Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Iman Teguh Jiwa istri Selamat

Posted : 10 Nopember 2008
iman-teguh-jiwa-istri-selam.jpg
Dengan kondisi kejiwaan istrinya yang labil, rumah tangga Yupin mestinya beran-takan. Namun sikap sabar dan tulusnya menerima sang istri apa adanya, menjadi modal dan kekuatannya meladeni perilaku “aneh” sang istri. 
Membangun keutuhan dalam kehidupan rumah
    tangga pada hakikatnya tidaklah rumit. Jika kedua belah pihak (suami-istri) sama-sama memiliki komitmen menyayangi pasangan tanpa diselubungi kepentingan lain, atau mau menerima kelemahan sambil kuat membangun hubungan berdasar-kan kasih Kristus, niscaya bahtera rumah tangga berjalan langgeng. Maraknya kasus perceraian atau perselingkuhan umumnya dise-babkan kedangkalan pemikiran atas substansi pernikahan itu sendiri.

Yupin bersyukur memiliki paradigma itu. Meski kejiwaan istrinya sering labil, dia tidak menelantarkan atau meninggal-kannya. Dia justru merangkul erat dan penuh sabar merawat dengan satu keyakinan iman teguh bahwa suatu kelak Tuhan menjamah sang istri. Vinita, nama istri Yupin, sering bertingkah aneh, kasar dan memberontak. Seisi rumah yakni Yupin, Kheren, putri mereka, serta pembantu, dibuat ketakutan.
Menurut Yupin, istrinya juga kadang kerasukan setan. Sikap kasar itu sudah mulai tampak sejak mereka menikah pada 2004 lalu. Kenyataan itu membuat batin Yupin shock. Betapa tidak, selama masih berpacaran, Vinita berpe-rilaku santun dan penyayang. Namun setelah menikah, dia men-dadak berubah “angker”. Vinita bahkan pernah mengancam jiwa anggota keluarga yang lain. “Dia pernah mengejar koko (abang)-nya sambil pegang pisau,” ungkap pria kelahiran Bangka, 12 November 1978 itu. Hal lain yang tak lazim adalah sang istri seperti mampu mengetahui isi pikiran seseorang.
Sebelum menikah, Yupin tidak melihat keganjilan perilaku istrinya itu. Di mata pria keturunan Tionghoa ini, Vinita adalah perem-puan lembut sekaligus cantik. “Wa-jar dong kalau saya naksir dia,” katanya terkekeh. Keduanya bertemu saat sama-sama bekerja di suatu perusahaan elektronik di Harco Glodok, Jakarta. Ketika itu Yupin berstatus sebagai karyawan baru, sementara Vinita sudah lama bekerja di situ. Setelah santer diisukan bahwa keduanya berhu-bungan serius dan siap menikah, teman-teman berusaha mengingat-kan Yupin tentang perilaku aneh Vinita. Mereka membujuk Yupin agar mengurungkan niat itu.
Meski rekan-rekan kantor sudah memberi nasihat disertai pe-ringatan-peringatan, Yupin berge-ming. “Saya tidak percaya isu itu. Bagi saya dia (Vinita) perempuan baik-baik,” ucapnya penuh keya-kinan ketika itu. Niat ingin menikahi Vinita tak terbendung. Orang tua Vinita sudah memberi restu, namun berusaha merahasiakan kondisi mental putrinya itu. Singkat cerita, pernikahan pun berlangsung.
Seiring bergulirnya waktu, tabir pun terkuak. Yupin heran dengan perilaku Vinita yang selalu curiga setiap kali Yupin pulang kerja. Selain itu, istrinya itu sering berhalusinasi dan paranoid. “Saya baru sadar bahwa dia memang punya kelainan. Semula saya maklum karena dia masih kayak anak-anak,” tutur Yupin yang lebih tua sembilan tahun dari Vinita. Meski hatinya mulai gelisah, Yupin tetap bertahan dengan keyakinan  bahwa ulah istrinya itu semata karena usia belia.
Namun pada akhirnya, Yupin harus mengelus dada dan mulai merasa kalut dengan kenyataan bahwa istrinya memang ada kelainan. Sebagai orang percaya, Yupin selalu membawa pergumulan itu dalam doa demi kesembuhan sang istri. Dengan dukungan keluarga, Yupin membawa Vinita ke yayasan rehabilitasi Kristen untuk mendapat perawatan khu-sus melalui metode doa dan puasa. “Istri saya dibimbing rajin membaca firman Tuhan, saat teduh, lalu ibadah penyembahan,” kata Yupin.
Tiga bulan menjalani perawatan itu, perubahan total dialami Vinita. Kondisinya  mulai membaik dan diperbolehkan pulang. Rumah mereka di kompleks Perumahan City Resort Residence, Cengkareng, Jakarta Barat, yang tadinya “angker”, kini adem-ayem saja. Yupin pun dapat bernafas lega menikmati romantisme keluarga sesungguhnya tanpa diliputi kecemasan lagi.
Vinita sendiri mengatakan tak tahu-menahu dengan perilaku anehnya selama ini. Selama itu mungkin roh jahat telah membe-lenggunya, membuat dia kehilang-an kesadaran. Kondisi Vinita telah menguras banyak energi dan pikiran Yupin. Jika tidak dibekali cinta kasih yang tulus dan iman yang teguh, Yupin sudah mening-galkan istrinya itu. “Suami-suami yang belum percaya Yesus, mung-kin tidak akan kuat menghadapi cobaan yang saya alami ini,” ujar Yupin tanpa bermaksud memuji diri.

Tertolak sejak kandungan
Banyak orang tua berpandangan kolot yang memandang anak perempuan sebagai tidak berguna. Tampaknya itulah yang dulu menimpa Vinita. Sejak dalam kandungan, perempuan kelahiran Jakarta, 25 Mei 1987, ini sudah ditolak kedua orang tuanya yang kebelet menginginkan anak laki-laki. Meskipun demikian, Vinita, bungsu dari tiga bersaudara, lahir dengan selamat. Anak kedua adalah laki-laki. Dulunya, keluarga Vinita belum percaya pada Tuhan.
Dari masa kanak-kanak sampai dewasa, Vinita selalu dinomor-duakan orang tuanya, terutama ibunya. Bapak ibu lebih mengistime-wakan anak laki-laki. Meskipun orang tuanya supersibuk sebagai pelaku bisnis, perhatian terhadap anak lelakinya tidak berkurang. Sekian lama tidak mendapat per-hatian dan kasih sayang, diam-diam Vinita memendam dendam kesu-mat. Dia pernah berniat meracuni orang tuanya namun batal. “Yang paling sayang sama anak laki-laki itu Mama. Sedangkan Papa masih ada rasa sayangnya sama saya. Kadang mereka sering berantem lantaran saya sering ditelantarkan Mama,” tutur perempuan yang hobi menari ini.
Bisa jadi, ketidakadilan itu membuat mentalnya tidak berkem-bang dengan baik. Saking parah-nya, dia harus masuk sekolah khusus dari SD sampai SMP. Hingga menginjak dewasa pun penyakitnya sering kumat. “Saya jadi paranoid dan sering pegang pisau. Rasa benci sama orang besar sekali. Setiap ketemu siapa pun, dorongan untuk membunuh selalu muncul,” kenangnya. Prihatin atas nasib anaknya, orang tua Vinita berusaha mencari kesembuhan ke dukun dan paranormal tapi tidak membuahkan hasil.
Suatu hari, seseorang memper-kenalkan Yesus kepadanya. Di tengah harapan untuk sembuh, Vinita bersedia didoakan dan diajak ke gereja. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing dan tubuh terasa panas sekali sampai dia berontak saat masuk gereja. “Baru masuk pintu gerbang gereja, rasanya panas banget,” katanya. Peristiwa lima tahun itu membawa berkat bagi Vinita. Kondisinya berangsur membaik setelah para hamba Tuhan rutin mendoakan.
Setelah menikah dengan Yupin, penyakitnya kembali kumat. Pasalnya, dia membuka dosa baru dengan melakukan hubungan gelap dengan mantan pacarnya. Meskipun dia berusaha menutupi, perselingkuhan itu terbongkar lewat penyakitnya sendiri. “Saking kepala pusing, tanpa sadar mulut saya mengakui hubungan gelap itu,” kata Vinita yang kini sibuk mengelola bisnis makanan di rumahnya.
Meskipun banyak kesalahan pernah dibuat Vinita, sang suami tetap mengasihinya. “Saya bangga punya suami dia. Tidak ada pria lain yang sempurna seperti dia,” kata Vinita memuji sang suami.   
    ?  Herbert Aritonang

67
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 6.0444 sec | TOP
Online Support :