Tubuhnya dihujani bacokan dan tikaman tombak lantaran menolak menyangkal Yesus. Saat tubuhnya tersungkur, lehernya kembali ditebas pakai parang.
kerusuhan berbau SARA yang pecah di Maluku sejak 1999 dan berakhir beberapa tahun kemudian sangat membekas di hati Yohanes Mantahari. Ketika itu dia dan ratusan warga Desa Gita, Kecamatan Oba, Kabupaten Halma-hera Tengah, Maluku Utara, yang beragama Kristen terpaksa me-ngungsi ke hutan karena diserang gerombolan laskar dari kelompok agama tertentu. Warga Kristen memang minoritas di desa tersebut. Setelah berbulan-bulan di pe-ngungsian, yang jaraknya 15 kilometer dari desa, pengungsi keha-bisan makanan. Tak tahan melihat pengungsi kelaparan, Yohanes bersama dua temannya menelusuri hutan rimba untuk mencari ma-kanan seperti singkong dan ubi buat pengungsi.
Ketika itu masih pagi sekitar pukul 10.00. Saat berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ratusan laki-laki berjubah putih menghadang. Gerombolan itu membawa senjata tajam berupa tombak, parang. Yohanes, yang ketika itu baru berusia 17 tahun, kedapatan membawa Alkitab. Tadinya dia dan kedua temannya menemukan
Alkitab itu di tengah hutan. Ketiga pemuda tersebut dipisah lalu masing-masing digiring ke suatu tempat. Yoha-nes dikelilingi belasan pria bersenjata tajam yang siap merobek-robek tubuhnya. “Saat itu saya pasrah kepada Tuhan. Saya tidak takut mati dan iman saya tak akan goyah,” tutur Yohanes kepada REFORMATA belum lama ini di Jakarta.
Orang-orang berwajah bengis dan brutal itu menyodorkan dua pilihan kepada Yohanes: menyangkali imannya dan ikut agama mereka, atau dibunuh. “Mau pilih mana?” ucap anggota laskar tersebut dengan nada geram sambil menempelkan parang di leher Yohanes. Ketika Yohanes menjawab, “Tidak!”, parang itu langsung diayunkan dan menghantam sisi kiri telinga Yohanes. Meski terluka parah, Yohanes berusaha tenang sambil berdoa dalam hati. Pertanyaan dan ancaman yang sama kembali dilontarkan, dan jawaban Yohanes tetap sama. “Saya tidak mau ikut agama kalian!” tegasnya. Parang kembali diayun ke kepala Yohanes. Ketika pertanyaan dan sabetan golok diulang beberapa kali lagi, Yohanes tetap kukuh dalam imannya kepada Yesus. “Saya tetap berdiri menahan serangan senjata mereka. Anehnya, tubuh saya tidak merasakan sakit dan darah tidak ada yang keluar selain dari luka telinga,” kenang Yohanes yang kini berusia 26 tahun.
Mungkin karena sudah putus asa menakuti Yohanes, gerombolan itu menghujani tubuh Yohanes dengan bacokan. Kepalanya nyaris dihantam parang namun Yohanes menang-kisnya dengan tangan kanan hingga mengalami luka menganga dan memanjang. Anggota gerombolan itu makin beringas dan kembali mem-bacok lengannya. “Saya heran, waktu itu saya tidak melihat ada darah sama sekali keluar dari luka-luka saya,” ulangnya. Bahkan Yohanes tetap berdiri sambil menahan serangan mereka. Tiba-tiba, salah seorang mendorongnya dari belakang hingga jatuh tersungkur. Dalam posisi tertelungkup dan tak berdaya, beberapa orang mengayun-kan tombak ke tubuh Yohanes. Tak lama kemudian, si pemegang parang itu kembali mengangkat parang dan menebas leher Yohanes. “Saya rasakan leher saya dibacok, tapi saya diam saja. Saya tetap berdoa agar diberikan kekuatan jika masih diperkenankan hidup,” tutur pria yang lahir di Maluku Utara, 2 Desember 1982 tersebut.
Gerombolan yang mengira Yohanes telah tewas lantaran tubuhnya tak bergerak, menutupi tubuh Yohanes dengan daun-daunan. Pakaian Yohanes dilepas, lalu minyak tanah disiramkan ke sekujur tubuhnya untuk dibakar. Namun tak satu pun biji korek api berhasil dinyalakan. Kira-kira satu jam kemudian, gerombolan tersebut pergi meninggalkan Yohanes yang tertelungkup di tanah penuh luka.
Tubuh dipenuhi belatung
Setelah aman, perlahan Yohanes berdiri. Sejenak dia memperhatikan dan meraba sekujur tubuh dan luka leher yang menganga lebar. Lalu, dia berjalan tertatih-tatih sambil mencari pertolongan. Seharian dia menyusuri hutan belantara tanpa arah. Sesekali muncul rasa takut jika ada binatang buas. Pada hari kedua, belatung memenuhi luka-lukanya. Sampai hari ketiga tubuh Yohanes terlihat putih karena “terbungkus” ribuan belatung. Dia tetap berjalan tanpa menghiraukan lagi tubuhnya yang sekarat. “Saya bersyukur tetap kuat meski tidak makan dan minum beberapa hari,” ujar anak bungsu dari empat bersaudara ini.
Tentang nasib kedua temannya, belakangan Yohanes tahu kalau keduanya mencoba melarikan diri. Salah seorang berhasil melarikan diri, namun yang satu tertangkap dan disembelih manusia-manusia biadab itu hingga tewas. Soal Alkitab yang dia temukan di tengah hutan, dia yakin itu tidak kebetulan. Pasalnya, detik-detik sebelum kejadian, Yohanes melihat Alkitab tersebut dalam posisi terbuka dan membaca beberapa ayat Injil Matius yang membuat imannya makin teguh: “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku”. “….tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”.
Singkat cerita, kakak iparnya berhasil menemukan Yohanes. Lantaran dianggap tidak memiliki harapan hidup, Yohanes tetap dibaringkan di hutan selama beberapa minggu sambil dirawat seadanya. Ketika ada kesem-patan, Yohanes dibopong ke rumah sakit di Kota Tobelo, Kecamatan Tobelo Utara, sekitar 100 kilometer dari tempat pengungsian itu. Bebe-rapa luka bisa dijahit, namun, luka di leher tak sempat diobati lantaran kota tersebut akan diserang gerombolan berjubah itu. Yohanes berhasil dilarikan ke kapal perang TNI AL dan diberang-katkan ke tempat pengungsian di Kota Kairaigi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Dua hari kemudian, keluarganya menyusul. “Luka di leher sembuh sendiri,” kata Yohanes yang kini kuliah di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Doulos, Jakarta Timur.
Batinnya ikut terluka mendengar berita tentang banyaknya warga gereja yang menjadi korban kebiadaban gerombolan itu dalam kondisi tragis dan kritis. “Perempuan diperkosa dulu, disembelih lalu dibakar. Anak-anak dibantai secara biadab,” katanya pilu. Namun bagaimanapun juga, Yohanes masih ber-syukur keluarganya sela-mat. Dia ingin membalas dendam, namun tangan Tuhan menjamahnya saat mengikuti acara retreat pemuda di Manado tahun 2002.
Meski dirinya sulit melupakan peristiwa penyiksaan itu, Yohanes tiada henti bersyukur karena diberi kekuatan oleh Tuhan untuk menangung penderitaan dengan iman teguh. Keinginannya untuk melayani Tuhan di ladang misi sungguh berkobar, hingga dia memutuskan untuk kuliah di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Doulos. Dia bertekad akan menjangkau banyak jiwa di mana pun Tuhan kelak mengutusnya.
? Herbert Aritonang