Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Berbagai Pandangan atas Keberadaan Alkitab

Posted : 04 Agustus 2009
bible1.jpg

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)

KETIKA saya studi di fakultas teologi, saya mendapatkan beberapa kuliah yang berhubungan dengan keberadaan agama. Rupanya, di dunia ini terda-pat sangat banyak agama atau kepercayaan (belief system). Dalam berteologi, kebanyakan para penganut agama atau keperca-yaan tersebut lebih mengedepan-kan keberadaan Tuhan yang mereka sembah. Berbeda dengan kebiasaan ini, menurut hemat saya, dalam berteologi sebaiknya dimulai dengan keberadaan kitab suci sebagai pedoman atau pijakan yang benar dalam berteologi itu sendiri. Berteologi maksudnya ber-bicara tentang keberadaan Allah dan hubungan-Nya dengan alam semesta, khususnya dengan manusia. Sebagai umat Kristen, kita memiliki Alkitab sebagai pedoman untuk berteologi dan untuk menja-lani hidup kita. Di sinilah letak pen-tingnya bagi kita untuk mengenal keberadaan Alkitab secara dekat. Masalahnya adalah sudah telanjur banyak sekali teori dan pendapat tentang apa yang dimaksud de-ngan Alkitab, baik oleh mereka yang sungguh-sungguh membaca maupun yang tidak sungguh-sung-guh membacanya. Ada pihak yang sudah salah memahaminya, namun banyak juga yang tidak memaha-minya secara komprehensif.

Sejak kemunculannya, Alkitab sudah ditanggapi dan dinilai secara beragam oleh banyak pihak, ber-hubungan dengan materi yang terdapat di dalamnya. Apabila dibaca secara cermat, dari berbagai tanggapan dan penilaian atau pan-dangan tersebut ada yang salah karena tidak didasarkan pada ma-teri dan sejarah yang sesungguh-nya dari Alkitab itu sendiri, di sam-ping ada pandangan yang benar.

Paling tidak terdapat empat pandangan yang dapat dikategori-kan sebagai pandangan yang keliru tentang Alkitab. Pertama, panda-ngan dari penganut paham Libe-ralisme. Kelompok ini mengatakan bahwa Alkitab bukan firman Allah, sebab tidak ada keterlibatan Allah di dalam penulisannya. Alkitab adalah tulisan manusia biasa. Para penulis Alkitab memang pada awalnya memiliki niat dan sema-ngat yang baik untuk memperke-nalkan keberadaan Allah kepada sebanyak-banyaknya orang. De-ngan segala kemampuan, mereka berusaha menggambarkan ten-tang keberadaan Allah dengan tuli-san mereka. Penganut pandangan ini menyamakan para penulis Alki-tab dengan para filsuf atau teolog, sehingga bagi mereka Alkitab hanya sebagai buku yang tidak ada bedanya dengan buku-buku lain. Kelompok ini memang tidak pernah percaya akan hal-hal yang supra-natural, misalnya tentang mukjizat. Mereka juga tidak percaya adanya pewahyuan dan pengilhaman Roh Kudus dalam proses penulisan atau terbentuknya Alkitab.
Kedua, pandangan dari peng-anut paham Modernisme. Kelom-pok ini mengatakan bahwa Alkitab tidak seluruhnya firman Allah. Ada bagian-bagian Alkitab yang dapat disebut firman Allah dan ada bagian-bagian yang bukan firman Allah, sehingga hanya sebagian saja firman Allah yang terdapat dalam Alkitab. Kelompok ini memahami Alkitab hanya berisi firman Allah. Kejadian 1:3, misalnya, mereka katakan sebagai firman Allah karena ini adalah perkataan Allah secara langsung. Namun, bagian-bagian lainnya seperti Kejadian 3:1 dianggap bukan firman Allah hanya karena Allah tidak berbicara secara langsung di dalamnya. Pandangan ini tidak lengkap memahami kebe-radaan Alkitab.

Ketiga, pandangan dari peng-anut paham Neo-ortodoksi. Kelom-pok ini mengatakan memang benar ada firman Allah dalam Alkitab, tetapi itu tidak menunjuk kepada tulisannya, melainkan hanya me-nunjuk kepada isi dan maknanya. Sehingga, ada saat-nya Alkitab menjadi firman Allah dan ada saatnya Alkitab tidak menjadi firman Allah. Alkitab hanya men-jadi firman Allah kalau ia berbicara kepada kita secara langsung sewaktu kita mem-bacanya. Dengan lain perkataan, meskipun seseorang sedang membaca Alkitab namun jika Allah tidak berbicara kepadanya secara khusus dan pribadi, maka Alkitab dianggap tidak se-dang menjadi firman Allah. Bagi mereka, Alkitab bukanlah firman Allah kalau Alkitab tidak sedang dibaca. Alkitab tidak menjadi firman Allah kalau ia sedang berada di dalam rak buku, etalase toko, atau di dalam tas. Oleh sebab itu, kelompok ini merasa tidak bersalah seandainya Alkitab diinjak atau dilempar seperti layaknya benda lain.
Keempat, pandangan dari peng-anut paham Mistikisme. Kelompok ini percaya bahwa Alkitab seluruh-nya adalah firman Allah. Kesalahan kelompok ini adalah karena pada praktiknya mereka dalam member-halakan Alkitab. Misalnya, ayat-ayat Alkitab yang dianggap hebat sengaja dihafal sedemikian rupa dan akhirnya dijadikan menjadi “mantera”. Atau, jika sementara tidur, supaya seseorang tidak diganggu setan, maka Alkitab dita-ruh di bawah bantal. Mereka sering menggabungkan materi Alkitab dengan tulisan-tulisan dari buku-buku lain sehingga terjadi pencam-puran yang negatif (sinkritisme). Oleh penganut pandangan ini, Alki-tab sering ditafsirkan menurut berbagai peristiwa yang dianggap luar biasa, di samping dijadikan sebagai alat untuk menafsirkan berbagai peristiwa serupa yang terjadi.

Kalau demikian halnya, bagai-manakah seharusnya kita meman-dang keberadaan Alkitab? Berda-sarkan penelitian yang saya lakukan terhadap materi dalam Alkitab dan sejarah terbentuknya, di bawah ini terdapat beberapa hal yang menjadi prinsip yang benar terhadap Alkitab. Pertama, Alkitab secara keseluruhan seharusnya dipandang sebagai firman Allah yang tertulis. Memang yang menuliskan Alkitab adalah manusia biasa, tetapi dalam penulisannya para penulis ’dikuasai’ oleh Roh Kudus yang berbicara atas nama Tuhan, bukan atas keinginan manusia belaka. Sehingga, setiap saat Alkitab merupakan firman Allah dan semua bagiannya memiliki kualitas yang sama.  

Kedua, sekalipun Alkitab merupakan kumpulan firman Allah, namun Alkitab tidak boleh diber-halakan. Alkitab tidak boleh dijadikan seperti Tuhan sendiri, atau dijadikan sebagai mantera-mantera untuk tujuan yang ber-sifat magis. Allah tidak boleh disa-makan dengan Alkitab. Biarlah Alkitab tetap menjadi Alkitab dan Allah tetap menjadi Allah.
Ketiga, Alkitab bermanfaat bagi manusia ketika Alkitab dibaca dan direnungkan, pesan-pesannya diterapkan dan diberitakan kepada banyak orang. Keempat, Alkitab tidak boleh disalahtafsirkan atau ditafsirkan secara salah. Menafsir Alkitab tidak boleh dilakukan secara sembarangan melainkan dilakukan dengan tanggung jawab dan harus memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tafsir yang kompre-hensif (hermeneutis).v
* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).
60
9 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 15.6308 sec | TOP
Online Support :