Bersama Pdt. Yakub Susabda, Ph.D
Bapak Pengasuh, yang terhormat, bagaimana saya menghadapi suami yang sudah lebih dari lima tahun meninggalkan saya dan anak saya? Ini bermula dari perselingkuhannya. Kini dia tetap mendukung biaya sekolah anak saya, tapi hanya sebatas itu. Jika ada hal-hal yang penting, dan saya informasikan kepada dia melalui SMS atau telepon, dia tidak pernah meresponinya. Ini pula yang membuat anak saya jadi tidak respek pada ayahnya. Ada banyak hal yang membuat saya tidak berharap apa pun untuk dia kembali. Namun ketika waktu dan pergumulan ini terus bertambah, dalam hatiku yang terdalam, aku berharap dia dapat kembali. Bagaimana menurut Bapak? Apakah saya tetap saja berkomunikasi walaupun tidak diresponi? Masih adakah harapan untuk dia kembali? Apa yang harus saya lakukan kini? Derita Jakarta
SAUDARI Derita yang terkasih, terima kasih untuk pertanyaan Anda. Memang hidup ini mempunyai beberapa sisi di mana masing-masing mempunyai area pertanggungjawabannya. Meskipun demikian, dalam setiap sisi kehidupan ini, kita dapat menemukan inti di mana pertanggungjawaban kita hanyalah kepada Tuhan. Jadi, masalah keluarga, hubungan Anda dengan suami merupakan salah satu sisi kehidupan terpenting dengan intinya yaitu hubungan antara Anda dengan Tuhan Allah dalam Kristus Yesus yang Anda sembah. Itulah yang harus Anda bereskan terlebih dahulu, maka semuanya secara bertahap akan mulai dapat diperbaiki. Bukankah firman Tuhan mengingatkan kita untuk “mencari terlebih dahulu kerajaan Allah, karena semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33)?”
Jadi, untuk masalah Anda dengan suami, mulailah dengan hubungan Anda dengan Tuhan. Artinya, mulailah dengan menurut apa yang Tuhan sudah firmankan. Oleh sebab itu, Anda dapat mulai dengan meminta pertolongan Tuhan supaya dalam jiwa Anda tumbuh cinta kasih Kristus untuk disalurkan kepada suami Anda. Ingatan akan pengkhianatan dan perlakuan tidak fair dari suami tidak lagi Anda responi dengan kebencian, tetapi dengan belas kasihan atas “orang berdosa yang terjerat dosa.” Itulah yang Rasul Petrus katakan dalam suratnya, yaitu supaya istri-istri (yang malang karena kejahatan suaminya) menghiasi dirinya dengan roh yang lemah lembut dan tenteram yaitu buah-buah Roh Kudus (I Pet. 3).
Kehadiran Kristus dalam hidup Anda, biasanya akan ditandai dengan perubahan sikap hidup, perasaan dan pikiran Anda. Anda akan mengajar dan menanamkan dalam hati anak Anda, rasa hormat, cinta kasih dan kasihan pada ayahnya. Anda harus waspada dengan kekuatan dosa yang masih hadir dalam jiwa Anda, yaitu dosa: (1) ingin membalas melukai suami. (2) ingin memakai anak untuk bergabung dengan Anda menjadi satu tim melawan suami. Nah, di samping itu, teruslah mengirim SMS yang isinya memuliakan Tuhan, kepada suami, apa pun reaksinya. Itulah tanggung jawab Anda sekarang ini. Hasilnya, terserah kepada Tuhan. Paulus mengatakan, “sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (I Kor. 15:58).
Anda menanyakan, “Apakah masih ada harapan untuk suami kembali.” Untuk itu Anda harus mulai belajar mengenal status Anda sebagai anak Tuhan. Harapan Anda yang terutama adalah hidup diperkenan Allah. Fokus hidup Anda sebagai anak Tuhan harus di sini. Untuk itu, sekali lagi, Anda perlu belajar hidup dalam iman bahwa Anda percaya Tuhan mengerti apa yang terbaik bagi Anda. Kalau yang terbaik adalah “suami Anda bertobat dan kembali kepada Anda dan keluarga,” maka Tuhan pasti akan memberikannya kepada Anda. Di dalam Tuhan, tak pernah ada harapan yang disia-siakan. Tetapi ingat kata-kata saya: “di dalam Tuhan”, bukan “di luar Tuhan,” atau “di luar kehidupan dalam iman yang benar kepada Tuhan.”
Sdri. Derita, bersiaplah untuk mulai masuk dalam peperangan rohani yang diwajibkan bagi Anda. Janganlah Anda berhenti menjadi orang yang diperkenan Tuhan. Fokuskan hidup, perasaan, pikiran, tutur kata, dan sikap Anda kepada hal-hal yang memuliakan Tuhan. Kiranya kasih karunia Allah dan damai sejahtera menyertai Anda sekeluarga.v