| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Jejak
01 April 2009 Ernst Troeltsch,Menghargai The Others, Bentuk Ekspresi Iman
Teologi Protestan merupakan teologi yang menarik. Teologi Protestan bukanlah teologi yang statis, tapi dinamis, bergerak seiring bergulirnya waktu dan jaman (konteks). Teologi selalu mencoba mengerti kebutuhan jamannya dalam kaca mata firman Allah. Termasuk soal seperti apa kita (orang Kristen) harus berelasi dengan sesama, maupun kawulo liyan (the others). Karena itulah, siapa pun yang hendak bergelut dalam persoalan teologi, sudah sepantas-nyalah memahami hal ini. Setidak-nya itulah yang disampaikan banyak teolog. Seolah mengamini, Ernst Troelstch, seorang teolog Protes-tan asal Jerman (1865-1923), secara tersirat pun mengatakan hal senada, khususnya menyangkut soal relasi intra maupun antar pemeluk agama dalam konteks plu
ral seperti sekarang ini. Banyak orang mengenal Ernst Troeltsch sebagai teolog peletak da-sar pluralisme – bukan kesan positif yang muncul dari kata tersebut, tapi justru kebalikannya. Tak heran, dengan pandangannya yang kelewat kritis tentang isu pluralisme yang ter-manifestasi dalam ajaran relativis-me, membuat tak sedikit orang di jamannya, bahkan hingga seka-rang, gerah dan cenderung men-coba melawan. Hal ini banyak disebabkan oleh pandangannya yang dinilai kelewat batas. Bagaimana tidak, secara ter-sirat Ernst Troeltsch seolah menga-rahkan agar orang tidak meng-absolutkan suatu ajaran tertentu secara absolut, diikuti dengan “pengakuan” keberadaan the others, baik ajaran maupun iman. Menurutnya, Allah menyatakan diri-Nya dalam sejarah, dengan memberikan tawaran tentang suatu bentuk tradisi yang sangat imanen (dekat, membumi). Agama meru-pakan salah satu sarana bagi manusia untuk mengalami kehadiran Allah secara imanen. Dalam hal ini setiap agama memiliki karakter yang sama dalam pengalamannya merasai cinta Allah yang transeden dalam pernyataannya yang imanen. Ernst Troelstch, dalam salah satu karyanya tentang poisisi Kristen di antara agama-agama dunia menyatakan bahwa semua agama, termasuk Kristen sendiri memiliki elemen kebenaran, namun demikian, bukanlah satu hal yang bijak untuk dimutlakkan. Sebab bagi profesor teologi sistematik di Heidelberg, Berlin ini, konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal. Karena itu dengan tidak me-mutlakkan diri sistem keagamaan tertentu, maka dengan sendirinya sedang menghargai keberadaan ajaran lain yang juga memiliki potensi untuk klaim yang sama. Pandangan Ernst lain yang tak kalah kontroversialnya adalah soal perbandingan terbalik antara gereja dan sekte. Menurutnya, gereja cenderung menerima ketertiban sosial dan berorientasi pada kuantitas (massa), sedangkan sekte cenderung menekankan sikap individualistik terhadap keselamatan dan persekutuan. Sekte umumnya berasal dari kelas sosial bawah dan cenderung melawan atau acuh terhadap mainstream, masyarakat juga negara. Gereja sendiri merupakan kumpulan orang kelas atas yang ketat menekankan moralitas hubungan baik dengan dunia. Dalam hal ini sekte merujuk pada khotbah Tuhan Yesus di Bukit dan menekankan wahyu tentang penentangan Kerajaan Allah terhadap minat sekuler. Siapa pun Ernst dan seperti apa teologi dan pengajarannya, tak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan teolog Kristen yang pemikirannya kental mewarnai dinamika kekristenan. Pene-kanannya pada konteks majemuk merupakan satu hal yang menarik, di balik pergumulannya me-wujudkan toleransi dalam relasi sosial terhadap the others sebagai bentuk ekspresi keberimanannya. Sebab sebuah relasi yang baik dapat terwujud jika di dalamnya tidak terkandung satu pemutlakan tertentu yang berimbas pada penomorduaan yang lain. Slawi
Others
- Walter Rauschenbusch, Injil Sosial, Jawaban Kebutuhan Umat
- A.W. Tozer, Membumikan Kehidupan Jemaat Mula-mula
- Gerrit Berkouwer, Bahasa Alkitab, Kaya Unsur Seni dan Sastra
- St. Yohanes Krisostomus Pembaharu Tak Pandang Bulu
- Joseph Mohr, Pencipta Malam Kudus Orgel Rusak, Lahirkan Inspirasi
- Santa Odilia, Tolak Kemewahan Dunia, Pilih Pelayanan
- Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden
- Rembrandt, Memadukan Seni dan Spiritualitas
- Jonathan Edwards: Melihat Tuhan dalam Lukisan Semesta
- Camilo Torres, Perjuangkan Hak Rakyat Tertindas
- St. Bernardus,Bimbing Orang Menuju Progresivitas Iman
- Sahabat dan Bapak Kaum MudaDon Bosco, Pastur
- Richard Hooker 1554-1600, Membela Tradisi Lama
- Benediktus dari Nursia, Tinggalkan Kemewahan Dunia demi Kristus
- Anak Yatim Pendiri Ordo Ursulin
- August Theis Sebarkan Injil di Simalungun
- Perjuangkan Iman, Tidak Harus dengan Kekerasan
- Johann Baptist Metz, Usung Gagasan Teologi Politik
- Matteo Ricci, Misionaris di China Pendekatan Simpatik terhadap Budaya Lokal
|
|