Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Dari Redaksi

Cuma 12 Persen, Kristen di DPR

Posted : 15 Juni 2009
Copy of cover 109 revis 2i.jpg
Syalom, dan selamat bersua kembali dalam edisi yang ke-109 ini. Saudara pembaca yang kami kasihi, hasil pemilu legislatif telah diumumkan. Bisa jadi banyak di antara kita merasa kurang berbahagia atas komposisi anggota DPR periode 20009-2014 tersebut,

sebab selain tiadanya lagi partai atau fraksi berlabel Kristen di Senayan, jumlah anggota DPR yang beragama Kristen pun hanya 66 orang, atau sekitar 12 persen dari seluruh anggota DPR yang berjumlah 560 orang. Dan mereka terserak di beberapa parpol nasionalis seperti: PDIP, Golkar, Hanura, Gerindra, Demokrat. Dengan kondisi seperti ini, lalu apa yang bisa diperbuat oleh para wakil rakyat dari golongan minoritas itu dalam memperjuangkan hak-hak konstituen?


Kemudian Rabu, 9 Juli 2009 mendatang, rakyat kembali ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih pimpinan nasional yang akan memerintah negeri ini hingga lima tahun ke depan (2014). Siapa yang layak kita pilih? Ini juga merupakan pertanyaan yang cukup serius. Sebab jika kita salah memilih, atau memenangkan capres yang “salah”, sama saja kita mengundang masalah besar yang akan menerpa bangsa dan negeri ini. Kita membutuhkan pimpinan nasional yang tidak hanya mampu membawa perbaikan ekonomi bagi bangsa dan negara, namun juga yang yang konsisten dan tegas dalam memperjuangkan dan membela pluralisme bangsa, yang memang merupakan jati diri bangsa ini sejak diproklamirkan 17 Agustus 1945 lampau.
Jika dilihat dari partai politik asal ketiga pasangan capres-cawapres, memang semuanya berlatar belakang nasionalis. Tapi dalam memilih capres kita harus men-cermati juga parpol-parpol peserta koalisi yang turut mendukung capres. Jangan memberi peluang bagi kelompok yang tujuannya hanya ingin mengubah negara ini tanpa mau melihat sejarah terbentuknya negeri ini. Ulasan kami dalam Laporan Utama kali ini kiranya bisa menuntun kita dalam menentukan pilihan capres-cawapres dalam pilpres, tiga pekan mendatang.
Saudara pembaca yang budi-man, dalam keprihatinan, kami mengulas peristiwa tawuran antar-mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dengan mahasiswa Universitas Persada-Yayasan Administrasi Indonesia (UP-YAI), pada 4 dan 5 Juli lalu. Dalam peris-tiwa yang sangat memalukan dan tidak seharusnya terjadi itu, banyak mahasiswa dari kedua belah pihak terluka terkena lemparan. Seba-gian bahkan harus dirawat di ru-mah-rumah sakit. Anggota masya-rakat yang sedang melintas di Jalan Diponegoro, Salemba, Jakarta, yang tidak ada kaitan dengan keributan yang “bodoh” itu pun ada yang menjadi korban terkena lemparan batu.


Entah sudah berapa kali peristiwa serupa terjadi, dan entah kapan kebodohan ini berakhir. Entah apa pula sebenarnya yang ada di belakang peristiwa ini? Ada yang berpendapat bahwa peristiwa ini tidak murni tawuran, karena ada oknum yang berperan di bela-kangnya. Konon ada urusan bisnis yang melatarbelakangi aksi-aksi kekerasan antar-anak kampus Diponegoro yang sudah berlang-sung sejak tahun 2000 ini. Ber-dasarkan selentingan, tanah milik UKI yang ada di Jalan Diponegoro tersebut, telah sejak lama diincar oleh oknum pengusaha yang ingin melebarkan sayap bisnisnya di kawasan yang memang sangat strategis tersebut. Dan untuk mewujudkan hal ini, UKI harus enyah! Dan salah satu cara agar UKI yang sudah berdiri di tempat itu sejak 1953 silam harus dibuat tidak betah. Maka aksi-aksi tawuran pun disulut. Benarkah selentingan ini? Semoga tidak.


Salemba dulu dikenal dengan “kampus perjuangan”. Salemba kala itu merupakan pusat perjua-ngan mahasiswa yang gigih melawan kesewenangan pemerin-tah. Maka naïf sekali jika ada oknum yang ingin membuat Salemba menjadi kawasan tawuran.
    
    

53
25 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.4167 sec | TOP
Online Support :