Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Konsultasi Keluarga

Tinggalkan Selingkuhan, Suami Kembali ke Istri

Posted : 14 April 2009
selingkuh.jpg

Bersama
Pdt. Yakub Susabda, Ph.D

Bapak Pengasuh yang terhormat.
Kesetiaan saya menanti suami saya kembali, ternyata tidak sia-sia. Akhir bulan Februari 2009 lalu, saya mendapat informasi kalau wanita yang selama ini tinggal bersama suami saya sudah pulang ke rumahnya. Suami saya pergi meninggalkan dia, dan tinggal di tempat yang berbeda. Kini suami saya mulai sering mengunjungi saya dan anak saya. Ada beberapa kegiatan ibadah keluarga di mana dia mulai terlibat. Saya berharap inilah tanda-tanda dari kebaikan Tuhan, kalau suami saya akan kembali.
Bagaimana menurut Bapak, apakah saya tidak perlu mengungkit atau bertanya tentang masa lalunya dengan wanita itu? Apakah saya harus membiarkan semua mengalir sesuai waktu? Apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi kondisi saat ini dengan suami? Apakah ini benar-benar tanda kalau dia akan kembali pada kami?
Serly
Ambon

REFORMATA --SAUDARI Sherly, setiap  individu menyimpan banyak  misteri atau secret.  Feodor Dostoevski pernah mengatakan bahwa di dalam kedalaman lubuk hati manusia, ada “Something that one can not reveal, except to his friend, . . . even though in secret.  But there is something else that one can not reveal, even to himself. (Setiap orang menyimpan rahasia, yang tak mungkin dapat disingkapkan kecuali kepada sahabatnya.  Meskipun demikian, biasanya orang masih menyimpan rahasia lain lagi yang tak mungkin dapat ia singkapkan kepada sahabatnya, karena ia hanya dapat singkapkan kepada dirinya sendiri.  Tetapi, di samping semua itu, orang mungkin masih memiliki secret lain lagi yang ia sendiri tak ingin singkapkan bahkan kepada dirinya sendiri.”

Apa yang terjadi dengan suami Anda memang bisa dianalisis melalui percakapan konseling. Meskipun demikian, analisis seorang konselor selalu terbatas.  Realitanya, setiap manusia masih menyimpan berbagai secrets yang ia sendiri tidak sadari atau tidak ia inginkan untuk disadari.  Itulah misteri dari kehidupan jiwa manusia.  Setiap manusia menyimpan unpredictability/ketidakpastian dalam jiwanya.  Apalagi jikalau kepribadian individu tersebut tidak matang/immature dan membawa benih-benih “disorder” dalam jiwanya.
Jadi, bersyukurlah kepada Tuhan, kalau suami sudah kembali.  Janganlah Anda melampiaskan keinginan tahu Anda dengan menanyakan atau mengungkit-ungkit apa yang sudah terjadi, sampai suami sendiri yang menunjukkan kesediaannya untuk membuka semua itu.  Tugas Anda sekarang adalah mendukung dan meneguhkan “pertobatannya,” dengan a.l.: (1) terus mendoakan kehidupan dan pertumbuhan imannya, dan (2) memberikan kasih dan pelayanan Anda sebagai istri “yang saleh dan baik budi” kepadanya.  Sentuhlah hati nuraninya dengan cinta kasih supaya ia menemukan bahwa Anda, dan hanya Andalah yang pantas untuk dicintainya (ia menemukan “reasonable reason to love”).

Hubungan suami-istri harus dikerjakan dan dikembangkan.  Anda harus menyadari bahwa, cinta tak dapat dibiarkan tumbuh secara natural.  Setiap manusia adalah manusia yang berdosa.  Cinta alami (natural love) bagaimanapun indahnya tidak dapat memberikan jaminan dalam kehidupan pernikahan dan keluarga.  Hidup ini terus berubah.  Perasaan, penilaian, persepsi, pikiran dan kebutuhan manusia pun terus bergerak dalam perubahan-perubahan.  Apa yang dulu disukai dan dinikmati, bisa berubah menjadi sesuatu yang membosankan, memuakkan bahkan dibenci.  Anda harus belajar dari pengalaman dan tidak mengulang kelemahan dan kecerobohan dalam membangun dan menghidupi pernikahan Anda.
Jadi, kenali diri Anda, suami, dan kehidupan pernikahan dan atau keluarga Anda.  Siapakah diri Anda dan apakah yang Anda butuhkan dalam pernikahan?  Bagaimana Anda memenuhi kebutuhan tersebut (primer maupun sekunder)?  Apakah cara yang Anda pakai untuk memenuhi berbagai kebutuhan Anda dapat diterima dan dipahami oleh suami?  Apakah ia menikmati atau sebaliknya, merasa terganggu dengan cara dan bahasa komunikasi Anda?  Siapa sebenarnya suami Anda?  Apakah Anda mengenal dia sebagaimana ia inginkan untuk dikenali oleh Anda?  Apakah yang ia butuhkan dalam pernikahan dan pembentukan keluarga ini?  Apakah kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat Anda terima, mengerti, dan hargai, atau . . . sebaliknya, Anda sebenarnya menilai kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan yang “tidak benar,” sehingga tidak seharusnya Anda penuhi.

Kita semua manusia berdosa yang menyimpan kebutuhan-kebutuhan untuk melampiaskan berbagai dosa.  Dalam ikatan pernikahan, kita berinteraksi dan melakukan berbagai transaksi dengan pasangan kita.  Dalam konteks itulah, kita mem-butuhkan kedewasaan dan bijaksana surgawi dari Tuhan.  Itulah sebabnya, menghadapi suami yang pernah melakukan dosa perselingkuhan (dan atau pelampiasan dosa-dosa yang lain), Anda harus kembali kepada Tuhan.  Pembaharuan harus dimulai dengan diri sendiri di hadapan Tuhan.  Karena hanya dengan starting point yang benar Anda dapat memulai langkah-langkah yang benar untuk meng-hadapi suami.
Tuhan memberkati Anda.sw
64
21 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 23.4905 sec | TOP
Online Support :