MASYARAKAT Batak, Sumatera Utara, khususnya yang tinggal di pedesaan, umumnya tak memiliki pilihan dalam pekerjaan selain bercocok tanam di sawah. Bagi sebagian orang desa pilihan ini rasanya sulit. Akhirnya, tak sedikit orang muda bahkan kalangan orang tua nekat meninggalkan kampung halaman dan merantau ke kota besar atau ke daerah lain demi mencari pekerjaan yang lebih memberikan kepastian masa depan.
Merantau demi mencari kehidupan yang lebih layak tidak ada di benak Dapot Sinaga. Saat lulus sekolah rakyat pada 1954, warga Kampung Nagojor, Kecamatan Maraja, Simalungun ini memilih tetap setia menggarap sawah warisan orang tuanya. Dari hasil sawah yang sebenarnya tidak terlalu luas itu dia dapat menyekolahkan lima anaknya. Namun, sejak 1984 hasil panen kian berkurang lantaran himpitan bermacam masalah. Kondisi tersebut mendorong pria kelahiran Samosir,
17 Agustus 1943, ini mencoba mencari lahan pekerjaan lain tapi sulit. “Di sini tidak ada yang bisa menghasilkan uang selain bertani,” katanya.
Akhirnya Dapot menekuni pekerjaan sebagai pemecah batu di pinggiran Sungai Kasindir, tidak jauh dari rumahnya. Setelah mengantongi ijin dari Dinas Pertambangan setempat, tebing batu setinggi sepuluh meter itu dia bobok. Pecahannya berupa batu-batu berukuran besar lalu dikumpulkan dan dijual kepada warga yang hendak membuat pondasi rumah. Tiap satu kubik dijual Rp 30 ribu. “Kalau cuaca bagus, tiap hari bisa terkumpul dua sampai tiga kubik,” kata pria yang pernah bercita-cita menjadi guru ini. Pecahan batu-batu itu pun ternyata diminati para kontraktor untuk membangun irigasi.
Menurut Dapot, membongkar tepian tebing harus dilakukan orang-orang yang mengerti sifat dan kondisi batu. Awalnya, dia mengaku kesulitan memecahkan batu tebing karena sangat keras. Lama-lama dia mengerti, jika ada goresan garis-garis berliku-liku di tebing, barulah dapat dipecahkan. “Jika tidak tahu selahnya bakal sulit karena kerasnya batu tebing ini,” tutur Dapot yang bekerja hanya berbekal perkakas bangunan sederhana seperti pahat, martil dan linggis.
Tetap giat mencari uang
Meski kini kelima anaknya sudah berkeluarga, tanggung jawab sebagai pencari nafkah rumah tangga belum berakhir. Sebab dia harus menafkahi sang istri bernama Rosinta Manik. Selagi masih kuat, dalam usianya yang kini 67 tahun dia tetap melakoni pekerjaan sebagai petani dan penambang batu. Di pinggir sungai yang airnya mengalir cukup deras itu Dapot mengambil batu sendirian. Namun dia tidak merasa kesepian, sebab banyak warga yang mandi dan mencuci pakaian di sekitar lokasi kerjanya, terutama pada pagi dan sore hari.
Meski Dapot sudah menggeluti pekerjaan tersebut selama 25 tahun, tak satu pun warga yang mengikuti jejaknya. “Saya mau kerja apa lagi selain jual batu. Hasil panen sawah terasa semakin kurang mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari yang terus mahal,” katanya mengeluh.
Kepada REFORMATA, sejum-lah warga sekitar Sungai Kasindir berkomentar bahwa pekerjaan yang dilakoni Dapot sangat berbahaya. Selain menguras tenaga dan waktu, keuntungan yang diperoleh pun tergolong kecil. Meski demikian, “Saya salut sama dia (Dapot). Orangnya giat cari uang walau untungnya sedikit. Padahal, pekerjaan itu cukup berisiko,” kata seorang pemuda.
Kendati dianggap berbahaya, bagi Dapot, pekerjaan tersebut tetap dilakukan demi mencukupi kebutuhan. Bahaya lain adalah bila banjir tiba-tiba menerjang sampai setinggi 2 meter. Namun berkat ketajaman insting, Dapot bisa membaca tanda-tanda jika akan terjadi banjir besar yang berasal dari aliran sungai di atas bukit. “Jika mendung biasanya akan datang banjir. Untunglah selama ini tidak terjadi apa-apa,” kata jemaat HKBP Nagojor ini menutup pembicaraan.
? Herbert Aritonang