Michael Christian, S.Psi., M.A. Counseling
Pak Konselor, saya merasa kalau saya ini bukan milik siapa-siapa. Saya sudah berkeluarga sekitar 5 tahun, dan memiliki seorang anak. Tapi saya juga sudah pisah rumah dengan istri, karena orang tua istri melihat saya tidak mampu menghidupi mereka. Saya sangat sedih. Memang saya tidak berpendidikan tinggi, saya kerja juga gagal. Saya juga bukan dari keluarga baik-baik. Ayah saya berselingkuh. Kini ayah maupun ibu sudah punya keluarga sendiri-sendiri, dan saya tidak bisa diterima di kedua belah keluarga, karena orang tua saya juga pisah. Keluarga saya sendiri juga berantakan. Akhirnya saya juga bermain dalam gelimang dosa. Sering saya bertanya, kenapa Tuhan menaruh saya dalam kondisi seperti ini? Sekarang apa yang harus saya lakukan? Saya sudah putus asa…
NS
Jakarta
BAPAK NS yang terhormat, kadangkala manusia berada dalam suatu kondisi yang sama sekali kita tidak bisa mengerti. Memang ada situasi dan kondisi yang terjadi dalam hidup kita akibat suatu tindakan yang kita lakukan di masa lampau, ada juga tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tua atau pendahulu-pendahulu kita, atau pun keadaan yang entah bagaimana, terjadi saja dalam hidup kita seperti musibah, bencana alam, dan hal-hal yang terjadi tiba-tiba saja. Situasi dan kondisi seperti itu memang seringkali melumpuhkan fungsi hidup kita. Kita rasanya tidak tahan akan tekanan hidup ini, kita tidak mampu bekerja dengan baik, dan tidak mampu melakukan aktivitas-aktivitas sehari-hari, sehingga tanpa kita sadari, kita juga tenggelam dalam kondisi tersebut. Tentu saja hal ini akan berdampak sangat besar dalam kehidupan kita ya.
Ada orang yang dalam kondisi seperti ini, akan memilih menyerah akan tekanan hidup, dan memutuskan mengambil jalan pintas, entah mengakhiri hidupnya, ataupun terjebak tindak kriminil/kejahatan, bergelimang dalam dosa, sebagai pelampiasan kekecewaan dan kemarahan, atau pun merusak diri (anger turning inward) dengan cara mabuk-mabukan misalnya, atau mengonsumsi narkoba, merokok berlebihan (excessive) dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, kita juga bisa menjumpai orang-orang yang meskipun pernah mengalami frustasi atau pun depresi dari permasalahan hidupnya, namun ia tidak hanya menerima keadaannya, tapi juga berusaha bangkit, dan berani memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk menata hidupnya kembali, memulai sesuatu yang baru, dan berjuang untuk mencapai apa yang diharapkan. Ini tentu saja merupakan tindakan yang membangun (konstruktif) sehingga orang ini tidak terjebak dalam satu komponen hidupnya yang cacat.
Saya percaya sekali setiap kita memiliki komponen-komponen hidup yang bermacam-macam, karena itu kita sebetulnya mampu untuk tidak terpaku/dipenuhi (pre-occupied) oleh satu komponen saja, sebaliknya kita bisa melihat komponen-komponen lain dalam hidup kita yang perlu dikerjakan, sehingga bisa memaksimalkan, dan menata hidup kita.
Nah kebanyakan orang tua, biasanya melihat komponen-komponen hidup kita tersebut, dan mengawasinya apakah kita bisa bertanggung jawab dalam hal-hal itu? Misalnya, dalam pekerjaan, apakah kita bisa menunjukkan sikap yang bertanggung jawab, bekerja keras, dan berjuang? Ataukah kita hanya menunggu kesempatan datang, dan menghabiskan waktu dengan cara kita sendiri yang sebetulnya tidak efektif? Atau dalam bersosialisasi, apakah kita bisa menjadi orang yang memperhatikan orang lain dan menolong?
Ataukah kita menjadi orang yang selalu mencari pertolongan, dan ingin dikasihani serta diberikan simpati dari mereka? Seperti apakah kita berespon, kalau dulu kita pernah berespon salah, saat ini masih ada kesempatan untuk kita berespon dengan baik dan benar di kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, sehingga orang tua istri Anda pun niscaya bisa melihat suatu perubahan yang signifikan.
Pak NS yang terhormat, ada beberapa hal yang saya rasa bisa kita lakukan dalam kehidupan ini. Pertama, daripada kita menyalah-kan situasi dan kondisi, bahkan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, kita justru harus semakin mendekat kepada Tuhan sebagai pribadi yang tidak pernah membuang atau menolak kita meski kita dalam kemarahan, kekecewaan, dan keberdosaan. Firman Tuhan katakan: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30).
Seorang penulis bernama Philip Yancey juga mengatakan: “Pain is a gift that nobody wants.” (Penderitaan adalah sebuah karunia, yang tidak ada satu orang pun yang menginginkannya). Jika kita bisa melihat bahwa Tuhan sanggup memelihara dan memberi kekuatan, saya percaya kita juga bisa memiliki pola pikir yang berbeda terhadap situasi dan kondisi yang kita alami.
Kedua, daripada kita menyalah-kan masa lalu dan menyesalinya, marilah kita fokuskan diri kita pada saat ini dan sekarang (here and now). Entah kita dari keluarga seperti apa, orang tua yang bagaimana, mari kita fokus dengan apa yang bisa kita kerjakan saat ini. Usaha apa yang bisa kita lakukan, teman-teman seperti apa yang bisa men-support, pekerjaan apa saja yang kita masih mampu kerjakan, kesempatan apa yang bisa dicapai. Buatlah sebuah list, dan tentukan mana yang akan kita kerjakan terlebih dahulu. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah, tapi bisa dilakukan.
Kami mendoakan dan mendu-kung Anda dalam setiap langkah menuju perbaikan. Jika Anda masih membutuhkan konseling, silakan Anda datangi kami di Lifespring Counseling Center.
Tuhan memberkati.v