Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Indahnya Kekudusan

Posted : 19 Agustus 2009
Kredo113.jpg
 Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
MENDENGAR kata ‘kekudusan’ tidaklah   selalu menyenangkan bagi orang Kristen, karena kata itu langsung membawa pemikiran seseorang Kristen kepada pribadi Allah yang mahakudus (Im 19: 2). Pada saat bersamaan kata ‘keku-dusan’ juga  langsung menjadi sebuah cermin yang sangat jernih yang dapat mencerminkan kea-daan rohani seorang Kristen apa-kah ia seorang yang hidup kudus atau tidak. Sekalipun orang Kristen telah dikuduskan oleh kemtian Kristus, namun  pada dasarnya setiap orang Kristen sangat rawan terhadap kejatuhan dosa, dan faktanya orang Kristen masih sering jatuh di dalam pelanggaran terha-dap Firman Tuhan (dosa). Itulah sebabnya kata ‘kekudusan’ bisa menjadi sebuah “momok atau teror” bagi sebagian orang jika  dimunculkan dalam percakapan, bahkan banyak pengkhotbah yang enggan mengkhotbahkannya. 
Alkitab mengambarkan penghar-gaan yang sangat positif terhadap aspek kekudusan (Im 15:11, dll), namun kebanyakan dari kita sering mengidentikkan kekudusan de-ngan kewajiban yang terpaksa dan memberatkan. Hanya dengan menyebut kata ‘hidup kudus’ saja pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang memberatkan, karena kita melihat kekudusan itu identik dengan daftar panjang berjudul “dilarang” dan  daftar pan-jang berjudul “kewajiban ” atau tanggung jawab. Di satu sisi me-mang hidup kudus adalah kewaji-ban namun di sisi lain hidup kudus adalah panggilan hidup bagi orang Kristen dan dalam kitab Imamat,  Allah sangat serius memerintahkan agar umat tidak melanggar keku-dusan Allah (Im.22:32, mis.baca Im. 19). Musa dan orang-orang seangkatannya akhirnya tidak diijinkan memasuki tanah perjanjian karena gagal menghormati keku-dusan Allah: “Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” (Bil  20:12).
   
Menyelami Kekudusan Allah
Lalu bagaimana dengan aspek keindahan dari kekudusan Allah? Bukankah kekudusan Allah mengandung nilai-nilai dan kualitas keindahan yang luar biasa? Mungkin kebanyakan orang Kristen belum melihat kekudusan Allah dalam aspek yang luas dan mengagumkan, karena seringkali kita menilai segala sesuatu ber-dasarkan pengalaman dan realita hidup kita saja tanpa mencoba melihat lebih jauh. Seperti kata Anais Nin “We don’t see things as they are, we see them as we are.” Saya pernah bertemu seseorang yang menilai kehebatan Allah dengan luasnya danau yang ada di daerahnya, tetapi ketika ia berkeliling dunia dan melihat luasnya dunia dan lautan dari pesa-wat terbang, ia kemudian melihat kemahakuasaan Allah tidak terbatas. Demi-kian juga pengertian yang benar mengenai kekudu-san Allah harus ditelusuri kembali ke sumber dari kekudusan itu sendiri yaitu pada pribadi Allah sebagai-mana dinyatakan di dalam Alkitab.

Semakin sedikit kita mengenal kekudusan Allah semakin sempit penilaian dan kekagu-man kita akan kekudusan Allah dan se-makin banyak kita menge-nal kekudusan Allah semakin besar pula penilaian dan kekaguman kita pada kekudusan Allah. Pada akhir-nya kita akan memahami bahwa ketika menyelami dan melihat kekudusan Allah sebetulnya bukan lagi sedang berurusan dengan tanggung jawab orang Kristen sama sekali, melainkan sedang memandang atribut Allah yang paling indah dan mengagumkan (Im 15:11).
Pemahaman dan penilaian terhadap kekudusan Allah juga akan sangat mempengaruhi bagai-mana kita mempraktekkan hidup yang kudus sehari-hari. Penilaian yang sempit terhadap kekudusan Allah akan menilai rendah dan remeh hidup kekudusan itu sendiri, sehingga dalam kehidupan sehari-hari akan mudah toleran terhadap perbuatan dosa, nilai-nilai dan gaya hidup/ trend dunia yang ada. Banyak orang  Kristen yang kurang menyadari bahwa kekudusan harus dipraktekkan mulai dari hal-hal yang kecil hingga perkara besar dan hal tersebut sangat membutuhkan kepekaan dan ketaatan total kepada Firman Allah. Terkadang kita toleran untuk hal-hal kecil, kita taat kepada Allah untuk satu perkara besar, namun tidak menaati Allah dalam perkara kecil, padahal untuk berhasil hidup dalam kekudusan Allah membutuhkan komitmen, kedisiplinan dan ketaatan total (Ibr 12:14). Seperti dingkapkan Scott Peck (The Road Less Traveled): “Tanpa disiplin kita tidak bisa menyelesaikan apa-apa. Dengan beberapa disiplin kita bisa menye-lesaikan hanya beberapa hal. Dengan disiplin total kita menyele-saikan seluruh masalah.”

Kekudusan dan Kemuliaan Allah
Alkitab menggambarkan keinda-han kekudusan Allah dihubungkan dengan kemuliaan Allah dan me-ngajak orang Kristen bersujud kepada Allah dalam kekudusan: “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan keku-dusan.” (Mzm 29: 2; 96: 9 1Taw 16: 29). Kata ‘berhiaskan’ berko-notasi pada aspek keindahan da-lam ibadah penyembahan, keinda-han sebuah ibadah dan hidup orang Kristen di mata Tuhan terletak pada kekudu-san hidup umat-Nya.  Keluaran 15:11 menuliskan bahwa kemu-liaan Allah terletak dalam keku-dusan-Nya: “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbua-tan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban.” Ketika manusia diciptakan, Allah mencip-takannya berdasarkan gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26-29) dan ketika manusia jatuh dalam dosa, Alkitab menegaskan bahwa manu-sia kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3: 23). Hal ini menegaskan bahwa ketika manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa ia memiliki kemuliaan Allah (kekudusan Allah) dan ketika manusia jatuh dalam dosa manusia kehilangan kemu-liaan Allah (kekudusan Allah). Maka ketika Kristus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia itu berarti untuk mengembalikan kembali kemuliaan Allah (kekudu-san Allah) di dalam diri umat-Nya (Rm 8:30).

Kitab 1 Kor 10: 31 menegaskan bahwa tujuan tertinggi hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Allah dan agar kita dapat hidup me-muliakan Allah dalam segala aspek hidup kita, harus dilakukan dalam koridor ke-kudusan Allah. Tanda-tanda utama dari orang-orang Kristen sejati terletak pada fokus kesenangan hatinya, seperti diungkapkan Jona-than Edwards (Religious Affection): “Inilah perbedaan antara sukacita orang munafik dan sukacitanya orang kudus sejati. Orang munafik bersukacita dalam dirinya sendiri; dirinya adalah dasar pertama dri sukacita-nya. Orang kudus sejati bersukacita di dalam Allah…. Akal budi orang-orang kudus terutama berkenan dan ber-suka dengan gagasan indah tentang natur yang mulia dan yang pantas disukai oleh Allah…. Tetapi kebergantungan afeksi orang-orang munafik justru berada dalam kebalikannya.”  
Bagaimana dengan kehi-dupan saudara dan saya, di mana letak kesenangan tertinggi hati kita, apakah pada hal-hal yang berke-nan dan menjadi kesukaan Allah atau pada kesenangan hati kita sendiri dan membiarkannya dice-mari oleh kesenangan-kesena-ngan dunia yang melukai hati Allah. Kristus telah membayar de-ngan harga yang sangat mahal dan dengan perjuangan yang sangat dahsyat (1 Pet 1:18, Fil 2: 6-8) kemerdekaan dan keselamatan hidup kita. Namun pengorban dan perjuangan Kristus itu akan men-jadi sia-sia dan menyedihkan jika kita hidup hanya untuk kesena-ngan diri sendiri. Ibrani 7:1 meme-rintahkan agar kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan menyem-purnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah. Hidup dalam kekudusan dan takut akan Allah adalah keindahan sejati yang dapat dinikmati oleh semua orang Kristen: “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.” (Am 14:26). Kehausan dan hasrat tertinggi hati Allah terletak pada aspek kekudu-san hidup umat pilihan-Nya, kiranya Roh Kudus menolong kita semua hidup dalam kekudusan-Nya. Soli Deo Gloria.v
Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.
49
7 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Online Support :