Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Konsultasi Keluarga

Ayah Kasar, Ibu pun Terpuruk

Posted : 13 Mei 2009
1096_200_133.jpg
Bersama Esther Gunawan, M.K.
Ibu Pengasuh yth. Saya mau bertanya, apakah memang benar bahwa rasa percaya diri wanita dapat merosot/ terpuruk karena menikah dengan suami berwatak buruk? Pertanyaan ini saya ajukan sehubungan dengan kondisi ibu saya yang kini berusia 63 tahun. Semakin tua beliau semakin bergantung pada anak dan suami, sering takut ambil keputusan, katanya takut salah. Kalau berada di tengah orang banyak dia lebih banyak diam. Dia tidak mau jika diminta pelayanan di gereja. Padahal waktu muda, beliau itu periang, berani dan percaya diri. Ayah saya memang pemarah dan sering berkata kasar pada Ibu, seperti: “bodoh, tolol, tidak becus”, bahkan—maaf—ibu kadang dibilang “pelacur”. Semula saya pikir mereka tidak saling mencintai, tetapi anehnya ayah tidak tahan kalau lama-lama ditinggal Ibu. Beliau marah jika Ibu dirasa terlalu lama di gereja atau ke rumah teman. Ibu pun juga setia pada ayah dan tidak pernah berpikir untuk bercerai. Apa yang harus kami lakukan selaku anak-anak terhadap kedua orangtua kami? Erna Jakarta
ERNA, saya dapat membayangkan    bagaimana suasana rumah  dengan sikap ayah seperti yang Erna gambarkan. Sebagai anak seringkali kita tergencet di tengah-tengah dan tidak tahu bagaimana sebaiknya bersikap.
Sikap Ayah sudah jelas menunjuk-kan bahwa dia melakukan emosional abusive atau penganiayaan secara emosional pada Ibu. Penganiayaan secara emosi terjadi jika seseorang melakukan tindakan tertentu atau mengatakan hal-hal yang merendahkan dan melecehkan pribadi orang lain, termasuk kemampuannya, dll. Bisa dengan cara memaki, mengejek, menyindir, atau berkata kasar  yang dilakukan berulang-ulang. Kalau penganiayaan fisik yang disakiti adalah tubuh seseorang, penganiayaan emosi yg disakiti adalah hati/jiwa seseorang.
Dampak dari emosional abuse terhadap orang yg menjadi korban cenderung lebih buruk daripada physical abuse. Ibaratnya kalau tubuh sakit bisa cepat sembuh, sedangkan kalau hati yang terluka pasti lebih lama sembuh. Pengaruhnya bahkan bisa melekat selama bertahun-tahun. Jadi, memang benar dugaan Erna bahwa sikap Ibu sekarang merupakan dampak/akibat dari perilaku Ayah yang diterimanya selama ini. Jika bertahun-tahun kita menerima perlakuan demikian, sedikit demi sedikit harga diri dan percaya diri kita digerogoti, identitas kita pun dapat terancam dan bahkan kehidupan rohani dapat terhambat.  
Dari apa yang Erna paparkan, tampaknya ayah dan ibu mempunyai suatu relasi yang disebut co-dependency/kodependensi, yaitu suatu kebergantungan yang tidak sehat secara psikis/emosi. Kodependensi bisa terjadi di antara sepasang suami-isteri atau kekasih. Di dalam hubungan kodependensi yang seorang bertindak memaksakan kemauannya atau mendominasi pihak lain untuk mendapatkan rasa aman, harga diri dan identitas karena sebenarnya dia sendiri kurang kasih sayang. Sedangkan pihak satunya hanya dikendalikan dan memberikan reaksi saja sehingga akhirnya kehilangan jati diri dan mengalami kekeringan secara psikis dan rohani. Keduanya tentu saja sulit untuk bertumbuh dan berkembang dengan sehat. Tetapi anehnya keduanya biasanya juga tidak mau berpisah satu sama lain. Itu sebabnya disebut kebergantungan yang tidak sehat.
 Apa saja yg Erna dan saudara-saudara bisa lakukan? Beberapa masukan di bawah ini mudah-mudahan bisa membantu :
1. Berikanlah penghargaan dan pujian pada Ibu untuk apa yg sudah ia lakukan, meskipun hal-hal itu sederhana atau tampak kecil. Hal ini besar sekali artinya karena dapat meningkatkan kembali harga diri dan perasaan berharga pada Ibu. Sebaiknya anak-anak juga sedapat mungkin tidak ikut mengkritik atau menyalahkan Ibu, karena seringkali anak bisa ikut menjadi kurang hormat pada Ibu karena melihat Ayah yang sering merendahkan Ibu. Terhadap Ayah pun berusahalah tetap hormat dan menghargai meskipun Erna mungkin merasa sulit melakukannya mengingat sikap ayah pada Ibu. Ayah tentu punya persoalan tersendiri sehingga bersikap begitu, itu sebabnya beliau pun perlu ditolong. Saya menganjurkan akan lebih baik jika ayah dan ibu didorong untuk konseling pada konselor Kristen yang memahami masalah ini. Dengan begitu hubungan keduanya dapat dibangun dengan lebih sehat.
2. Menjadi teman bagi Ibu yang dapat menyediakan tempat untuk curhat atau menampung unek-uneknya. Kembangkanlah sikap empati pada Ibu sehingga ia merasa dimengerti dan diterima apa adanya.
3. Mendorong Ibu untuk mengembangkan relasi dengan orang lain, misal dengan terlibat dalam pelayanan di gereja, atau yang lain. Pada awalnya mungkin tidak gampang mendorong Ibu, dan Ayah tentunya bisa dengan sengaja menghalang-halangi. Tetapi Erna bisa merencanakan pelayanan yang tidak terlalu banyak memakan waktu sehingga memper-kecil kemungkinan Ayah akan komplain. Selain itu, untuk sementara waktu anak-anak bisa bergantian mendampingi Ibu sampai kemudian beliau menjadi lebih percaya diri.
4. Mendorong Ibu untuk mengembangkan hubungan dengan Tuhan Yesus. Hal ini sebenarnya paling utama. Bisa dimulai dengan mengajak Ibu berdoa bersama secara rutin. Jika memungkinkan Ayah juga dilibatkan. Tuhan Yesus bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga dan yang kita tidak bisa lakukan. Dia bisa menyempurnakan apa yang Erna lakukan pada orangtua.

Demikian kira-kira masukan dari saya. Tuhan Yesus kiranya memberikan hikmat dan mencurahkan kasih-Nya bagi Erna dan keluarga.v

59
27 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 22.751 sec | TOP
Online Support :