Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)
JIKA kita hendak melakukan sesuatu, tentulah ada hal-hal yang menjadi motivasi dan tujuannya, bukan? Demikian pula dengan penulisan Alkitab. “Moti-vasi” yang dimaksud di sini adalah hal-hal apa yang mendorong ditu-lisnya Alkitab, sedangkan “tujuan” adalah hal-hal apa yang hendak dicapai atau diharapkan muncul sebagai akibat dari terbentuknya Alkitab itu. Menurut hemat saya, terdapat paling tidak empat moti-vasi sekaligus yang menjadi tujuan dari penulisan Alkitab.
1. Kerinduan Allah untuk ber-bicara kepada umat-Nya
Allah yang diberitakan dalam Alkitab adalah Pribadi yang hidup, sekaligus sebagai Pribadi yang tidak terbatas. Sebagai Pribadi yang hidup, Allah memiliki perasaan dan kerinduan untuk berbicara, dalam hal ini kepada manusia. Allah rindu untuk berbicara kepada manusia karena manusia adalah makhluk yang diciptakan-Nya seturut dan segambar dengan-Nya (Kej. 1: 26-27) dan yang dijadikan-Nya sebagai pengelola dari ciptaan-Nya yang lain (Kej. 2:15).
Beberapa pertanyaan pun mun-cul, seperti: “Bagaimanakah Allah yang tidak terbatas itu berbicara kepada manusia yang serba terbatas?” “Bagaimanakah manusia dapat mengerti bahasa Allah?” Hal pertama yang patut dingat adalah bahwa tidak mungkin manusia dapat memahami bahasa Allah, kecuali jika Allah berbicara kepada manusia dengan menggunakan bahasa manusia. Oleh sebab itu, Ia terlebih dahulu memilih dan me-ngurapi orang-orang yang dijadi-kan-Nya sebagai juru bicara-Nya. Sebagian dari mereka yang dipilih dan diurapi-Nya itu disebut sebagai nabi dan raja (dalam Perjanjian Lama), sebagian disebut sebagai rasul dan penginjil (dalam Perjanjian Baru). Melalui mereka inilah Allah berbicara kepada umat-Nya. Me-reka didatangi-Nya dengan firman-Nya, baik secara lisan (dengan kata-kata yang terdengar) mau-pun melalui gambar-gambar yang dimunculkan-Nya dalam benak atau pikiran mereka (berupa peng-lihatan atau vision). Firman Allah yang demikian itulah yang dituliskan oleh hamba-hamba-Nya tadi de-ngan bahasa mereka sendiri se-hingga manusia lainnya dapat me-mahaminya. Melalui orang-orang pilihan-Nya itu Allah menyatakan perasaan dan cinta kasih-Nya terha-dap manusia (secara umum) dan kepada umat Israel dan kepada orang-orang lainnya yang percaya kepada-Nya (secara khusus). Semua ben-tuk perasaan dan fir-man Allah tersebut di-tulis dan dikumpulkan dalam Alkitab.
2. Alkitab sebagai penuntun hidup
Dalam Alkitab, ma-nusia sering dianalo-gikan sebagai domba dan Allah sebagai Gembala. Mengapa demikian adalah ka-rena beberapa karak-ter domba dapat tam-pak dalam kepribadian manusia. Domba-domba yang pada umumnya memiliki sifat bodoh, suka mengganggu domba yang lain, suka mencari jalan sendiri, dan sulit mencari makanannya sendiri, serta dapat tersesat atau terjebak ke dalam jurang dan tidak dapat melepaskan dirinya sendiri dari jebakan itu. Selain itu, domba-domba diperhadapkan kepada sangat banyak tantangan dalam hidupnya. Kebertahanan mereka untuk hidup (survival) sering ter-ganggu dan terancam. Mereka da-pat sakit, susah, dan sengsara. Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 9: 36 sangat prihatin memperhati-kan keadaan banyak orang di dunia ini bagaikan domba yang tidak bergembala, ketika Ia datang sebagai manusia di bumi ini. Oleh sebab itu, sebagaimana domba-domba (sebagai hewan) membu-tuhkan gembala (yang adalah ma-nusia), maka manusia juga mem-butuhkan gembala (yang adalah Allah). Allah menjadi Gembala bagi umat-Nya dan mereka sebagai domba-domba-Nya. Bagaimanakah Allah menggembalakan umat-Nya? Yang paling pokok adalah melalui firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab, sebagaimana dikatakan oleh seorang Pemazmur dalam Mazmur 119:105 yang mengakui bahwa firman-Nya adalah pelita bagi kaki umat-Nya dan terang bagi jalan-jalan mereka. Allah menuntun umat-Nya melalui firman-Nya yang terdapat dalam Alkitab; Alkitab menjadi penuntun (guidence) bagi umat manusia. Dengan tuntunan Alkitab, diharapkan manusia yang bodoh dan lemah tetap dapat sampai kepada tujuan hidupnya asalkan mereka bersedia menerima tuntunan-Nya itu.
3. Alkitab sebagai cermin kehidupan
Manusia dalam keberadaannya telah melakukan banyak hal dan masih akan melakukan banyak hal lainnya. Berhubungan dengan ber-bagai hal yang telah dilakukannya itu, manusia membutuhkan cermin sebagai sarana untuk refleksi dan introspeksi. Cermin yang dimaksud di sini bukan cermin atau kaca di meja rias di dalam kamar kita yang bersisi dua dimensi, melainkan cermin yang fungsinya lebih dalam, yakni cermin atas suasana jiwa dan perilaku hidup. Sebagai manusia, kita membutuhkan suatu cermin yang dapat kita pergunakan untuk mengoreksi karakter, niat, dan tindakan kita. Cermin tersebut haruslah cermin yang jujur dan terang sehingga memiliki ’wibawa’ bagi kita. Cermin yang demikian adalah cermin yang dibangun dari firman Allah, sebab hanya firman Allah itulah kebenaran yang benar dan yang mampu un-tuk menguduskan kita (lih. Yoh. 17:17). Dan, se-mua firman Allah itu terdapat dalam Alkitab. Sebagaimana kita membutuhkan cermin di meja rias di rumah kita yang patut dipercaya untuk melihat wa-jah dan rambut kita, maka kita membutuhkan Alkitab untuk meli-hat sisi kejiwaan dan kerohanian dari hidup kita. Cermin rias wajah hanya akan memantulkan bagian luar diri kita, sementara Alkitab akan memantulkan situasi hati, emosi, tujuan hidup dan keberadaan kita yang sesungguhnya. Jika kita hendak mengetahui seutuhnya hidup kita, kita harus bercermin ke-pada Alkitab. Jangan mendahulukan untuk mema-hami keberadaan anda dari orang lain karena informasinya bisa salah dan jangan kepada diri sendiri karena setiap orang sering merasa baik menurut penilaian dirinya sendiri saja.
4. Alkitab sebagai buku sejarah dari berbagai karya dan keagungan Allah
Secara umum, sejarah adalah suatu catatan mengenai hal-hal yang sangat pokok yang telah terjadi di masa lampau dan dianggap sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan keberadaan manusia hari ini maupun di masa yang akan datang. Kebanyakan peristiwa yang terjadi di masa lampau memang tidak kita ketahui. Oleh sebab itu, perlu suatu buku yang secara teratur, jujur, dan lengkap yang menceritakannya kepada kita, meskipun tidak semua hal dapat diutarakan di dalamnya karena keterbatasan ruang. Apa-bila kita menghubungkan Allah dengan sejarah, maka kita harus mengakui bahwa Allah adalah Pribadi yang hadir dalam berbagai peristiwa yang terjadi, atau yang mengetahui segala-galanya. Selu-ruh peristiwa yang telah terjadi itu dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok masa dan peristiwa, yakni: (1) sejarah penciptaan manusia dan alam semesta; (2) se-jarah kemunculan bangsa-bangsa di dunia; (3) sejarah kejahatan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa; (4) sejarah perkembangan perada-ban manusia; (5) sejarah pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang akan memberkati seluruh bangsa; (6) sejarah keha-diran Allah dalam dunia; dan (7) sejarah penyelamatan manusia yang terhukum oleh karena keja-hatan dan dosa-dosanya. Semua kelompok masa dan peristiwa ini tercatat dalam Alkitab. Untuk me-ngetahui berbagai hal yang terkait dengan ketujuh masa dan peris-tiwa ini, mau tidak mau, kita harus membaca Alkitab, karena tidak ada sumber lain yang lebih lengkap dari Alkitab yang berbicara mengenai hal-hal tersebut.v
* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).