REFORMATA --Kekuatan sebuah “panggilan”, kadang tak dapat dimengerti oleh yang mendapat panggilan itu, namun panggilan itu mampu menggerak-kan seseorang melakukan hal-hal sederhana, hingga hal be-sar yang sulit dilakukan orang lain. Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan seorang rohaniwan sekali-gus budayawan. Dia dikenal penuh kesederhanaan, namun memiliki pemikiran brilian yang mempengaruhi kehidupan beragama, bu-daya, dan politik di Indonesia. Dialah Franz Graf von Magnis, pria kelahiran Jerman 26 Mei 1936, yang sejak 1977 men-jadi warga negara Indonesia. Kini dia lebih dikenal dengan nama Franz Magnis-Suseno, SJ, atau Romo Magnis.
Indonesia, keputusanku Januari 1961, putra sulung dari Dr. Ferdinand Graf von Magnis dan Maria Anna Grafin von Magnis, prin-zessin zu Lowenstein ini, memu-tuskan datang ke Indonesia. Semuanya berawal dari ketertari-kannya untuk dapat berbuat lebih banyak dan berguna bagi gereja di Indonesia, daripada di Jerman. Kehadirannya di Indonesia ter-nyata diterima baik oleh umat Katolik, komunitas para Yesuit, dan masyarakat Indonesia umumnya. Dia langsung merasa kerasan de-ngan kebudayaan Indonesia yang begitu kaya. “Banyak tantangan menarik untuk bekerja di Indonesia, di antaranya, banyak ketegangan, masalah, dan krisis yang menjadi tantangan besar di Indonesia. Gereja memainkan peranan penting di Indonesia, maka perlu didukung,” demikian Romo Magnis menyampaikan alasan tentang ketertarikannya.
Dia dikenal peduli dan konsen terhadap dunia pendidikan, khu-susnya sebagai pengajar filsafat. Dia juga menjadi penceramah di ber-bagai tempat. Sampai kini dia sudah menghasilkan 34 buku. Salah satu berjudul “Etika Jawa”. Dan kini dia tetap produktif menulis. Dia me-mang telah berbuat banyak bagi bangsa ini lewat tulisan-tulisan yang diterbitkannya, aktivitas di bidang pendidikan. Itu semua demi mewujudkan cita-cita Katolik, yaitu membantu orang berpikir secara bertanggung jawab, mendasar dan kritis. Membangun seni berpikir yang berani dan bertanggung jawab, berargumen berdasarkan argumentasi yang kritis, itulah yang hal mendasar yang dilakukannya. Itulah sebabnya Romo Magnis turut terlibat dalam masalah nasio-nal, ikut merangsang pikiran orang lain, dan mendukung pemikiran positif di bangsa ini.
Meski dia seorang tarekat Jesuit, itu tidak membatasi dirinya pada gereja biasa/paroki, melainkan menghadirkan gereja di seluruh wilayah, melalui sekolah dan pendidikan. Apa yang dikerjakan Magnis menjadi bagian dari seorang Jesuit, yang juga dilakukan oleh saudara-saudara sekomunitasnya, adalah sebagai karier biasa.
Di balik sikap dan gaya hidup Sebagai seorang rohaniwan yang sangat sederhana dalam keterkenalannya, ini tentu menim-bulkan pertanyaan dan rasa ingin tahu banyak orang, apa yang membuatnya dapat bertahan seperti itu. Aneka godaan di jaman ini, tidak melunturkan sikapnya, dan gaya hidupnya tetap seder-hana. Dia selalu berpakaian sea-danya, mengendarai Vespa tua. Uniknya, dia tidak menggunakan handphone, dan bergaul dengan siapa saja. Dia ramah dan terbuka.
Keterikatannya pada empat kaul (ikrar) yang harus dijalankannya sebagai seorang biarawan-pastor, itulah yang mempengaruhinya. Keempat kaul itu adalah: pertama, “kemiskinan”. Yang dimaksud di sini bukan menjadi orang miskin, na-mun apa pun yang dimilki semua-nya diberikan dan diserahkan atau diatur oleh dan bagi komunitas. Kedua, “tidak berkeluarga atau tidak melakukan hubungan seksual”. Dalam hal ini banyak yang gagal, tetapi sesungguhnya mem-beri kebebasan khusus, dan tidak terikat dengan keluarga. Ketiga, “Ketaatan terhadap atasan komu-nitas”, dan yang menentukan apa yang dilakukan. Dan yang keem-pat, “Ketaatan khusus kepada Paus”.
Bagi Magnis, kebiaraan Katolik memberi kebebasan cukup besar, secara institusional sangat ringan. “Saya tidak punya banyak beban, saya merasa cocok. Keputusan penting dibahas dengan orang bersangkutan. Tidak menggerutu tapi taat”. Itu yang dilakukan Mag-nis. Dan dia tidak pernah meragu-kan pilihan panggilannya, dan tidak pernah menyesal. “Saya tidak mengalami krisis, kesulitan, atau putus asa,” demikian pengakuan Magnis yang membuatnya dapat menikmati panggilannya sebagai seorang rohaniwan.
“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada”. Ayat dalam Yo-hanes 12: 26 inilah yang mendasari sikap pelayanan Magnis. Dalam kehidupannya, dia merasa dibim-bing oleh Yesus. “Saya sangat yakin bahwa, akhirnya yang kita lakukan itu hebat atau tidak hebat, itu makin lama makin tidak penting. Karena akhirnya dengan tangan kosong kita kembali kepada Yesus,” katanya. Menurutnya, “tangan kosong” itu penting, Ketika menghadapi keterbatasan, dia berkata “Yesus itu urusan-Mu, memang saya bertanggung jawab, tapi Engkau yang menempatkan saya di sini. Jadi, saya merasa aman di tangan Yesus”.
Dua hal yang menuntutnya tetap kuat adalah: pertama, ketika harus mengecewakan orang lain. Hal ini dirasakan sangat berat, namun tidak dapat dihindarkan ketika harus mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin. Kedua, berbuat lebih banyak bagi orang miskin. Tentang ini Magnis meng-akui belum berhasil melakukannya.
Dalam menjalankan panggilan-nya, Magnis merasakan dukungan dari banyak pihak. Selain dari Keuskupan di Jakarta, kardinal, gereja, mahasiswa, bahkan rekan-rekan muslim sekalipun banyak yang mendukungnya. Di akhir bin-cang-bincang dengan REFOR-MATA, Magnis menyampaikan pesan bagi para pemikir di Indonesia: “Beranilah berpikir dengan terbuka, jangan takut berdisikusi dan berdialog, jangan takut ber-pikir menyerempet agama-agama, supaya tidak mandul dan sempit dalam konstruksi mereka sendiri”.
Lidya Wattimena