
Gerakan dakwah ke Papua semakin gencar. Dengan dana solidaritas muslim Indonesia untuk Papua, sarana modern diadakan.
Ada apa di balik gerakan itu?
SEBUAH kapal dakwah diserah terimakan Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) kepada Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), sebuah lembaga sosial dakwah yang dipimpin oleh putra daerah Papua asal Fakfak, Ustadz Muhammad Zaaf Fadzlan Rabbani Al Garamatan. Seperti ditulis Sabili, kapal dakwah yang bernama AFKN Khilaffah I itu berasal dari donator umat Islam yang dimobilisir dalam acara malam dana yang dikoordinir BWA dengan tajuk “Papua Muslim Care” di Balai Kartini, Jakarta (9/1).
Kapal sepanjang 13,5 meter dan lebar 3,3 meter dan bisa menam-pung 20 penumpang dan beban sebesar 10 ton ini hadir untuk me-nyampaikan amanah berupa sede-kah dari umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia melalui AFKN untuk muslim Papua yang ada di pedalaman. Juga untuk membantu memasarkan hasil karya tangan atau pertanian umat muslim Papua. “Diharapkan perekonomian umat muslim di Papua bisa meningkat,” kata Fadzlan kepada Sabili.
Bukti solidaritas
Reaksi dari pihak gereja, masih menurut sumber itu, tak terlalu bagus. Tak sedikit yang lalu melaku-kan provokasi. Benarkah? Tak jelas benar. Yang jelas, pengiriman sa-rana transportasi milik sendiri ini membuktikan solidaritas masyara-kat muslim atas sesama muslim di pulau paling timur Indonesia itu.
Bentuk ekspresi solidaritas itu diwujudkan dalam beragam rupa. AFKN misalnya, pernah membawa 55 ribu Al Qur’an dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Papua. Al Qur’an itu adalah bantuan dari umat Islam yang dikoordinir oleh WBA. AFKN juga telah mengirimkan 35 mahasiswa, anak binaannya untuk melakukan program Kafilah Dai yang ditempatkan di Teluk Bintuni dan Kabupaten Raja Ampat untuk berdakwah di kampung halaman mereka.
Lembaga ini juga memiliki program bea siswa bagi generasi muslim Papua untuk disekolahkan di luar Papua, dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Mereka ditempatkan di sejumlah pesantren dan perguruan tinggi di beberapa kota di Indonesia. Merekalah, kata Fadzlan yang akan membangun Irian menjadi lebih baik dan bertauhid pada 10 atau 20 tahun ke depan. Pada 9 Juni silam, AFKN mengirim delapan truk bantuan ke Papua. “Semua bantuan akan kami salurkan ke masyarakat di kam-pung-kampung dhuafa dan mualaf di Papua,” tambahnya.
Menurut rencana, kapal dakwah itu akan diwakafkan sebanyak tiga unit. Akan juga diupayakan pengadaan helikopter dan mobil ambulan. Bahkan AFKN akan membeli pulau khusus untuk kegiatan dakwah.
Menuju 2016?
Perkembangan umat mu-slim di Papua dalam dekade terakhir boleh dikata cukup pesat. Seperti dirilis era-muslim.com, ribuan orang te-lah dimandikan secara massal, diajari cara berpakaian, ke-mudian dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka diajarkan sholat dan membaca Al Qur’an. Sudah ada sekitar 900 buah masjid didirikan di bumi Papua. Sekitar 1.400 anak miskin Papua telah disekolahkan secara gratis mulai dari pesantren hingga jenjang S1 hingga S2.
Perkembangan itu, niscaya me-mancing kecurigaan dari pihak Kristen. Wensislaus Fatubun misal-nya dalam milisnya menulis bahwa ia mendapat info dari seorang pastor bahwa pada tanggal 29 Juli, sebuah kapal dengan 1.500 ulama dan 55.000 Al Qur’an bertolak ke Papua untuk mendukung Program Muslim Papua Care dan Gerakan Dakwah Papua. “Jika hal ini bukan sebuah isu belaka, maka apa yang ditargetkan oleh Saudara dari Pagar Seberang telah mulai dijalankan yaitu menjadikan Papua sebagai daerah misi islamisasi dengan target 2016 Papua bukan lagi sebagai basis Kristen tetapi betul-betul menjadi daerah Islam yang paling kaya. Targetnya sudah bisa ditebak, jika Papua telah beralih status menjadi basis Muslim maka dengan kekayaan yang dimiliki oleh Papua maka tidak mustahil suatu saat nanti Indonesia dapat menjadi ne-gara muslim terbesar di dunia,” tulis pria yang mengaku kelahiran Papua, tapi bukan orang asli Papua ini.
Ia kemudian menyebutkan beberapa cara untuk menjalankan misi mereka yang terkesan tersa-mar yaitu dengan menguasai sektor ekonomi riil. Dia menam-bahkan, kebanyakan pedagang sembako dan kelontong di daerah perkotaan maupun pelosok adalah kaum muslim, baik dari Makassar, Jawa, dan sebagian suku lain yang muslim.
Mengubah peta
Tentu saja, tanggapan Wensi-slaus itu dianggap berlebihan dan terkesan provokatif. Tapi, seperti dituturkan Pdt. Dr. Karel Phil Erari, gerakan dakwah Islam di Papua belakangan ini memang menarik perhatian gereja di Tanah Papua. “Memang gejala baru bahwa gerakan dakwah digelar secara gencar-gencarnya. Tapi karena Papua itu bagian dari Indonesia, maka penyebaran agama itu tidak perlu dibatasi. Hanya caranya yang harus beretika. Jangan meman-faatkan kemiskinan orang untuk memindahkan agamanya,” katanya.
Di balik upaya-upaya itu, ia men-curigai adanya upaya sengaja untuk mengubah peta demografis di Papua. “Memang semangat dak-wah yang menjadi spirit gerakan itu. Tapi ada juga tujuan politisnya yaitu mengubah peta demografis Papua, dari Kristen dominan men-jadi muslim dominan. Jadi ada aspek agama dan politik terlibat di situ,” kata mantan ketua Litbang PGI ini. Selengkapnya dapat anda baca dalam Reformata edisi 114