Dua peristiwa dahsyat tak pernah sirna dari benak Dhanis: bom yang meledak di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia, Jakarta serta jatuhnya pesawat Concorde di hotel saat dia berlibur bersama keluarga ke Perancis.
TENTU masih segar dalam ingatan kita bagaimana dahsyatnya bom di dalam mobil boks yang diledakkan teroris di depan Kedubes Australia, Jakarta, 2004 lalu. Saat ledakan terjadi, mobil yang dikendarai Dhanis sedang melaju, tidak jauh dari pusat ledakan. Puluhan mobil ringsek. Mobil Dhanis selamat, tak ada goresan sedikit pun, namun taksi yang ada di depannya hancur. Pada saat yang mencekam itu, Dhanis sempat menyaksikan pohon-pohon rontok, dan seorang polisi mental cukup jauh.
“Aneh, mobil-mobil yang jauh di belakang saya malah hancur,” ungkap pria bernama lengkap Dhaniswara Harjono ini. Setelah ledakan, lokasi sekitar gelap menambah panik orang-orang. Dalam situasi itu, Dhanis merenung di dalam mobil, lalu sujud mengucap syukur atas perlindungan Tuhan Yesus. “Tuhan punya maksud apa terhadap saya? Secara logika mestinya saya turut jadi korban,” katanya sambil menambahkan bahwa itu merupakan kejadian kedua dirinya lolos dari maut.
Beberapa tahun sebelumnya (2000), Dhanis bersama istri dan kedua anaknya sedang berlibur di wilayah perkebunan Gonesse, Paris utara, Perancis. Sekitar pukul 16.45, sebuah pesawat supersonik Concorde milik Air France jatuh di atas Hotel Relais Bleu. Pesawat naas itu hendak ke New York, AS. Untunglah beberapa jam sebelumnya Dhanis dan keluarga sudah meninggalkan hotel. Penumpang pesawat dan tamu hotel banyak yang tewas dalam peristiwa itu. “Saya merinding mendengar kejadian itu. Kalau bukan Tuhan yang menyertai, kami pasti ikut tewas di hotel itu. Melalui peristiwa ini, Tuhan buat saya tidak hanya janji tapi bukti,” ujar suami Hedy Marueen ini.
Bagi Dhanis, luput dari dua peristiwa mengerikan itu adalah buah yang dia nikmati setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat sejak 1991. Sejak menjadi Kristen, kuasa Tuhan dirasakan selalu memberi perlindungan dalam situasi dan kondisi apa pun. “Tuhan Yesus memang luar biasa. Dia menjaga siapa pun yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Yesus juga memberi berkat luar biasa,” ungkapnya.
Nyaris gila
Dhanis berasal dari keluarga non-Kristen. Meski keluarganya fanatik, keputusannya untuk pindah agama tidak terlalu ditentang keluarga. Sebelumnya dia mengalami masalah berat berkepanjangan yang membuat jiwanya seolah kosong. Dia beserta keluarga berupaya mencari kesembuhan namun tak kunjung didapat. Akhirnya setelah ikut Kristus, semangat hidupnya pulih.
Masalah itu bermula saat Dhanis mengikuti tes terakhir masuk AKABRI di Magelang pada 1980. Pria kelahiran Jakarta, 26 Oktober 1960, ini salah satu calon taruna terbaik dari Jakarta. Namun dia dinyatakan tak memenuhi syarat, tanpa alasan yang jelas. Cita-citanya menjadi perwira remaja kandas. Dia shock berat. Sang ayah bahkan terkena stroke karena Dhanis gagal jadi taruna AKABRI. Pukulan batin ini membuat Dhanis menjadi seorang pemuda yang temperamental. Pacarnya meninggalkan dia. Beratnya beban batin itu membuat Dhanis nyaris gila. Meski sudah ditangani psikiater, kondisinya tak banyak berubah. Dia baru pulih setelah mulai mengenal Yesus.
Setelah mengubur dalam-dalam keinginan untuk menjadi perwira, Dhanis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UKI Jakarta. Di kampus dia dikenal sebagai mahasiswa cerdas dan berprestasi. Kuliahnya diselesaikan dalam waktu singkat, dan lulus 1986. Tahun 2008 meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Saat ini dia dikenal sebagai Dr. Dhaniswara Harjono, SH, MH. Tentang pencapaian ini, dia berkata, “Semua ini karena Tuhan begitu baik sama saya”.
Lulus dari FH-UKI ia bekerja di bank selama dua tahun, kemudian menjadi pengusaha agrobisnis (1989-2003). Dalam bidang hukum kiprahnya antara lain, mendirikan law firm (1995), mendirikan LKBH HIPMI (1999), mendirikan LKBH HIPPI (2004). Sejak 2003 dia menjadi dosen di dua universitas terkemuka, mengajar mata kuliah Hukum-Bisnis.
Pada 1995, mantan teman kuliah-nya yang juga advokat mengajaknya mendirikan law firm. Krisis ekonomi membuat dunia usaha banyak am-bruk. Lantaran dinilai kom-poten di du-nia ad-vokat, Dhanis di-minta mengadvokasi sejumlah teman-nya yang usaha-nya terimbas krisis, seperti membantu teman-temannya berhadapan dengan BPPN dan bank-bank berskala besar, baik bank lokal maupun asing. Pengalam-an itu membuat dia makin jatuh hati kepada urusan perkara. “Ada satu kepuasan membantu seperti itu,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPPI) dan Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Jakarta Utara ini.
Menapaki senator
Meski sudah menggoreskan prestasi di dunia usaha dan hukum, dia masih ingin menyalurkan dharma baktinya sebagai senator. Kepentingan rakyat DKI Jakarta serta bermacam masalah kompleksitasnya ingin dia perjuang-kan. Melalui pencalonannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta, bernomor urut 16, dia sudah memiliki setumpuk strategi membangun peradaban kota dan memenuhi hak-hak warga Jakarta. “Hal ini berawal dari keprihatinan saya atas negeri kita yang sudah merdeka begitu lama tapi hal yang paling utama dan prinsip yakni masalah kesejahteraan rakyat belum bisa terpenuhi. Padahal, tujuan negara kita adalah menuju masyarakat yang adil dan makmur,” kata Dewan Pakar Masyarakat Agrobisnis Indonesia (MAI) ini.
Menurut Dhanis, salah satu ukuran masyarakat yang sejahtera sangat sederhana, apakah kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan ditambah pendidikan dan kesehatan terpenuhi atau tidak. Kalkulasi dia, masih ada 20 juta orang yang tidak memiliki rumah. Di antara yang punya rumah, masih ada 30 juta orang yang tinggal di daerah kumuh. Sementara kebutuhan per tahunnya dalam pembiayaan perbankan sekitar 200 ribu unit rumah. Sayangnya, kata Dhanis, “Perbankan kita hanya sanggup memback up sekitar 85 ribu unit rumah. Ini tidak bisa didiamkan terus. Jika didiamkan, suatu saat akan meledak. Gejalanya akan makin ekstrim, di antaranya tingkat kriminalitas makin tinggi,” kata jemaat GBI Penuai, Jalan Raden Saleh, Jakarta, ini.
Sebagai pakar di bidang hukum dan bisnis, dia memiliki banyak alternatif solusi dalam konteks nasional maupun untuk wilayah Jakarta sendiri. Kiat public housing dijadikan jawaban. Jika masalah seputar pembiayaan, Dhanis memilah dulu dalam struktur golongan di masyarakat. Bagi masyarakat yang kurang mampu, diperlukan rumah umum untuk siapa saja sampai mereka bisa mandiri setelah mendapat bimbingan dan pelatihan. “Negara ini harus bertanggung jawab terhadap orang-orang telantar. Masalahnya, negara menjalankan fungsi itu atau tidak. Kalau tidak, negara telah melanggar UUD,” cetus ayah Anastasia (19) dan Belinda (15) ini.
? Herbert Aritonang