Pada 1990 Selvi. D. Hallatu mengabdikan diri di salah satu panti wreda yang ber-lokasi di Kwitang, Jakarta-Pusat. Selama mengabdi pada yayasan ini, dia melihat bahwa yayasan ini hanya menerima orang lanjut usia yang sehat secara jasmani rohani dan masih mandiri saja. Yayasan ini juga dikhususkan bagi lanjut usia wanita yang berusia lima puluh sampai dengan tujuh puluh tahun saja, jadi tidak menerima lanjut usia pria.
Suatu hari Selvi mengalami suatu peristiwa, di mana salah satu jompo yang dibawanya ke sebuah rumah sakit di Jakarta diperlakukan de-ngan kurang menyenangkan. Dia hanya bisa sedih dan prihatin. Baginya, orang jompo yang sudah dalam keadaan lemah seharusnya mendapat perhatian khusus oleh pihak rumah sakit. Ketika Selvi menyampaikan bahwa orang jompo yang dibawanya seharusnya menerima perawatan yang lebih baik lagi, malah terjadi perdebatan dengan perawat rumah sakit tersebut. Pengalaman semacam itu sering berulang. Dan hal terse-but mengetuk hati ibu dari tiga anak ini untuk mendirikan sebuah yayasan yang dapat menampung para lanjut usia sakit. Niat tersebut digumulkannya lewat doa, mendis-kusikannya dengan teman-teman dekatnya. Akhirnya niat mulia tersebut pun mendapat dukungan teman-temanya dari kalangan medis.
Pada 19 Juli 1997, didirikanlah yayasan yang dapat menerima lanjut usia yang sakit. Saat pertama didirikan, yayasan yang diberi nama Yayasan Getsemani ini bertempat di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur. Di luar dugaan, semakin ba-nyak orang jompo yang ditampung di sini. Pertambahan ini membuat-nya berpikir untuk mencari tempat yang dapat menampung lebih banyak orang jompo lagi. Akhirnya dia mengontrak sebuah di Depok, Jawa Barat, yang dapat menam-pung lebih banyak penghuni. Hingga kini, tempat ini menjadi rumah jompo sekaligus tempat perawatan bagi para lanjut usia yang sakit. baca selanjutnya dalam REFORMATA edisi 107