Michael Christian, S.Psi., M.A
Bapak Pengasuh yth. Saya seorang ibu rumah tangga (usia 27), menikah dengan seorang duda (istri meninggal) yang 13 tahun lebih tua dari saya. Dari pernikahan sebelumnya suami memiliki seorang putri. Dan dari pernikahan kami ini, kami memiliki seorang putra. Yang menjadi masalah bagi saya adalah sejak kami memiliki anak, segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang saya harapkan. Sebelum menikah, saya melihat (calon) suami cukup mapan, dan bisa menyenangkan saya. Bahkan putrinya pun cocok dengan saya, dan saya merasa nyaman dengan keluarganya. Namun setelah kami menikah, saya menyadari saya tidak menemukan apa yang saya mau. Ternyata suami tidak semapan yang saya kira, bahkan kami juga mengalami kesulitan ekonomi, dan putri suami berulah di sekolah (SD), dan banyak masalah lain, sehingga rasanya saya ingin balik ke rumah orang tua saya. Terus terang saya sendiri tidak tahan hidup seperti ini, padahal dulu sebelum menikah, saya merasa hidup saya jauh lebih baik. Mohon pendapat Bapak mengenai hal ini
Ibu N
Bekasi
IBU N, yang terhormat, dalam menghadapi kemelut rumah tangga memang ada berbagai macam perasaan dan pemikiran yang muncul Saat memasuki pernikahan, kita berpikir bahwa kita akan memasuki suatu dunia yang lebih baik dan indah. Apalagi kita menilai bahwa calon suami adalah orang yang tepat, mungkin dari kede-wasaannya, kemampuannya untuk mengemong istri dan anak, atau dari segi kemapanan ekono-minya. Di sisi lain, mungkin kita juga merasakan simpati karena calon suami saat itu ditinggal mati istri dan meninggalkan putri yang masih kecil, sehingga kita juga tergerak menempatkan diri untuk bersan-ding dengannya.
Namun sangat disayangkan, pengalaman indah yang diharapkan, ternyata tidak sesuai impian. Setelah menikah sekian lama, suami tidak seperti yang kita pikirkan. Dia bukan orang yang mapan, atau pan-dai mengemong anak, atau menye-nangkan hati istri seperti yang kita mau, sehingga keadaan ini mem-buat kita tidak nyaman, kecewa, bahkan menyesal. Dalam keadaan seperti ini kita berpikir untuk kembali ke rumah orang tua kita, di mana keadaan mungkin lebih enak/nyaman.
Namun ada beberapa pertanyaan yang sebetulnya harus kita tanya-kan dalam hati. Apa sebetulnya pernikahan itu bagi kita? Banyak orang berpikir bahwa pernikahan itu untuk mencari status. Mungkin merasa dirinya kurang menarik, atau kurang mampu dalam suatu hal tertentu seperti ekonomi misalnya, sehingga ketika ada seseorang yang dirasa bisa melengkapi kebutuhan status tersebut, ia tanpa pikir panjang mau menikah dengannya. Atau ada orang yang memutuskan menikah karena ia mau keluar dari hidup yang biasa-biasa. Jika menikah, maka ia akan memiliki hidup yang lebih baik. Atau bahkan ada orang yang menikah tanpa pikir panjang. Artinya dia pribadi yang memandang hidup ini dengan sangat polos, naif, sehingga menjadi pribadi yang terbiasa berpikiran pendek dan mungkin bertindak impulsif, sehingga jika ada sesuatu yang dirasa menyenangkan, ia akan segera masuk ke dalamnya, dan sebaliknya jika ternyata yang dihadapi tidak menyenangkan, maka ia akan segera menghindar dari kondisi tersebut.
Jika hal ini terjadi tidak heran jika kita memilih quit/berhenti dari proses hidup yang Tuhan ijinkan terjadi. Kita menganggap perni-kahan adalah solusi untuk keluar dari hidup yang biasa saja, dan kurang nyaman, dan jika pernikahan itu sendiri tidak berhasil, maka kita memilih untuk quit. Pa-dahal kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meng-inginkan kita menjadi quitter dalam pernikahan kita, sebaliknya kita justru harus berperan sebagai pendam-ping hidup yang sepadan bagi suami (Kej. 2:18), teman pewaris kasih karunia (1 Pet. 3:7), yang saling menguat-kan, meng-encourage, dan berbagi dalam hidup. Kita memerlukan kedewasaan sehingga tidak hanya meng-harapkan sesuatu dari sua-mi kita, tapi justru sebagai pendorong di masa-masa sulit.
Coba kita lihat peran yang sudah dilakukan selama ini, apakah peran kita mendukung kestabilan perekonomian keluarga atau jangan-jangan keadaan ekonomi keluarga yang menurun justru disebabkan oleh kita yang tidak bisa menerima dan mengelola keuangan dengan baik. Jika iya, maka kita harus membangun kembali relasi kita dengan suami. Namun berikutnya, kita juga harus mengerjakan perbaikan relasi dengan anak. Menjadi anak tiri bukanlah hal yang mudah, ketika masih dalam status pacaran tentu pengaruh relasi ibu tiri dan ayah belum terasa. Namun, hal ini berbeda ketika kita sudah menjadi bagian dalam keluarga, ditambah lagi kehadiran anak. Perasaan tertinggal bisa dialami oleh anak tiri, dan yang muncul bisa merupakan cara dia mencari perhatian dari ayah dan ibu tirinya.
Coba pikirkan pola relasi seperti apa yang telah kita lakukan selama ini. Apakah kita mencoba menjadi ibu bagi anak tiri kita atau sebetulnya lebih asyik dengan anak sendiri, dan tanpa disadari meninggalkan kebutuhan emosionil bagi anak tiri kita. Kami berdoa supaya Ibu dimampukan menjadi penolong yang sepadan bagi suami dan juga Ibu yang memenuhi kebutuhan emosional semua anak-anak. Jika Ibu memerlukan pelayanan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi kami untuk konseling tatap muka. Tuhan memberkati.v