Kata-kata melecehkan, mene-kan, mengejek dianggap lelucon yang menghangatkan suasana, namun tenyata menghancurkan mental. Inilah yang disebut bullying. Jika didefiniskan “bullying” kira-kira berarti: perbuatan/tindakan kekerasan secara fisik, lisan, dan mental kepada orang yang lebih lemah sehingga menyebabkan rasa tertekan, takut, dan putus asa.
Ulah gerombolan ABG di atas me-ngakibatkan beberapa hal, seperti: rasa cemas, takut, gelisah, terancam, dan tertekan, mengurangi rasa pede, tidak mau bergaul, mengurung diri, dan tidak mau ke tempat di mana ia akan bertemu pelaku bullying.
Tasya pernah mengalami hal serupa. Sangat sulit bagi gadis ABG ini membaur dengan lingkungan baru, rasa takut tertolak yang menguasai pemikirannya, oleh karena semakin banyak teman-teman yang suka mengejek, menyudutkan teman yang lemah. Apalagi kondisi tubuh Tasya yang besar lebih dari usianya dan sifat pendiamnya, semakin menguatkan dirinya untuk sulit bergaul. Akibat yang lain adalah turunnya prestasi belajar, potensi diri, dan kreativitas, Pesimis, patah semangat, dan putus asa. Marah, malu, dan sedih, serba salah dan menyalahkan diri sendiri. Muncul-nya keinginan yang berlebihan di luar kemampuan, timbul rasa sakit hati, tidak bisa berkonsentrasi da-lam segala hal, menjadi pendiam dan pemurung.
Hal ini juga dialami Rifai (17) yang sebenarnya cukup supel dalam bergaul. Namun karena suara-suara sumbang dari teman-temannya yang selalu mengatai dirinya banci, karena tidak mau berantem atau membalas mereka yang menjahili-nya akhirnya menjadikan Rifai sulit berkonsentrasi pada pelajaran. Tindakan teman-temannya selalu dipikirkannya dan menekan dirinya untuk berontak namun tidak ber-daya. Ternyata dampak yang ditim-bulkan sangat mempengaruhi kehi-dupan korban (bully) dan ini sangat berbahaya bagi perkemba-ngannya.
Bullying ternyata telah merasuki kehidupan luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Walau-pun memang lebih banyak diprak-tekkan dalam kehidupan anak mu-da, yang suka membentuk geng, memiliki emosi yang tinggi. Lebih ekspresif, dan kadang cuek dengan lingkungan sekeliling.
Ada 5 kategori perilaku bullying yang dapat diamati melalui bebe-rapa tindakan. Psikologis: mem-fitnah, mempermalukan, mena-kut-nakuti, menolak, menghina, melecehkan, mengecilkan, mener-tawakan, mengancam, menyebar-kan gosip, mencibir, dan mendiam-kan. Fisik: menendang, menem-peleng, memukul, mencubit, men-jotos, menjewer, menyuruh lari keliling lapangan, menyuruh push up, membersihkan WC, dan me-malak. Verbal: berteriak, meledek, mengata-ngatai, name calling, mengumpat, memarahi, dan memaki.
Setelah diamati ternyata bullying bukan hal baru, ini merupakan tindakan yang sudah lama dan sering terjadi tapi kadang tidak disadari dalam lingkungan sehari-hari. Guna mengantisipasi dan menghadapi bullying, diperlukan peranan dan kerja sama orang tua bersama lembaga pendidikan. Lingkungan membentuk seorang pribadi bertumbuh dan menjadi seperti apa. Maka membangun komunikasi yang lebih baik, me-nerapkan pendidikan yang benar, memberi contoh dan teladan hidup yang baik untuk diwariskan. Menciptakan lingkungan dan ko-munitas positif untuk saling meng-hargai dan menghormati, serta mencintai. Ini adalah kekuatan mencegah, dan membasmi bullying. Media dan lingkungan yang jelek tidak menjadi alasan untuk membiarkan bullying semakin luas, sebaliknya memberi perhatian dan kesadaran untuk menghadirkan perhatian, cinta, perhatian, dan kebenaran bersikap. ?Lidya