EFATA Ministry adalah bagian integral dari Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Batu Tulis 43, yang didirikan pada tanggal 7 Februari 2007. Dalam usia yang terbilang muda, Efata hadir untuk melakukan misi agung Yesus Kristus: Menjadikan semua bangsa murid Tuhan.
Oleh karena itulah, Efata terbeban untuk menjangkau dan memulihkan jiwa-jiwa, sebagai wujud pelayanannya. Dengan kualitas pelayanannya,berharap dapat menjadi berkat dan terang di tengah-tengah dunia. Itulah yang menjadi kerinduan Efata. Efata
Menjadi mitra gereja, dalam rangka memenangkan jiwa dan memuridkan serta membekali anak-anak Tuhan dengan perlengkapan rohani adalah misi Efata. Untuk itu, strategi pelayanan yang dilakukan adalah: Pelayanan pribadi (konseling pribadi dan pelepasan), menjangkau jiwa-jiwa baru, Kelompok Tumbuh Bersama (KTB/pemuridan), dan mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di daerah-daerah yang belum sepenuhnya terjangkau.
Meski demikian, Efata tidak memiliki misi untuk mendirikan suatu gereja, tetapi lebih kepada pelayanan pribadi lepas pribadi, melayani orang-orang yang dalam keadaan berbeban berat agar dapat mengalami pemulihan.
Dalam perjalanan pelayanan yang masih muda tersebut, Efata tetap memberi dampak bagi mereka yang dilayani, tanpa melihat latar belakang siapa pun yang mereka layani. Keterbukaan menerima siapa pun, ketulusan dalam melayani, semangat membangun kasih, menjadikan kehadiran Efata di mana pun mereka berada. menjadi berkat
Menikmati kasih
Dian Aryanti Gumulya, adalah sosok yang tidak dapat dilepaskan dari hadirnya Efata Ministry. Kerinduannya melayani Tuhan, berawal dari suatu pengalaman hidup yang sangat mengesankan. Dirinya dipulihkan Tuhan dari rasa sakit yang berkepanjangan akibat terjerat kuasa gelap dari seorang pria yang berusaha mengikat hatinya dengan cara yang tidak berkenan di mata Tuhan.
Akibatnya, rasa takut, kecemasan, dikendalikan oleh kekuatan jahat/kegelapan itu telah mengikat hidupnya selama sepuluh tahun. Berbagai upaya telah dia dilakukan untuk melepaskan kuasa kegelapan itu, namun semua berakhir dengan kekecewaan. Tidak terbilang lagi jumlah orang pinteryang sudah dia datangi, namun tiada satu pun yang dapat menolongnya mengusir kuasa gelap tersebut.
Dan ternyata, hanya kasih Tuhanlah jawabannya. Dan kasih Tuhan, melalui pelayanan hamba-hamba-Nya itulah yang mampu melepaskan Dian dari penderitaan panjang, selama sepuluh tahun itu.
Tepatnya, peristiwa yang mencerahkan itu terjadi di tahun 2006. Melalui pelayanan pada sebuah persekutuan di Jakarta, kala itu jamahan Tuhan dirasakan Dian pada seluruh tubuhnya. Jamahan itu seperti aliran listrik berdaya tinggi, yang mampu membuat Dian terlepas dari kekuatan gelap yang selama ini merongrong hidupnya.
Setelah itu, dia merasa bebas, tenang, dan damai. Sungguh itu sebuah pengalaman yang tak terlupakan, dan mungkin tak akan dimengerti oleh orang lain selain dirinya sendiri. Pemulihan itu terjadi ketika dia menyerahankan hidupnya secara total kepada Tuhan. Dukungan doa orang-orang yang mengasihinya untuk segera dipulihkan Tuhan, menjadi salah satu sumber kekuatan.
Kesembuhan ini membuat Dian menyadari betapa kebaikan Tuhanlah yang membebaskan dan menolongnya. Kerinduan untuk berbagi, melayani mereka yang terjerat dalam keadaan serupa membuat Dian bangkit kembali untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan terima kasihnya bagi Tuhan. “Kalau Tuhan menolong saya, saya pun rindu Tuhan menolong yang lain”. Kalimat itu menjadi motto yang menggerakkan Dian untuk melakukan sesuatu yang nyata untuk menolong sesama.
Untuk mewujudkan misinya itu, Dian merasa perlu membentuk sebuah wadah. Maka pada tangggal 7 Pebruari 2007, bersama Pdt. Dorkas Ginting, Dian mendirikan Efata Ministry. Pdt Dorkas Ginting adalah gembala jemaat Efata Ministry, sekaligus sebagai penasihat. Dian sendiri menjadi koordinator.
Meski demikian, tak berarti mulus terus jalan yang dilewati Efata Ministry dalam menjalankan pelayanan. Namun, Dian sungguh merasakan dukungan tim yang mau bekerja sama dengan tulus. Kesatuan hati para anggota tim untuk melayani, membawa Efata tetap hadir untuk meyatakan kasih dalam pelayanan nyata.
Akhirnya, menikmati kasih, melahirkan kasih, adalah wujud dari aksi pribadi yang berjalan pada sumber kasih itu. ? Lidya