Yonathan Manullang, Pastor Penginjil
Selama puluhan tahun, batin Yonathan Abner Diapari Manullang tertekan hebat karena mengalami gangguan bicara alias gagap parah. Di desanya, Doloksanggul, Sumatera Utara, pria kelahiran 11 Februari 1977 ini tersisih dari lingkungan dan keluarga. Dia tak henti meratapi nasib dan pernah nyaris mengambil jalan pintas, bunuh diri. Hatinya makin pedih bak teriris sembilu karena merasa bahwa ayahnya lebih “sayang” kepada ternak babi ketimbang dirinya.
TUBUHNYA yang tinggi dan tegap itu tampak serasidengan kemeja lengan panjang dan dasi yang terjuntai di dada. Dengan gagah dia memasuki gerai kopi di sebuah plaza di Senayan, Jakarta. Penampilannya yang eksklusif tidak memberi kesan kalau dia itu seorang hamba Tuhan. Dengan suara lantang, wajah cerah dan mata berbinar, Abner—nama panggilannya—menyapa REFORMATA yang dari tadi menunggunya. Selanjutnya, ditemani dua gelas kopi panas, per-bincangan santai pun berlangsung akrab. Abner tak kuasa memben-dung ungkapan syukur karena dirinya di”belok”kan Tuhan menjadi penginjil. Selanjutnya dia mengi-sahkan masa lalunya nan suram.
Sejak duduk di sekolah dasar, Abner kecil sudah biasa bekerja keras. Sebelum membantu orangtua di ladang, dia berjalan kaki belasan kilometer ke sekolah melewati bukit terjal. “Pukul 6 pagi berangkat ke sekolah, tiba di rumah pukul 4 sore tanpa uang jajan,” katanya. Jika haus, Abner turun bukit meminum air rawa. Setiba di rumah, dia makan seadanya lalu pergi ke ladang sejauh tiga kilometer untuk memungut singkong dan tanaman lain seperti ubi jalar untuk makanan ternak babi piaraan mereka. Setelah mendapat satu karung singkong dan ubi, Abner yang masih berusia di bawah sepuluh tahun itu pulang memanggul beban yang berat itu dengan berjalan kaki.
Tiba di rumah pukul 19.00 malam, Abner merebus ubi dan singkong itu untuk nanti disuguhkan kepada babi-babi piaraan mereka. Ayahnya sendiri biasanya pulang dari ladang pukul 20.00. Kendati Abner sangat lelah karena tenaganya terkuras seharian, sang ayah melarang dia makan malam sebelum ternak-ternak selesai makan. Jika berani melanggar, maka anak bungsu dari delapan ber-saudara ini kena maki. “Kurang ajar kau. Masak babi belum makan, kau sudah makan duluan?” katanya meniru bentakan sang ayah. Dengan takut dan gemetar sambil menangis, bocah itu berusaha menghindari pukulan dan tendangan ayahnya yang dikenal punya ilmu bela diri. “Saya sering dijadikan ‘sansak’ untuk melampiaskan emosinya,” kenang-nya. Abner pun sering tak luput dari perilaku kasar abangnya yang suka memukul dan memakinya setiap kali dinilai berbuat kesalahan sekecil apapun.
Abner hanya diam dan pasrah tiap kali dibentak atau dipukul. Beberapa kali ayahnya mengancam membu-nuhnya jika jengkel karena Abner bikin gaduh. Abner memang sering melampiaskan kesedihan dan kekecewaannya dengan cara melemparkan apa saja sehingga timbul suara gaduh. “Karenanya, di kampung saya jadi terkenal sebagai anak nakal,” tuturnya. Meski dibenci ayah dan warga kampung, ibunya tak pernah lelah mengusap air mata Abner dan mendekap penuh sayang. “Saya sangat bangga dengan mama saya. Mama mengasihi saya apa adanya. Dia sering menangis melihat keadaan saya,” kenang Abner. Ibunya telah meninggal Juni 2008 lalu. Menginjak usia 15 tahun, Abner jatuh sakit dan nyaris mati saking sering kena pukulan dan tendangan sang ayah. Dia sempat sulit berjalan karena tubuhnya membungkuk. Untunglah dengan obat dari mantri kesehatan di kampung, Abner kembali pulih.
Lidahnya dijamah Tuhan
Gangguan bicara yang dialami Abner telah menggiringnya ke dalam penderitaan panjang. Dari kanak-kanak hingga dewasa, dia “ke-nyang” hinaan teman-teman seko-lah, warga maupun sebagian keluar-ga. Hari-harinya sering dilalui sendirian tanpa kawan dan kasih sayang dari keluarga. Beruntung dia memiliki ibu yang mau menampung keluh kesah dan menghapus air matanya. Hal yang sulit dilupakan adalah ketika tubuhnya menjadi sasaran empuk sang ayah dan abangnya tanpa rasa kasihan. Meski sepulang sekolah dia mengurus ladang dan babi-babi, nilai-nilai pelajaran di sekolah selalu bagus.
Setamat SMA pada 1994, atas anjuran seorang saudara, Abner berangkat ke Solo, Jawa Tengah untuk menuntut ilmu di Sekolah Alkitab. Awalnya, dia ditolak menjadi (calon) siswa lantaran punya kendala dalam berkomunikasi (susah bicara). “Abner, pendeta itu, senjatanya mulut,” kata pihak sekolah ketika itu. Meski ditolak, Abner terus memohon agar diteri-ma. Permohonannya pun akhirnya diterima dengan syarat tiga bulan menjadi siswa sudah harus bisa ber-bicara normal. Dua bulan berlalu, lidah Abner tetap “terikat”. Dengan panik, dia semakin khusuk meminta pertolongan Tuhan mengingat waktunya tinggal satu bulan.
Dalam pergumulan, ada dorongan dalam hati Abner agar mengampuni orang-orang yang selama ini menyakitinya. “Saya minta ampun kepada Tuhan karena mem-benci mereka. Saat ibadah pujian dan penyembahan ber-langsung, Abner me-rasa suatu kuasa ilahi hadir melingkupinya. Tiba-tiba, saya ber-bicara tanpa dimengerti orang, mulut saya bergerak sendiri di luar kesadaran saya,” ung-kapnya. Selesai se-si pujian dan penyembahan, seketika Abner bisa bicara tanpa gagap lagi. Dengan girang dan syukur meluap, anak desa itu langsung berkeliling memproklamirkan kesembuhannya. Penghuni sekolah gempar atas kuasa ilahi itu. “Abner bisa ngomong, Abner bisa ngomong...” demikian teriakan para siswa sekolah tersebut di hari yang menggemparkan itu. Dia baru mengerti bahwa berkata-kata dalam bahasa lain lantaran dipenuhi kuasa Roh Kudus.
Atas kesembuhan itu, Abner langsung “teken kontrak” kepada Yesus akan menebar Injil ke pelosok-pelosok Tanah Air sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah kesem-buhannya. Sebelum mewujudkan komitmen tersebut, dia mematang-kan ilmu dengan mengikuti pen-didikan teologi yang lebih tinggi. Akhirnya, dalam perjalanan misi mewartakan Kabar Baik itu, Abner dipakai Tuhan secara ajaib. Dengan kuasa yang bersumber dari ilahi, dia bersama tim misi menjangkau masyarakat pedesaan di sejumlah daerah terpencil guna mencelikkan mata hati masyarakat yang belum pernah mendengar Injil sambil mengusir kuasa gelap dan menyembuhkan sakit-penyakit.
Masyarakat yang takjub rame-rame mengambil keputusan mene-rima Yesus se-bagai Tuhan dan juru selamat mereka. ”Puji Tuhan saya dikaruniai kuasa kesembuhan, orang lumpuh berja-lan, tuli mendengar dan kuasa setan dilepaskan. Kenapa Tuhan menyem-buhan lidah saya, inilah tujuannya untuk meletakkan karunia itu dan memaksimalkannya agar orang-orang yang menerima kesembuhan dapat memberikan kesaksian kepada orang lain juga,” katanya.
Pelayanan misi Abner bersama timnya bernama Christian City Church terus dilakukan sampai sekarang. Bahkan, dia harus keluarkan uang sendiri. Tuhan tidak hanya mengaruniakan kefasihan bicara baginya, namun juga suara bagus. Atas karunia itu, Abner menelurkan album rohani dengan lagu-lagu ciptaannya sendiri bertema “Tiada yang Mustahil”. Syair-syair ke 10 lagu dalam álbum itu mempresentasikan kesaksian hidupnya.
? Herbert Aritonang