Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
SAMPAI sekarang saya tak habis pikir mencari jawaban atas pertanyaan ini: me-ngapa para pengebom itu sanggup membunuh dua pihak sekaligus, orang-orang lain dan dirinya sendiri, atas nama agama? Tidakkah per-buatan mereka itu sia-sia sekaligus berdosa? Benarkah agama yang mengajarkan mereka melakukan itu?
Saya tak percaya, karena betul-betul tak masuk di akal sehat saya. Memang, bukan berarti semua sabda dan titah Tuhan harus dapat dicerna akal. Ia memang rasional, tapi melampaui rasionalitas kita yang serbaterbatas ini. Ia supra-rasional, dan karena itulah kita kerap tak dapat memahami-Nya. Tapi lalu, bagaimana kita dapat me-ngetahui bahwa apa yang kita laku-kan atas dasar kepercayaan maupun iman kita kepada-Nya itu benar?
Bagi para pengikut Kristus, jawa-bannya bisa merujuk kepada ayat ini: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7: 17, 20). Sungguh sebuah rujukan yang sederhana tetapi jelas. Ya, dari semua yang terpancar keluar dari diri seseoranglah kita tahu bahwa sabda dan titah Tuhan yang sedang mengejawantah dalam sikap, ucapan, dan tindakan itu benar. Semuanya pasti manis. Atau, kalau tidak seperti itu rasa-nya, semuanya pasti bermanfaat. Orang itu pastilah membawa keberkahan di dalam hidupnya dan melalui dirinya, bagi orang-orang lain di sekitarnya.
Itulah agama yang keberadaan-nya menjadi rahmat bagi banyak orang. Agama yang “rahmatan lil alamin”, begitu kata saudara-saudara kita kaum muslimin dan muslimat. Jika perlu merujuk satu ayat lagi, maka saya ingin menam-bahkan Yesaya 32:7 yang berbunyi demikian: “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejah-tera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” Alangkah indahnya kehidupan ini jika kebe-naran agama betul-betul menum-buhkan damai sejahtera di tengah kebersamaan yang tenang dan tenteram.
Dengan rujukan itu setiap kita mestinya mengintrospeksi diri sesering mungkin: adakah kita, di dalam keberagamaan kita sehari-hari, telah menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain di sekitar kita? Adakah kita, melalui kebe-radaan dan kehadiran kita di te-ngah orang-orang lain, telah mem-beri manfaat nyata bagi mereka? Kalau tidak seperti itu, maka dengan segala kerendahan hati mestinya kita memeriksa diri, kalau-kalau ada yang salah. Ini bukan soal agamanya, tapi lebih pada kebera-gamaannya: cara kita menghidup-kan agama kita di dalam diri dan kehidupan sesehari. Kalau caranya benar, niscaya buahnya pun baik. Kalau buahnya tidak baik, kita mesti bertanya: ada apa gerangan? Caranyakah yang salah? Mungkin saja, tapi mungkin juga sesuatu yang lebih mengakar. Yakni, keberagamaan kita yang nirnalar.
Inilah keberagamaan orang-orang saleh yang sayangnya tidak diimbangi dengan nalar yang cukup. Akibatnya, keberagamaan kita menjadi sangat eksklusif sekaligus kaku dan beku. Sekali sesuatu diyakini benar, maka tak mungkin ia berubah. Alih-alih diko-reksi apalagi diperkaya dengan makna dan tafsiran yang lain, ia cenderung menjadi kebenaran yang absolut. Seiring waktu, abso-lutisme itu pun niscaya menum-buhkan energi besar untuk mewu-judnyatakannya di tengah kehidu-pan duniawi yang dianggap sudah amat tercemar ini.
Kita patut acungkan jempol kepada orang-orang saleh yang berani mati itu. Tapi sayang, me-reka terlalu naif. Mereka pikir Tuhan di surga senang melihat mereka menggempur dosa dengan dosa. Padahal, cara jelas sangat penting, sehingga karena itulah keberaga-maan kita harus diimbangi nalar yang cukup. Dengan itulah kita niscaya selalu berpikir kritis dalam rangka mencari cara-cara yang beradab demi memerangi praktik-praktik kemunkaran di tengah kehi-dupan duniawi ini. Agar dengan demikian, tak seorang pun mati sia-sia atas nama “menegakkan kebe-naran Allah”.
Sekarang, inilah yang justru menjadi tugas kita bersama: memerangi keberagamaan yang nirnalar itu. Kita prihatin jika orang-orang saleh yang beragama tanpa diimbangi nalar cukup itu semakin banyak bermunculan di negeri religius ini. Bisa jadi fenomena bom-bunuh-diri itu tak akan ada habisnya sampai negara ini berubah menjadi sebentuk negara agama versi mereka sendiri. Tapi, mung-kinkah negeri impian para penge-bom bunuh-diri itu terwujud kelak? Tidak. Sadarilah, impian seperti itu hanya kesia-siaan belaka. Pertama, karena keanekaragaman merupa-kan desain ilahi bagi Indonesia sejak dulu kala. Kedua, karena desain ilahi itu sudah dikristalisasikan dalam sebentuk dasar negara yang ber-nama Pancasila. Ketiga, karena para pemimpi seperti itu (dari Karta-suwirja sampai Jamaah Islamiyah) sudah berlalu dengan kesia-siaan, dan ini mestinya membuat kita lebih berhikmat untuk memimpikan sesuatu yang baik, benar, dan rasional.
Agama dan keberagamaan sejatinya haruslah harmoni. Antara ajaran dan perbuatan haruslah sama-sama baiknya. Karena itulah maka hidup di tengah kebersa-maan harus selalu inklusif: sedia berbagi, rela dikoreksi, dan terbuka untuk berdialog. Niscaya dengan begitulah kita dijauhkan dari sifat tinggi-hati, yang selalu merasa diri paling benar. Niscaya dengan begitulah tak ada kecenderungan memaksakan kebenaran versi sendiri kepada sesama.
Religionisme yang sarat nafsu pemutlakan itu haruslah dijauhkan, sebab ia berbahaya. Ia sangat bertentangan dengan peradaban umat beragama dewasa ini yang meniscayakan toleransi dan dialog. Apalagi di sisi lain, nalar yang lemah dengan semangat memaksakan yang kuat terbukti selalu meng-hasilkan kekerasan – meski keke-rasan itu bisa saja bersifat laten, belum mewujud di dalam aksi-agresi brutal nan biadab. Tapi, biasanya itu hanya tinggal menung-gu waktu yang tepat dan tersedia-nya fasilitas. Maka, jangan heran jika orang-orang yang saleh dalam beragama itu suatu saat sanggup melakukan aksi yang mengejutkan seperti teror.
Inilah pokok persoalannya. Keberagamaan nirnalar cenderung membuat kita merasa diri lebih tahu kebenaran dibanding yang lain. Maka, dengan paradigma seperti itu, orang-orang lain yang berbeda dengan kita dianggap salah. Lebih dari itu mereka bahkan kita anggap “kafir”. Paradigma “sesat” seperti inilah yang harus kita perangi, baik di dalam komuni-tas agama sendiri maupun di komu-nitas agama-agama lain. Sebab, sejatinya kafir tidaklah menunjuk pada perbedaan agama, melainkan ketertutupan hati dan pikiran dalam menerima kebenaran ilahi. Maka, orang-orang yang kafir itu pastilah buahnya pun tidak terasa manis. Keberadaan mereka niscaya tidak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Orang dengan keberagamaan yang nirnalar biasanya juga memandang remeh kehidupan di dunia ini. Orientasinya selalu ke akhirat, sehingga kematian dirindu-kan bak jalan pintas menuju surga. Memang, jalan ke surga niscaya melalui kematian. Tak ada yang salah dengan itu. Pertanyaannya, di surga mau apa? Ketemu bida-dari? Hmm... Sungguh sulit diterima akal sehat cara berpikir seperti ini. Memang, Tuhan tak banyak bertutur tentang surga kepada kita. Sabda-Nya hanya menyebut beberapa hal ini: bahwa ada banyak tempat tersedia untuk kita di surga kelak. Bahwa kita akan mengenakan tubuh baru – entah seperti apa, tapi pasti tak fana. Bahwa di sana kelak kita akan selalu memuji-muji Tuhan.
Apakah arti semua ini? Surga tidaklah sama, atau katakanlah mirip, dengan dunia. Surga adalah sebuah tempat sekaligus suasana yang tak mungkin menyediakan ruang bagi pelbagai hawa nafsu dan aneka jenis perasaan selain sukacita. Di sana semuanya sudah selesai, itu sebabnya kita akan ber-temu muka dengan muka dengan-Nya. Adakah lagi yang mau diper-juangkan? Tidak ada. Sedangkan di sini, di dunia ini, ada begitu banyak agenda yang harus kita perjuangkan dengan segala jerih-payah. Itu sebabnya selama kita masih bernafas, hidup harus dijalani dan diisi dengan semua yang baik dan benar untuk kemuliaan-Nya. Terkait itu, mungkinkah membu-nuh orang-orang lain dan membu-nuh diri sendiri berkenan kepada-Nya?
Jadi, janganlah sekali-kali berpikir untuk mati sebagai syuhada demi orang-orang yang kita anggap kafir itu. Kalaupun para kafirun itu me-mang ada, justru melalui perjua-nganlah kita harus membawa mereka untuk diselamatkan. Itu berarti kita harus tetap hidup dan bersaksi bagi mereka tentang kemurahan dan kebaikan-Nya. Pendeknya, selama tak lagi ada medan perang yang bau anyir darah dan mesiu, tak perlu mati seketika. Sebab di dalam kehidu-pan duniawi ini masih banyak me-dan perang yang lain lebih nyata dan selalu memanggil-manggil kita untuk bertempur. Ada korupsi, ketidakadilan, penindasan, diskri-minasi, dan rupa-rupa kejahatan yang harus kita perangi. Caranya tentu bukan dengan membuat mereka semua mati, lalu kita sendiri bunuh-diri. Melainkan dengan selalu berseru-seru tentang kebenaran dan keadilan, dan dengan cara kita sendiri mengejawantahkannya di dalam kehidupan sesehari.
Boleh jadi kita semua sudah beragama. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita beragama dengan nalar yang cukup? Jangan salah, ini tak bermaksud mengimbau kita untuk memandang nalar kita sebagai yang segala-galanya. Tetapi, bukan-kah Yesus sendiri mengatakan bahwa kita harus “mengasihi Allah dengan segenap akal-budi” (Matius 22:37)? Bukankah itu berarti kita harus menghargai karunia-Nya dan karena itu mengembangkan dan menggunakannya dengan semak-simal mungkin?