya, Tuhan selalu memberi kekuatan baru sehingga Bapak tidak akan burn out, bahkan ketika berada dalam situasi yang  sangat sulit  (Yes 40: 28-31).

Selang beberepa menit saya menerima balasan SMS dari hamba Tuhan itu ”Selama ini saya tak pernah menghitung tetesan keringat dan air mata saya untuk melayani Tuhan. Selama puluhan tahun saya sudah persembahkan seluruh waktu dan hidup hanya untuk Tuhan. Tapi kalau Tuhan nanti memanggil soulmate saya, saya tidak yakin bisa melayani-Nya lagi”.

Saya merinding! SMS itu tidak saja menggambarkan rajawali yang sedang remuk sayapnya. Rajawali itu kini tampak resah, seperti tidak tahu lagi siapa yang harus dinanti-nantikannya. Rajawali itu tampak sedang kehilangan arah ke mana ia harus terbang.  

Saya sedih membayangkan seseorang yang telah Tuhan ijinkan mempelajari-Nya sampai bangku S3, saat ini sedang melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Hamba Tuhan itu sedang menantang dan menguji kasih Tuhan. Ia seakan menghitung pelayanan yang selama ini diakukan sebagai ”deposito” kasihnya untuk Tuhan. Selanjutnya, ia merasa layak mendapatkan apa saja yang ia inginkan, yaitu hidup bersama sang istri selama-lamanya. Ia berpikir seharusnya Tuhan tidak menarik kembali kasih-Nya dengan cara mengambil nyawa istrinya.   

Bagaimana jika kita berada di posisi hamba Tuhan itu? Apakah kita juga akan melakukan tawar-menawar dengan Tuhan? Apakah kita akan melipatgandakan pelayanan kita, supaya Tuhan membebaskan kita dari kesulitan?  

Sering kali Tuhan mengijinkan kita berada dalam situasi yang mahasulit. Fenomena-fenomena kehidupan yang semakin tidak menentu, juga membuat kita mudah lelah. Frustasi akan segera muncul jika kita berhenti memikirkan fenomena kehidupan yang selalu berubah. Tapi setidaknya ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu janji Tuhan. Janji Tuhan adalah kompas abadi yang harus kita pegang supaya tidak kehilangan arah, bahkan ketika situasi hidup sangat melelahkan. Tuhan selalu memberikan kekuatan kepada orang-orang yang berharap kepada-Nya. DIA berjanji untuk memberikan keselamatan kepada siapa pun yang mempercayai-Nya.  

Kalau saja kita mau menjangkarkan diri pada janji Tuhan, kita akan mampu melihat berkat dari setiap kesulitan. Sesulit apapun hidup ini, Tuhan berjanji untuk tidak membiarkan kita burn out. Kalau saja hamba Tuhan itu percaya adanya kebangkitan yang Tuhan janjikan, seharusnya ia melihat bahwa kematian bukan akhir segala-galanya. Bukankah kematian itu hanyalah kebangkitan yang tertunda?v

12 November 2008

Opini Index