Menerawang jauh di kedalaman makna dan esensi objek dengan mata hati adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Namun sayang, tak semua orang dapat menikmatinya. Menikmati objek dengan kedalaman makna dan luasnya interpretasi bukanlah satu aktivitas yang mudah. Ada bebagai unsur dan korelasi an-tara indera yang satu dengan indera yang lain yang selalu menyertainya. Dan ternyata juga bukan orang sem-barang yang dapat menikmati da-lamnya makna dan arti luas sebuah simbol. Aktivitas ini umumnya dimiliki dan dikerjakan oleh para seniman,
khususnya perupa, yang dapat memandang objek dengan keda-lamannya yang luar biasa – tak sama dengan cara orang awam memandangnya.
Begitu juga yang sedang dida-lami oleh Yunus, alumni SMA Seko-lah Kristen Makedonia (SKM) Nga-bang, Kalimantan Barat. Anak muda kelahiran Toho, Kalimantan Barat, 27 Mei 1989 ini, saat ini sedang mempersiapkan diri mema-tangkan talenta seni yang dia miliki. Dalam waktu dekat dia akan bergabung dengan salah satu sanggar pelukis di Jakarta. Lang-kah ini sebagai bentuk keseriusan-nya dalam seni lukis ini.
Baginya, seni, khususnya seni lukis, adalah satu hal yang menarik untuk dinikmati. Sebagai insan yang kagum akan keindahan alam, Yunus selalu dapat menikmati dan memeroleh inspirasi dari panorama alam. Baginya alam adalah suatu bentuk keagungan dan kemaha-kuasaan Tuhan. “Saya sangat se-nang dengan panorama alam, tapi kurang (belum) senang dengan objek lain, seperti manusia. Tatkala saya melihat alam, maka inspirasi itu langsung terbuka” jelasnya.
Bercerita tentang hobi lukisnya ini Yunus mengaku bahwa talenta dalam bidang seni rupa ini semua berawal dari sekadar iseng, lalu menjadi hobi dan akhirnya me-nyatu dalam diri putra ke-3 dari 4 bersaudara pasangan Barem dan Indah ini.
Baginya, seni lukis bukan sekadar untuk memuaskan ego dan idealis-me dirinya dalam mengekspresikan sesuatu, tapi hobi yang satu ini dia tekuni betul dan terus ia gali demi sensitivitas dan kemandirian seni yang keluar dari hati. Karena kegi-gihannya itu, bukanlah satu kebe-tulan kalau karyanya akhirnya juga diapresiasi oleh banyak orang. Sebagai wujud nyatanya, dia ber-hasil menyabet juara 1 lomba lukis tingkat kabupaten, dan peringkat ke-4 lomba lukis tingkat provinsi.
“Talenta yang saya miliki ini kan anugerah Tuhan. Karena itu saya akan mengembalikan karunia yang Tuhan berikan ini kepada Tuhan. Salah satunya adalah dengan kem-bali nanti ke SKM sebagai pengajar untuk membagikan ilmu kepada siswa-siswi SKM,” tuturnya sambil memperbaiki duduknya dengan ekspresi wajah serius memberi kepastian. Baginya, semua orang yang ada di SKM—guru, murid, dan karyawan—ibarat keluarga sendiri. Karena itulah dia juga berkeinginan untuk mengabdikan seluruh hidup-nya bagi sekolah yang telah men-didiknya selama ini. Ini bukan dalam rangka balas budi, tapi itu adalah panggilan jiwa yang patut dia responi secara penuh.
Selama menuntut ilmu di SKM, boleh dikatakan hampir tidak ada kisah sedih yang dia alami. “Selama di SKM, banyak hal positif yang saya peroleh. Misalnya, dulu saya tak bisa main musik, sekarang bisa. Dulu saya tak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, sekarang bisa. Di sini saya juga belajar ten-tang arti sebuah kedisiplinan,” urai-nya tentang bagaimana SKM telah membentuknya menjadi orang yang tak hanya mantap dalam pengetahuan, tapi juga mantap dalam karakter.
Dengan moto hidup “kemam-puan adalah sesuatu yang Tuhan berikan”, Yunus selalu sadar bahwa pada dasarnya dia bukan apa-apa. Dia bisa menjadi seperti sekarang ini karena Tuhan yang membentuk dan mengarahkannya. Slamet Wiyono