Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
DALAM Perjanjian Lama khususnya pada kitab Imamat, Allah menetapkan berbagai syarat dan peraturan yang sangat detail tentang bagaimana umat Allah dapat memperoleh pe-ngampunan atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Syarat utama untuk pengampunan dosa bagi umat Israel adalah dengan mem-bawa korban penebus dosa atau kesalahan berupa lembu, domba, kambing, burung merpati yang tidak bercacat atau yang terkecil yaitu tepung terbaik. Syarat uta-ma korban berupa binatang harus tidak bercacat dan semua korban tersebut haruslah diserahkan ke-pada para imam untuk disembelih dan dibakar sebagai korban per-sembahan kepada Allah. Para imam harus lebih dahulu mempersem-bahkan korban bakaran bagi peng-ampunan dosa mereka dan keluar-ganya dan kemudian bagi umat Israel (Im. 16:11-15, 19:22, dst).
Kitab Imamat secara luas dan detail menggambarkan peraturan dan persyaratan mengenai korban bakaran untuk penebusan dosa atau keselamatan umat-Nya, bahkan berkaitan dengan kasus per kasus yang terjadi dalam kehidupan umat Israel sehari-hari. Hal ini sangat jelas menegaskan bahwa Allah ingin mengajarkan dan kepada umat-Nya suatu kebenaran mengenai betapa seriusnya Allah terhadap kekudusan umat-Nya dan menegaskan bahwa Ia Allah yang kudus: “”Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Im. 19:2; 20:6). Setiap kali umat Allah melakukan dosa dan kesalahan kepada Allah, maka peraturan itu harus ditaati dan mereka harus membawa korban penebusan kepada Allah melalui imam, bahkan setiap tahun imam besar harus memasuki ruang kudus di kemah pertemuan untuk menyampaikan korban pengam-punan dosa dan doa-doa pengakuan dosa kepada Allah (Im 16; Ibr. 9:7).
Korban yang tak sempurna
Sekalipun begitu lengkap dan begitu detail peraturan yang dite-tapkan Allah bagi umat-Nya ber-kaitan dengan dosa dan pengam-punan mereka, namun tidak berarti peraturan itu cukup atau telah sempurna memenuhi tuntutan kekudusan Allah. Allah menuntut korban yang sempurna bagi penebusan dosa dan keselamatan umat-Nya, dan di bawah kolong langit sudah tidak ada manusia yang tidak berdosa, semua cacat dan bersalah di hadapan Allah. Lalu dengan apa manusia dapat menebus dosa dan kesalahannya sehingga layak di hadapan Allah? Mazmur 49 mengatakan terlalu mahal harga tebusan nyawa orang berdosa sehingga tidak ada manu-sia yang bisa membayarnya, bahkan nasib manusia sama dengan bina-tang yang hanya menunggu kema-tian saja. “Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau mem-berikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya –” (Mazmur 49:8-9).
Jelas sekali korban binatang atau materi apa pun sebetulnya tidak akan pernah cukup untuk dapat membayar tebusan dosa manusia bahkan untuk dosa satu orang pun. Pastinya semua korban baka-ran binatang tidak akan pernah menyelesaikan perkara dosa manusia di hadapan Allah, sehingga semua itu sebetulnya sama sekali tidak dapat membawa manusia kembali kepada Allah dan memasuki tempat kudus Allah yang sesungguhnya. Kekudusan meru-pakan suatu kondisi yang yang dituntut Allah supaya manusia layak bertemu dengan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua dan untuk dapat memasuki kemah Allah di sorga, hal ini sering ditegaskan oleh Paulus (1 Tes. 3:13, 5:15; Ef. 1:4; Fil. 1:10). Oleh karena itu Allah sendiri dalam kasih dan anugerah-Nya yang besar telah menyatakan keselamatan yang sempurna dan dengan korban yang sempurna yaitu melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib supaya dosa-dosa umat Allah diampuni. (Yoh 3:16; Rom 5:8).
Imam dan korban sempurna
Untuk dapat memuaskan dan memenuhi tuntutan kekudusan Allah demi penebusan dosa-dosa manusia hanya ada satu pribadi yang dapat memenuhinya yaitu pribadi Yesus Kristus anak Allah yang tunggal, anak domba Allah, sebagaimana dikatakan Rasul Yohanes: Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang mengha-pus dosa dunia.” (Yoh 1:29). Kristus adalah korban sempurna, karena Ia yang ditetapkan Allah (Kristus/Mesias = yang diurapi) dan satu-satunya korban yang layak dan sempurna bagi Allah untuk menjadi korban tebusan dosa manusia: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor. 5:21). Proses penebusan dan pengampunan dosa di dalam Kris-trus memiliki kemiripan dengan yang terjadi di dalam Perjanjian Lama, yaitu dengan pemberian korban tebusan dosa yang harus diantar-kan oleh seorang imam.
Mengapa Yesus harus datang ke dunia menjadi manusia dan harus mencurahkan darah-Nya yang kudus di kayu salib? Hal ini berkaitan dengan tuntutan pengampunan dosa sesuai dengan tuntutan Taurat, nyawa manusia ada dalam darahnya dan harus dibayar dengan darahnya, dan tidak ada pengam-punan sejati tanpa penumpahan darah (Im. 17:11; Ibr. 9:22). Darah Yesus bukan darah manusia biasa, darah Yesus adalah darah yang mahal yang tak dapat digantikan dengan harga apa pun: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melain-kan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Pet 1:18-19).
Penyucian di kayu salib
Yesus adalah korban tebusan yang akan dikorbankan di kayu salib dan Yesus adalah imam yang tak berdosa yang menghantarkan dan mempersembahkan korban terse-but (Ibr 9:14). Alasan lain me-ngapa Yesus adalah korban sem-purna adalah karena Yesus hanya perlu melakukan satu kali persembahan korban penebusan di kayu salib untuk semua dosa umat-Nya. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga.” (Ibr 7:25-26).
Kematian Kristus di kayu salib merupakan pembayaran tebusan yang bedampak pada pembebasan dari tuntutan hukuman dosa, pendamaian dengan Allah dan melayakkan orang percaya berse-kutu dengan Allah dan dianggap kudus dan tak bercacat di hadapan Allah (Kol 1:20-22). Jikalau Kristus sudah mati di kayu salib untuk membayar korban tebusan atas semua dosa-dosa kita, baik yang lampau, sekarang dan masa datang bukan berarti setiap orang Kristen boleh hidup sembarangan dan menganggap remeh pengu-dusan. Tuntutan hidup kudus merupakan kerinduan terbesar Allah setelah menguduskan umat-Nya, dan tentunya akan sangat menyakitkan hati Tuhan kita Yesus Kristus jika kita menganggap remeh kekudusan-Nya dan jika kita terus menerus hidup dalam dosa.
Leonard Ravenhill menulis: “Keajaiban Allah terbesar hari ini adalah mengambil seorang ber-dosa dari dunia berdosa dan mem-buatnya kudus dan kemudian mengembalikan orang tersebut ke dalam dunia berdosa dan menjaga-nya tetap kudus”. Perjuangan untuk hidup kudus adalah sebuah peperangan, seperti diucapkan J.C. Ryle: “There is holiness without a warfare” namun Allah juga tidak berhenti menguduskan kita di kayu salib, Ia terus menopang dan menginginkan pengudusan itu dalam hidup kita: “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” (1 Kor. 1:8). Soli Deo Gloria.v
Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.