Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Mateos Pandu, Di Penjara Temukan Cinta Kasih

Posted : 14 Juli 2009
111.ungkapan hati.jpg
KOTA Jakarta mampu  membentuk pribadi orang   menjadi keras dan serba cepat. Di sinilah Mateos Pandu memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang mahasiswa teologi. Di kota ini juga dia melayani, hingga  menemukan pendamping hidupnya, Martini Harefa. Seorang anak telah hadir bagi mereka. Ketekunan dan semangat membawanya menye-lesaikan perkuliahan sehingga meraih gelar master teologi. Dengan segala kemampuan yang dia miliki itu, dia menjadi dosen teologi serta jabatan rektor. 
Tugas dan tanggung jawab mengabdikan ilmu demi kemajuan umat, membuat pria kelahiran Alor 26 Mei 1975 ini terus bersemangat dan terus berusaha belajar, melayani, dan memimpin. Saat-saat itulah membuat Teos, yang sering disapa, semakin memikirkan tanggung jawab rektor sebagai tugas utama. Perhatian, tenaga, uang, dan seluruh kemam-puannya, tercurah habis pada pendidikan, mahasiswa, sistem, dan kinerja kepemimpinannya sebagai seorang rektor, sekaligus dosen. Dampaknya, keluarga seperti berada di urutan kedua. Bahkan hubungan pribadi dengan Tuhan semakin berkurang, bahkan sering sulit dilakukan. Dia sering pulang larut malam bahkan dini hari. Tak cukup hanya di situ, seluruh tugas seringkali dibawa pulang ke rumah. Kesempatan bersantai bersama keluarga semakin tersita.

Sekalipun demikian, Teos selalu ingin untuk bisa menyiasati kehidupan yang serba sibuk itu agar ada waktu buat keluarga. Namun Januari 2009, Teos malah harus mendekam di LP Cipinang, selama 6 bulan 16 hari. Waktu yang terasa sangat lama, menekan, dan menyakitkan. Apa yang menyebabkannya harus ada di sana? Kejahatan apakah yang telah dilakukannya?
Niat baik mengantar ke penjara    

Rasa memiliki, penuh kepedulian, dan cinta kasih, layaknya seorang ayah kepada anak-anaknya, itulah yang dimiliki Teos kepada setiap mahasiswa yang dibimbing dan dipimpinnya. “Saya dipercayakan untuk memimpin sebuah sekolah tinggi teologi (STT) yang kondisi manajemennya sedang morat-marit. Namun satu kerinduan saya adalah membenahi semuanya, terutama akademiknya, karena saya melihat nilai akademik sangat minim. Dengan semangat yang menggebu-gebu saya berusaha melangkah secara perlahan, namun setiap langkah saya selalu terbentur dengan keputusan yayasan. Pada akhirnya saya terjebak dengan satu masalah yang membawa saya ke penjara, di mana saya harus memberikan ijazah ke 5 orang alumni yang sudah lulus dan mereka berhak untuk menerima ijazah”.

Ijazah yang mereka butuhkan sudah seharusnya didapatkan, namun pada ijazah tersebut dicantumkan juga tanda tangan ketua yayasan yang seharusnya tidak perlu dicantumkan. Pada saat itu, ketua yayasan tidak berada di Jakarta, maka Teos mengambil keputusan menjiplak tanda tangan tersebut, tanpa memikirkan konsekuensinya. “Bagiku mahasiswaku dapat ditolong. Mereka sangat membutuhkan ijazah itu. Untuk menanti ketua yayasan tidak mungkin. Saya mengharapkan mereka lulus sertifikasi itu, dan melanjutkan impian mereka sebagai seorang guru. Hanya itu”. Inilah awal Teos harus dipanggil ke kepolisian pada Juni 2008, dan divonis November 2008. Peristiwa yang tidak pernah dibayangkan, namun inilah konsekuensi yang diterima karena “kepedulian” pada mahasiswa.

    Di pengadilan, Teos dituduh memalsukan tanda tangan dengan motif mendapatkan uang. Namun, keterangan para saksi meringankan Teos dari tuduhan tersebut. Tidak ada sepeser pun yang diberikan mereka kepada Teos demi mendapatkan ijazah itu. Teos mengakui kesalahannya meniru tanda tangan, namun tidak karena uang. Semua murni hanya untuk menolong kelima mahasiswa ini mendapatkan apa yang harus mereka dapatkan. Melewati masa-masa sulit di pengadilan, mendekam di penjara, dan kehilangan kesempatan bersama keluarga dan pelayanan yang telah sekian lama digelutinya, itulah yang diterimanya.
Awal-awal di penjara memberi tekanan psikologi yang cukup berat kepada Teos. Seorang hukuman, tertuduh, dibatasi ruang gerak, rasa bersalah terhadap keluarga, dan penilaian buruk masyarakat bagi dirinya. “Jujur selama seminggu di penjara, ada perasaan menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan membiarkan saya dipenjara? Saya melakukan semuanya demi Tuhan, apa saja tidak pernah hitung-hitungan, tapi kenapa ini balasannya. Demi STT yang saya pimpin, saya sungguh-sungguh bekerja keras, tidak menghitung apa yang saya dapatkan. Tapi, apa yang saya terima. Penghinaan, tindakan dikucilkan dan harus menerima hukuman. Di mana Tuhan?” Inilah ungkapan Teos kala itu. Sangat menyesak hati. Protes kepada Tuhan dan 3 hari tidak makan.

Menemukan kasih yang hilang
Masa-masa di penjara membuat Teos, semakin mengenal siapa istrinya. Tanpa mengenal lelah, Martini terus mengunjungi dan memberi support. “Sangat menguatkan dan betapa kusadari dia sangat mencintaiku. Sekian lama perhatian dan waktuku tercurah kepada pelayanan di luar rumah, tapi ketika aku dipenjara, dia tetap mencintaiku. Tak ada sedikit pun tuduhan mempersa-lahkanku. Tak ada ungkapan letih dan kecewa ketika mengunjungi-ku. Makanan, pakaian kotorku, perhatian dan cintanya, sungguh membuatku sadar. Dialah istriku, wanita penolongku. Aku malu dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, mengabaikan cintanya,” ungkap Teos sambil berurai air mata. Di penjara Teos menemukan kekuatan cinta sang istri dan keluarga yang tetap mendukungnya untuk tetap kuat.

Menghuni sel polisi selama 58 hari dan menghuni LP Cipinang selama 6 bulan 16 hari merupakan pembelajaran terbesar bagi Teos untuk menata pelayanan ke depan. Hal-hal yang didapatkan dari masalah ini adalah: “Tuhan tidak ingin saya sibuk dengan berbagai urusan akademik dengan alasan pelayanan sehingga mengurangi waktu saya buat Tuhan. Tuhan tidak mau kesibukan saya mengurangi waktu saya buat keluarga (istri dan anak). Tuhan ingin menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada saya bahwa Tuhan membawa kita tidak melulu di jalan beraspal, tapi kadang di jalan berbatu. Tuhan mau agar saya melihat cinta istri yang begitu besar buat saya sehingga saya semakin menyadari betapa pentingnya kehadiran istri dan anak dalam keluarga. Tuhan ingin saya menyadari betapa pentingnya kehadiran orang lain (teman dan saudara) dalam hidup saya melalui peristiwa ini”.baca selengkapnya dalam REFORMATA edisi 111
57
24 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.8013 sec | TOP
Online Support :