Search
Translator
Laporan Utama
Selebaran-KristenisasiPicu-Penutupan-Rumah-Ibadah.jpg
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
Login
User ID :
Kata Sandi :
Laporan Khusus
Menanti-Mayat-Hidup-Kembali.jpg
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Jejak

14 April 2009

Johann Baptist Metz, Usung Gagasan Teologi Politik

Johann Baptist Metz.jpg
REFORMATA --KAMIS, 9 April 2009 yang  baru lalu, bangsa Indonesia melaksanakan pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) legislator. Di sini seluruh masyarakat, juga umat kristiani, dituntut punya andil dan bertang-gung jawab terhadap bangsa ini dengan cara menggunakan hak pilihnya.  Karena tindakan tersebut merupakan satu ekspresi iman yang nyata dari umat, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap ranah sosial di mana ia berada.   
Hal ini bukannya tidak berdasar. Dalam Konsili Vatikan II (1962 -1965), Gereja Katolik telah menyatakan dengan sangat gamblang bagaimana gereja harus berpartisipasi aktif dalam ranah sosial.  Di sana diuraikan bahwa
yang utama bukan lagi gereja, melainkan seluruh umat manu-sia yang sekaligus merupakan keluarga Allah. Gereja sendiri pun dibentuk atas keprihatinan universal Allah. Karena itu, gereja memiliki legitimasi selama, dan sejauh dia mengabdi umat manusia.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, Johann Baptist Metz, seorang teolog asal Jerman, kembali mengusung gagasan teologis yang disebutnya sebagai teologi politik.  Teologi politik dimaksudkannya untuk  memberikan pendasaran teologis terhadap urgensi partisipasi gereja dalam ruang publik. Bagi Metz, kebenaran iman bukanlah sekadar sebuah persoalan doktrinal atau dogma, lebih dari itu adalah bagaimana gereja berperan nyata dalam ranah sosial untuk mendorong perubahan dalam masyarakat.

Profesor Fundamental Teologi di Wilhelms di Universitas Munster, Jerman ini memiliki pergumulan tersendiri terhadap relasi antara gereja dan masyarakat. Menurutnya, relasi gereja dan masyarakat adalah masalah yang sangat penting – peran agama dan umat harus betul-betul diekspresi-kan secara nyata dalam kepedulian-nya  terhadap kemiskinan, juga banyak masalah sosial lain yang membutuhkan uluran tangan.  Bagi Johann Baptist Metz inilah yang dimaksud gereja dalam arti yang sebenarnya, sebuah institusi religius yang tidak melulu memikirkan kebutuhan internal, namun mampu memberi sinar terhadap lingkungan sosialnya sebagai wujud terang dunia.   

Dalam banyak esai yang ditulisnya, pria kelahiran 5 Agustus 1928, di kota kecil Auerbach ini juga kerap mengusung tema tentang keharmonisan antara rohaniwan, umat dan lingkungan sosialnya, yang di dalamnya sarat dengan kritik juga arahan yang bijak. Karena memang bagian dalam tugasnya sebagai uskup Katolik Roma imam dari Bavaria (Auerbach).  
Tak hanya itu, dia  dalam bukunya (Fatith in History and Society: 1977), Metz juga banyak mengetengahkan tentang apa itu memori penderitaan (memoria passionis) dan memori kematian (memoria mortis) memori yang diinspirasikan dari penderitaan Yesus di salib, dan semua saja yang menderita. Sebuah memori yang juga telah membentuk identitas seseorang. Sebab barang siapa telah kehilangan memorinya, sama artinya dia juga telah kehilangan identitasnya.   

Dalam tema ini Metz mengingatkan betapa penting orang mengingat-ingat kembali memori yang telah lampau, tak terkecuali memori tentang penderitaan, kesengsaraan juga berbagai kesusahan lainnya.  Sebab hal ini akan memunculkan dampak yang sangat positif.  Tak hanya membuat orang akan terus bersyukur dengan keadaan yang sedang dijalaninya, tapi juga membantu orang dalam memotivasi diri untuk terus progres ke depan.

Bukankah keberadaan Kristen di dunia ini dilatarbelakangi dengan kesengsaraan, penderitaan, dan berbagai kesulitan lain?  Ya, memori itu tak mungkin dan tak boleh terlupakan, sebab dari situlah umat memperoleh identitas sebagai kristiani.  

Dalam konteks sekarang ini, bukankah tidak ada salahnya jika bangsa Indonesia  mengingat kembali memori penderitaan yang mungkin tak lagi di hiraukan oleh banyak orang?  Dengan mengingat kembali memori penderitaan bangsa, niscaya, orang akan memperoleh kembali semangat persatuan dan perjuangan untuk merangkak maju menuju negara yang lebih baik lagi.  Slawi/dbs

Others