DI Jakarta, banyak bangunan tua yang dijadikan sebagai aset dan tujuan wisata oleh pemerintah. Namun sayang, beberapa di antaranya kurang terawat hingga hampir roboh –terkikis oleh sang waktu.
Namun tidak demikan halnya dengan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jakarta. Bangunan yang terlihat megah dengan beberapa pilar besar di depan sangat terawat. Taman yang diatur sedemikian rupa dan cemerlang warna cat bangunan, menunjukkan bagaimana gereja ini begitu diperhatikan dan dipertahankan keunikannya.
Berdirinya gereja yang dulu bernama Willems Kerk ini merupakan realisasi “mimpi” dari Raja Belanda (Willem I, yang berkuasa 1813-1840). Obsesinya mempersatuan semua gereja dan organisasi Kristen yang berada di wilayah kekuasaannya—termasuk wilayah jajahan—dinyatakan dengan membangun gereja oikumenis, untuk menyatukan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran Protestan Belanda di Batavia dalam satu gereja.
Gayung bersambut, karena saat itu di Batavia belum ada gereja yang memenuhi syarat untuk ibadah bersama. Maka pada 1832, kedua jemaat tadi memutuskan untuk membangun sebuah gereja besar yang mampu menampung kedua jemaat yang sebelumnya terpisah hanya karena persoalan aliran dan denomenasi itu. Pada 20 Desember 1832 dibentuklah panitia persiapan pembangunan gereja. Dan proposal anggaran pun segera dikeluarkan. Anggaran pembangunan diperkirakan sekitar 192 ribu gulden. Biaya yang cukup besar itu kemudian dibebankan pada beberapa orang dan lembaga sebagai wujud partisipasi mereka. Di antaranya adalah: Jemaat Reformasi dan Lutheran masing-masing menyumbang 40 ribu gulden; Gubernur Jenderal J.C. Baud, yang memerintah waktu itu (1833-1836) menyumbang 92 ribu gulden; Sedangkan jemaat lain, yang berasal dari Jawa dan Sumatera menyumbang 20 ribu gulden.
Setelah dana cukup, maka pembangunan gereja pun segera dimulai. Tepatnya tanggal 24 Agustus 1835 (bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem I ke-63) pembangunan gereja pun dilakukan. Lebih dari tiga tahun proses pembangunan berlangsung. Dan pada 24 Agustus 1839, bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem I ke-67, gereja yang beralamat di Koningsplein Oost (sekarang Jl. Merdeka Timur 10), pembangunan selesai dan diresmikan menjadi gereja dengan nama Willems Kerk.
Bila diamati dari Station Koningsplein-Weltevreden (Stasiun Gambir, sekarang), gereja ini lebih mirip gedung teater atau gedung seni tempo doeloe dengan pilar-pilar paladiannya yang menopang balok mendatar di serambi depan yang berbentuk persegi empat. (Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis). Namun tatkala kita masuk ke dalam gereja, kita akan tercengang dengan arsitekturnya yang cukup hebat. Gereja yang lebih bergaya klasik ini juga memiliki konstruksi kubah yang mantap dan dengan hitungan yang betul-betul tepat, sehingga sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan secara merata, sehingga tak sedikit pun terasa lembab.
Suasana sejuk dan adem segera menghampiri tatkala kita berada di dalamnya. Jendela dan pintu-pintu yang berukuran raksasa merupakan ventilator mantap untuk menghantarkan udara bersih ke ruangan. Menariknya lagi, di dalam ada sebuah orgel raksasa yang terpasang sejak 1843. Alat musik kuno yang dibuat oleh J. Batz di negeri Belanda ini, konon memiliki 1.116 pipa yang berfungsi baik sesuai sistem aslinya meski kompresor telah dieletrikkan. Kini sudah lebih dari satu abad umur orgel ini, namun tetap berfungsi baik, dan suaranya tetap terdengar mantap, sama seperti dulu.
Pada 31 Oktober 1948, De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat / GPIB) dibentuk. Kemudian gereja Willems Kerk ini berganti nama menjadi GPIB Immanuel, sebuah kata yang mengandung makna sekaligus iman bahwa Tuhan selalu beserta kita umatnya.
GPIB Immanuel tetap eksis sampai kini, dan akan tetap eksis mewartakan berita kebenaran yang Tuhan ilhamkan dalam kitab suci dan penyataan-Nya secara tersirat dalam semesta. ? Slamet Wiyono