Mereka mengubah sembo-yan menjadi gerakan. Di ta-ngan mereka semboyan “men-cegah lebih baik dari me-ngobati” menjadi gelombang gerakan.
TAHUN ini menjadi tahun yang sangat berarti bagi para personil yang bergabung dalam GMDM (Gerakan Mencegah Daripada Mengobati). Dipercaya menjadi koordinator pelaksanaan HANI (Hari Anti Narkoba Inter-nasional) yang digelar pada 26 Juni silam, MURI – lembaga yang selalu memberikan rekor “ter” dalam segala bidang — memasukkan acara itu sebagai peringatan HANI yang paling banyak pesertanya. “OKP, LSM dan NGO yang hadir mencapai 35 organisasi dari macam-macam latar belakang.
Massa yang ada dalam Gelora Bung Karno mencapai 40 ribu orang. Ditambah yang di luar Gelora, total semua bisa mencapai 70 ribu orang,” kata Ketua Pelaksana pagelaran akhbar itu, Pdt. Jerry Tambayong.
Acara yang dimotori oleh GMDM itu mengambil tema “Indonesia Bersinar”, akronim dari Indonesia Bersih Narkoba. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono turut hadir dan memberikan penghargaan pada para pejuang melawan narkoba.
Selain memaknainya sebagai bukti campur tangan Tuhan dalam perjalanan pelayanan mereka, pres-tasi yang diraih itu memicu gelora semangat mereka untuk – bersama dengan komponen bangsa lainnya – berjuang untuk memberantas penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama di Indonesia. Gelora semangat memang mesti lebih kuat dipacu karena tenggat waktu yang semakin singkat.
Seperti ditargetkan BNN (Badan Narkotika Nasional) – yang juga merupakan target kepolisian se-Asia, pada 2015 nanti, Indonesia dan kawasan Asia lainnya sudah bebas narkoba. “Secara manu-siawi, memang sangat berat. Tapi kami tahu, kepolisian pasti punya strategi untuk mencapai itu. Dan di atas segalanya, kami yakin, hal itu bisa tercapai bila Tuhan turut campur tangan,” kata Jerry.
Tekad untuk menghentikan peredaran narkoba pada 2015 itu, nampaknya membutuhkan usaha yang ekstra keras. Pasalnya, jumlah pengedar, pemakai dan korban barang haram itu terus bertambah saja. Mengutip Ketua Pelaksana Harian BNN Irjen Pol Gories Mere, Jerry menyatakan pertumbuhannya mencapai 6 kali lipat. Korban yang meninggal meningkat dari 30 – 40 orang per hari menjadi 50 – 60 orang per hari. Tapi fakta buram itu tidak harus membuat para aktivis anti narkoba menyurutkan langkah. “We will never stop and never give up!” demikian semboyan yang terus mereka dengungkan. simak kiprah pelayanan yayasan ini dalam REFORMATA edisi 111