Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Manajemen Kita

PERUBAHAN

Posted : 05 September 2008

Oleh Harry Puspito*

 Everything flows; nothing remains (Heraclitus 540 SM–480 SM, Filsuf Yunani)  

 

Semua entitas hidup seperti manusia atau organisasi mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya mengikuti suatu ‘lifecyle . Pola siklus hidup yang umum adalah dimulai dari kelahiran, pertumbuhan,

, perlambatan, menurun dan terakhir kematian.  

Manusia secara fisik mengalami perubahan khas seperti itu, yaitu dari tahapan bayi, anak-anak, dewasa, tua dan akhirnya meninggal. Lama masing-masing tahap untuk setiap orang bisa berbeda. Bagaimana cara hidup seseorang, akan mempengaruhi kecepatan kemerosotan fisik dan usia seseorang.

Di samping unsur fisik, manusia juga mengalami perubahan-perubahan lain, antara lain, kerohanian, mental dan perilaku. Bagaimana siklus hidup unsur-unsur non-fisik ini? Tampaknya model siklus yang sama cukup umum terjadi tapi bisa juga berbeda. Kalau kita lihat perubahan perilaku seseorang, misalnya, bisa pada masa muda seseorang berperilaku baik, pada masa dewasa memasuki dunia kerja tidak tumbuh, pada usia tertentu merosot – misalnya, mulai kurang jujur, dan pada titik tertentu masuk penjara, akhirnya hancur hingga akhir hayatnya.  

Namun ada orang yang memulai dengan masa anak-anak yang nakal, masa pemuda menjadi berandalan dan pada waktu tertentu dalam hidupnya berubah menjadi baik dan terus bertumbuh. Tentu, ada tapi mungkin tidak banyak orang yang mengalami pertumbuhan yang sehat dalam keluarga yang baik-baik dan terus bertumbuh secara progresif dari kecil hingga akhir hayatnya.

Secara rohani Alkitab berbicara tentang bayi rohani dan dewasa rohani. Bayi rohani diharapkan haus akan ‘susu yang murni dan yang rohani’. Namun Paulus menyebut jemaat Korintus yang dari segi umur sudah dewasa sebagai bayi-bayi rohani yang baru bisa menerima ‘susu’ belum bisa menerima makanan keras (1 Korintus 1:1-3). Jelas dalam kerohanian pola pertumbuhan atau perubahan orang bervariasi.

Perubahan satu aspek hidup manusia jelas bisa mempengaruhi aspek yang lain. Ketika seseorang menjadi semakin tua, ketika fisik merosot, dia bisa menjadi semakin sabar, bijak; atau sebaliknya, menjadi semakin pemarah, berperilaku seperti anak-anak.  

Organisasi seperti perusahaan tidak bisa statis karena lingkungan yang terus berubah. Perubahan-perubahan pada masyarakat, teknologi, ekonomi, politik, dsb dan aktivitas kompetisi mengharuskan organisasi berubah kalau tidak mau ketinggalan, menjadi tidak relevan dan harus mengalami kematian. Organisasi berubah ketika manusia-manusianya berubah, baik dalam sikap maupun ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan. Oleh karena itu setiap anggota organisasi harus siap berubah mendukung perubahan yang terjadi dalam organisasi. Pemimpin dituntut menggerakkan perubahan itu.  

Manusia mengenali pentingnya perubahan sehingga begitu banyak pembelajaran tentang perubahan. Sebagai indikasi, kalau kita search dengan Google di internet dengan kata ’change’, akan ditampilkan 1.450 juta hasil. Ini adalah 8 kali hasil untuk search kata ’leadership’; dan lebih dari 3 kali kata ’success’ yang bahkan sangat didambakan semua orang.

 

Alkitab menegaskan orang percaya harus berubah (Roma 12:2). Alkitab berbicara tentang berubah yang dari dalam untuk melawan arus perubahan pengaruh dari luar; perubahan pada akal budi; yang terus-menerus; yang rohani; menuju kesempurnaan. Jika akal budi berubah maka dengan sendirinya dan dengan mudah perilaku seseorang akan berubah.  

Dalam bahasa Inggris arti kata ”berubah” adalah menjadikan berbeda dalam beberapa hal. Arti lain yang lebih pas dengan tema tulisan adalah membuat berbeda secara radikal dan sinonim kata ”berubah” untuk arti ini adalah transformasi, yaitu perubahan yang signifikan dalam penampilan atau karakter khususnya untuk menjadi lebih baik. Sinonim lain adalah metamorfosis yang dipakai pada perubahan bentuk (dan karakter) dari ulat yang jelek menjadi kepompong dan akhirnya kupu-kupu yang cantik.

Bagi pribadi maupun organisasi, perubahan adalah proses yang bisa diarahkan untuk menuju situasi yang lebih baik. Dengan demikian kita seharusnya melihat dalam perubahan ada potensi yang perlu kita capai menjadi kenyataan. Ini adalah perjuangan kita sepanjang Tuhan masih memberikan kita kesempatan.  

Kesadaran-kesadaran akan perubahan ini penting karena tanpa ini dia tetap akan mengalami perubahan tapi tanpa arah. Ketika tidak diarahkan perubahan yang terjadi adalah kemerosotan. Seperti rumah yang tidak ditinggali, setelah berapa lama, rumah yang baru pun akan rusak, dari halaman yang ditumbuhi rumput liar, lantai yang retak, atap yang melorot dan bocor, dsb.  Tepatlah yang dikatakan satu ayat Alkitab yang menyatakan ”As a man think so is he” (Amsal 23:7). Tuhan memberkati.v

 

 

 

*Penulis adalah partner di Trisewu Leadership Institute

 

 

55
34 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net