Srilike Sari, Ibu Rumah Tangga
Gambar Yesus yang sedang tersalib menjadi bahan cibiran Srilike Sari di mana pun dan kapan pun. Tiap kali melihat tubuh yang hanya dibalut sehelai kain itu dalam lukisan, Srilike mengolok-olok, “Itu Tuhannya orang Kristen…” Dan biasanya, olok-olokan di antara temannya itu menjadi tawa ramai. Ketika Srilike sakit parah, Yesus justru didekapnya.
Sosok Yesus tidak pernah luput dari ejekan Sri— demikian dia biasa disapa. Sebagai guru agama bagi kaum ibu di lingkungan rumahnya di Roxy, Jakarta, sindiran itu sering-kali dilontarkan saat dia sedang mengajar. Bahkan ketika sedang ngerumpi atau bepergian dengan para ibu, perempuan yang selalu menutupi rambutnya dengan ke-rudung itu selalu cari celah untuk mengolok-olok Juru Selamat itu. Baginya, Yesus hanyalah manusia biasa, bukan Allah, seperti yang diyakini umat Kristen. “Kok Allah malah digantung…” cibirnya mengomentari Yesus yang disalib. Kuatnya didikan agama dari orang tuanya, telah membentuk Sri menjadi pribadi yang sangat benci dan anti terhadap kekristenan. Sejak duduk di sekolah dasar (SD) Sri sudah diwajibkan mengikuti pendidikan agama setiap pulang sekolah. Aktivitas spiritual itu berlangsung sampai Sri tamat dari SMP. Wajar saja jika dalam usia muda Sri sangat fasih dalam hal-hal keagamaan. Dia bahkan menguasai pelajaran tentang kitab suci, termasuk membacanya dengan sangat baik.
Dia tidak hanya fasih membaca, namun juga pintar menerjemahkan seluruh isi kitab tersebut. “Saya memang paling pintar dan taat beribadah dibanding kelima saudara saya,” akunya. Sri dikenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, dan ramah terhadap tetangga. Beranjak dewasa sampai berumah tangga, perempuan kelahiran Jakarta, 11 November 1962, ini rajin membagikan ilmu agama kepada warga, khususnya kaum ibu. Beberapa istri tentara berpangkat perwira pun menjadi muridnya. Tapi, meski tergolong fanatik, seorang anaknya sekolah di lembaga pendidikan Kristen. Pada 1999, aktivitas mengajar Sri terpaksa terhenti karena penyakit maag yang dideritanya makin parah. Puluhan dokter ahli, sampai ratusan dukun didatangi tapi tidak ada yang mampu menyembuhkannya. “Saya sering ditipu dukun. Malah ada dukun beragama Kristen menyuruh saya minum darah ayam atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus,” kenang Sri. Berat badannya terus merosot dan uangnya habis buat biaya berobat.
Setiap berjalan, Sri harus membungkukkan badan menahan rasa sakit yang tiada tara. Berbahasa Roh Pada 2002, saat Sri terkulai lemah di tempat tidur, anak perempuannya yang menuntut ilmu di sekolah Kristen itu minta ijin untuk ikut retreat yang diadakan oleh sebuah persekutuan doa. Sambil menahan sakit, Sri pun terpaksa merestui anaknya ikut retreat. Sepulangnya sang anak dari retreat, Sri panik melihat kejanggalan perilaku anaknya mengucapkan bahasa yang kedengaran asing. Dalam sikap berdoa, sang anak yang saat itu berusia 17 tahun, mengucapkan kata-kata di luar kesadarannya. Melihat kondisi anak tersebut, batin Sri bergolak hebat. “Kok, nasib saya malang begini. Penyakit tidak sembuh-sembuh, anak saya malah jadi gila,” keluhnya saat itu. Antara khawatir dan penasaran, Sri menghubungi pimpinan persekutuan doa yang menyeleng-garakan retreat itu untuk meminta penjelasan soal perubahan perilaku anaknya. Kendati dijelaskan bahwa anak tersebut menerima karunia bahasa Roh, Sri bersikukuh bahwa anaknya mengalami kelainan jiwa setelah ikut retreat. Timbul perdebatan antara Sri dengan pimpinan persekutuan doa itu. Akhirnya, Sri pun merestui anaknya didoakan dengan cara Kristen. Dengan rasa was-was dan penasaran, Sri mengikuti ritual persekutuan doa tersebut sambil menahan sakit. Di tengah pujian dan doa, mendadak lidah Sri “komat-kamit” mengeluarkan bahasa “asing”, persis anaknya. “Saya tidak ikut ibadah, cuma dengerin mereka nyanyi, tapi lidah saya tiba-tiba berputar dan mengucapkan bahasa lain. Kejadiannya persis seperti anak saya,” ungkap Sri.
Menyadari ada yang “aneh” pada dirinya, Sri panik sambil meminta pertolongan orang-orang yang ikut persekutuan itu. Salah seorang pimpinan persekutuan doa yang juga hamba Tuhan, menghampiri Sri dan menyodorkan pertanyaan, “Apakah Ibu percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?” kata hamba Tuhan itu. “Saya bilang percaya saja karena ketakutan lidah saya terus dipelintir. Saya ikuti doa-doa dia,” kata perempuan keturunan Banten ini. Usai berdoa, hamba Tuhan tersebut menawari Sri dan dua anaknya untuk dibaptis. Sri asal mengangguk. Dengan berat hati, dia menyerahkan perlengkapan ibadah agama lamanya, seperti seperangkat kain yang biasa dipakai beribadah, dan kitab-kitab kepada para hamba Tuhan itu. Semenjak itu Sri dengan terpaksa membaca Alkitab, tentang penderitaan Yesus di kayu salib. Semakin larut dalam bacaan, tanpa sadar, Sri terisak-isak hingga air matanya menetes deras. “Sejak itu saya suka baca Alkitab. Saya jadi jatuh cinta dan lupa dengan agama lama saya,” tuturnya. Ajaibnya, sejak “doyan” mem-baca Firman Allah itu, penyakit Sri ber-angsur-angsur hilang. Selanjut-nya, keputusan-nya mengikuti ibadah di sebuah gereja yang tidak jauh dari rumah, membuat Sri sema-kin sehat. Padahal selama ini dia bergantung pada obat-obatan. “Sejak hati ini benar-benar mengasihi Yesus, sakit maag saya yang sudah kronis itu langsung hilang,” ucapnya sambil menangis saking bahagia dan penuh syukur.
Hal yang paling istimewa bagi Sri adalah ketika dalam mimpi bertemu Tuhan Yesus yang muncul dengan jubah putih dilingkupi sinar berkilauan, berjalan di tengah laut yang sedang bergelora. Yesus menjulurkan tangan-Nya sambil berkata, “Mari, ikutlah Aku…” Lalu, Sri dipeluk-Nya, dan ombak yang besar menjadi tenang. Semakin dekat Yesus, banyak pemulihan dialami Sri. Dia tidak hanya sembuh dari penyakit, sifat pemarah dan gampang melon-tarkan kata-kata kutuk lambat laun hilang. Kini dia menjadi sosok yang lemah-lembut dan sabar. “Setiap menghadapi suami dan anak yang memberontak, saya kok malah bisa menguasai diri. Saya bingung bisa berubah begini. Hati ini rasanya damai sejahtera saja. Kenapa enggak dari dulu saja begini,” katanya sumringah. Meski uangnya telah ludes untuk biaya berobat dulu, hatinya selalu penuh ucapan syukur. Perlahan, kehidupan rumah tangganya dipulihkan. Meski sang suami masih teguh memeluk kepercayaan lama, namun perilaku kasar suaminya yang keturunan Tionghoa itu berangsur lembut juga. “Saya terus berdoa agar dia pun terima Yesus,” harap-nya. Yang paling mengembirakan, tiga anaknya yang sudah percaya Yesus mendapat nilai terbaik di tempat kuliah. “Padahal, dulu, sebelum mereka percaya Yesus selalu dapat nilai jeblok,” kata jemaat Abbalove Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat, ini. Kabar bahwa Sri telah pindah agama, kontan mengundang reaksi keras dari warga dan kumpulan ibu-ibu yang pernah dibimbingnya.
Selain gusar, mereka menjauhi Sri. Dibenci dan dikucilkan sekian tahun, tidak membuat Sri kecil hati. Dia berusaha merangkul dan membangun hubungan kembali hingga rasa benci mereka akhirnya pudar. Baginya, penolakan atau bahkan siksaan sekalipun tidak bakal mengendurkan imannya kepada Yesus. Anugerah keselamatan kekal yang diterimanya akan didekap kuat apapun risikonya. Andai saja anugerah itu tidak diperoleh, “Saya hanya menunggu mati saja dan tinggal kekal di neraka,” ucapnya. ? Herbert Aritonang