Hendrik Lim, MBA*
GOOD Thing No Cheap. Ada sebuah lukisan yang tercatat paling mahal yang pernah dijual, yaitu lukisan di atas kanvas, senilai US$ 82,5 juta. Bayangkan sekitar Rp 900 miliar untuk selembar lukisan yang dibuat oleh Williem Vincent van Gogh. Lukisan itu potret diri Dr Paul Gachets, seorang dokter pribadi yang merawat stabilitas mental van Gough sebelum akhirnya pelukis terkenal itu mengakhri hidupnya (bunuh diri).
Apa yang membuat mahakarya van Gough—pemuda yang meng-undurkan diri sebagai missionaris, dan kemudian menemukan passion-nya di atas kanvas itu—men-jadi begitu mahal? A fine details. Kalau bukan fine detail yang men-jadi ciri karakter lukisannya, tentu seorang kolektor tidak akan royal untuk merogoh kocek sebesar Rp 900 miliar hanya untuk sebuah luki-san. Jumlah ini sama dengan 800 buah mobil sedan mewah buatan Eropa, dan cukup membuat sesak lapangan parkir Stadion Utama Senayan, Jakarta
Cheap Thing No Good. Ada juga servis yang begitu mahal, dan justru dalam kemahalannya, ia menjadi amat ramai diserbu konsumen dibandingkan dengan kompetitor-nya. Sebagai contoh berbagai pe-nerbangan di dunia ini melantun-kan lagu yang sama: inflight services. Namun berapa yang men-dapat pengakuan seperti Singa-pore Airlines? Padahal hampir se-mua flag carrier pesaing, memakai pesawat komersial mutakhir yang sama, Boeing atau Airbus seri ter-baru. Tetapi mengapa Singapore Airline yang meskipun menchar-ge harga lebih mahal untuk tujuan penerbangan yang sama tetap fully booked?
Padahal kita tahu, untuk suatu hasil kerja, apakah yang ‘luar biasa’ atau yang ‘biasa -biasa’, jumlah te-naga yang dikeluarkan tidaklah banyak bedanya. Apakah untuk membuat mebel ukiran atau pelu-kis yang ‘amat baik’ dan yang ‘bia-sa’ saja, tenaga yang dikeluarkan itu ribuan kali lipat bedanya? Terus mengapa harga jualnya berbeda ribuan kali lipat? Ternyata ‘hal-hal kecil’ dan perhatian kepada detail memang selalu membuat perbe-daan besar.
Suatu pekerjaan yang di kerjakan dengan semangat tanggung-tang-gung, memang ada harganya, tapi tidak ada nilainya, makanya harga-nya pun jadi murah. Ia serba tang-gung. Ibarat kemeja, terlalu pan-jang untuk dijadikan lengan pendek, atau terlalu pendek untuk dijadikan lengan panjang. Serba tanggung memang menyulitkan. Panas tidak, dingin pun tidak. Seperti suam-suam kuku saja.baca selengkapnya dalam Tabloid Reformata edisi 112