Syalom. Salam dalam kasih Tuhan Yesus. Pertama sekali dan yang paling utama, kami sapa Anda semua dengan ucapan “Selamat Paskah”, selamat merenungkan kasih Yesus yang mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan kita semua. Selamat
menggunakan hak pilih dalam pesta demokrasi pada hari Kamis, 9 Maret 2009. Dalam pesta rakyat kali ini ada 38 partai politik (parpol) yang bertarung merebut suara rakyat. Parpol-parpol tersebut dapat diklasifikasikan sebagai partai nasional dan partai agama—dengan catatan beberapa partai agama lebih suka menyebut diri sebagai partai nasionalis. Tak jadi masalah, yang penting berjuang untuk rakyat.
Pemilu kali ini boleh dikatakan tidaklah mulus-mulus amat. Satu minggu menjelang hari “H” itu, masih saja ada suara-suara sum-bang yang menyebutkan bahwa pada dasarnya kita belum siap. Misalnya, banyak pendistribusian surat suara yang tidak tepat tujuan. Bahkan hampir setiap hari kita membaca tentang banyaknya
surat suara yang rusak.
Prihatin dengan masalah ini, sejumlah parpol malah mengusul-kan agar hari pencontrengan itu ditunda dulu. Terang saja, usul ini ditolak mentah-mentah parpol yang merasa diri sudah siap. Mungkin mereka sudah sangat yakin akan sukses meraup banyak suara, sekalipun pelaksanaan pemungutan suara banyak yang amburadul. Bagi parpol semacam ini, yang penting adalah kelompok-nya bisa memenangkan sebanyak mungkin suara, bila perlu dengan cara-cara yang tidak etis atau bahkan menghalalkan segara cara.
Pro-kontra tentang golput me-mang sudah selayaknya diakhiri. Bagi warga yang mendapat kehor-matan untuk memberikan suara-nya, agar menggunakannya de-ngan bertanggung jawab. Artinya, pilihlah parpol atau caleg yang kita yakini serius dan tulus memper-juangkan pluralisme atau keaneka-ragaman yang didesain Tuhan untuk negeri ini. Salah pilih parpol atau caleg berarti membuka pe-luang bubarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Saudara yang terkasih, euforia kemenangan Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat tampaknya belum usai di Indonesia. Tekad “perubahan” yang diusung Obama dalam masa-masa pencalonan dirinya, juga ditiru oleh banyak parpol atau caleg yang akan bertarung dalam Pemilu 2009 ini. Tengok saja, dalam selebaran dan spanduk, banyak kata-kata “perubahan” yang diusung parpol atau caleg. Entah perubahan apa lagi yang mereka maksudkan, mereka jualah yang mengerti.
Baru beberapa bulan menjabat, Presiden Barack Obama sudah mulai mendapat kecaman dari ber-bagai pihak. Vatikan, misalnya mengecam presiden pertama dari kalangan kulit hitam ini sebab men-cabut beberapa larangan yang di-buat semasa presiden sebelumnya.
Setelah menjadi penguasa di Gedung Putih, Obama misalnya mencabut larangan yang berkaitan dengan masalah aspek moral sek-sualitas, khususnya mengenai kebebasan aborsi, homoseksual dan penelitian medis tentang stem cell untuk pengobatan.
Apa alasan Obama sehingga mencabut berbagai larangan atas penggunaan dana pemerintah federal bagi penelitian sel punca em-brio manusia? Karena dia dan partai yang mengusungnya sudah de-ngan tegas berjanji untuk men-dukung penelitian baru. Golongan konservatif jelas menentang keputusan ini. Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak juga warga Amerika yang mendukung penelitian terhadap sel punca ini.
Kebijakan-kebijakan Obama yang cenderung melegalkan beberapa gaya hidup yang menyimpang seperti kehidupan homoseksual memang wajar saja menimbulkan keresahan dan kemarahan bagi pihak-pihak yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan yang bermoral dan beretika sesuai ajaran kristiani.
Dunia memang cenderung semakin memperlihatkan gejala penyimpangan moral. Semoga saja kaum rohaniwan mampu menggi-ring umat manusia yang menyim-pang itu ke jalan yang benar, sesuai ajaran Yesus Kristus Tuhan.v