Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Khas

Dian Mandiri 100,5 FM Pulihkan Semangat Korban Tsunami

Posted : 22 Agustus 2008
90 KHAS.gif

Empat tahun silam, tepatnya 26 Desember 2004, tsunami melanda Aceh dan Nias. Di Aceh saja, ratusan ribu orang tewas dihantam gelombang dahsyat itu. Warga yang selamat, justru dilanda kebingungan dan kepedihan karena masa depannya sungguh gelap. Banyak warga yang kehilangan sanak keluarga, rumah, serta harta benda.

Di Nias sendiri, korban jiwa memang tak sebanyak di Aceh, namun kerusakan yang ditimbulkan gelombang dahsyat itu sama saja. Akibatnya banyak warga yang kehilangan tempat tinggal, tempat usaha, dan mata pencaharian. Yang lebih menyedihkan, warga yang selamat dan kehilangan segalanya itu banyak yang depresi, putus asa, trautama dan sangat menderita.

Di saat gelap seperti inilah setitik cahaya “dian” muncul, mencoba menerangi kawasan Nias yang sedang diliputi mendung kelabu itu.  Radio Dian Mandiri 100,5 FM, itulah dian yang mencoba menerangi bumi yang terkenal dengan tradisi loncat batu itu.

            Tujuan Dian Mandiri FM sungguh amat sangat mulia, yakni hendak membantu memulihkan masyarakat dari trauma tsunami itu. Dengan fasilitas seadanya, dan dengan tertatih-tatih, tepat tanggal 4 Februari 2005, Radio Dian Mandiri FM berhasil menunjukkan eksistensinya bagi kemanusiaan.  Berbekal izin operasional dari dinas perhubungan dan rekomendasi dari wakil Bupati Nias kala itu, Agus H. Mendrofa, radio yang mula-mula berlamat di Jl. Sutomo 62, Dahana Sogawugawu, Gunung Sitoli ini berhasil mengudara dan melakukan pre-launching, juga sosialisasi kepada pendengar dan tokoh masyarakat pada 22 Februari, tahun yang sama. 

            Belum genap seumur jagung kehadiran Radio Dian Mandiri di tengah-tengah masyarakat Nias, gempa kembali menggoyang Nias. Gedung dan seluruh peralatan radio ini pun turut luluh lantak.  Karena itulah kemudian Dian Mandiri pindah ke alamat baru yakni di Jalan Golkar Puncak, Villa Larosa, Gunung Sitoli. 

            Dengan segenap kekuatan dan semangat yang tersisa, Yandri VE. Laning, stasiun manager waktu itu, mencoba bangkit, mengerahkan seluruh tenaga untuk kembali eksis demi mengemban mandat yang berat untuk melayani mereka yang kesusahan karena penderitaannya bertambah akibat gempa itu. Di tengah kesulitan, Dian Mandiri FM tetap gigih memompakan semangat hidup warga lewat siaran-siarannya.

 

            Menyesuaikan diri

            Kini secara berangsur-angsur umat di Nias mulai melupakan gempa dan tsunami yang melanda beberapa waktu lalu itu. Seiring perkembangan masyarakat yang makin kondusif itu, Dian Mandiri FM pun turut menyesuaikan diri, yakni mempersatukan gereja-gereja setempat dalam satu tubuh Kristus. 

Perlahan, namun pasti, Radio Dian Mandiri FM, yang dimotori oleh Tommy Hariyanto, selaku station manager mulai menampakkan hasil dari jerih payahnya selama ini.  Bak mercusuar di tengah pantai yang menjadi tinanda (penanda), Dian Mandiri FM telah menjadi corong yang mewartakan Firman Allah. Dengan daya jangkau sampai radius 120 km, tak kurang dari 200 ribu jiwa mendapat berkat dari pemberitaan firman dan lagu pujian yang dipancarkan Radio Dian Mandiri ini.   

Satu hal yang patut dibanggakan, Dian Mandiri FM tak hanya menabur berkat lewat udara. Di antara beragam kegiatannya, Dian Mandiri FM kerap melakukan pelayanan sosial, kebaktian kebangunan rohani (KKR), dan pelayanan kesehatan gratis, bekerja sama dengan tim dari luar negeri.

?  Slamet Wiyono

73
23 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :201020092008
Online Support :