Bingung Hadapi Suami Kekanak-kanakan

lovers.gif

Yakub Susabda

 

Bapak Pengasuh yang terhormat.

Memasuki pernikahan yang terbilang muda, kini saya harus terus menjalani setiap kesulitan yang adalah bagian dari keputusan saya.

Waktu berjalan membuat saya semakin sulit menghadapi suami saya, yang terlihat sangat egois, seperti anak-anak yang hanya memikirkan diri sendiri, lebih senang menikmati hobinya (main games) daripada memperhatikan rumah tangga.

            Dalam masa kesulitan untuk melahirkan dan membesarkan anak yang baru lahir, dia begitu tidak peduli dan membiarkan saya mengerjakan semuanya sendiri. Satu hal yang juga sulit, dia malas mandi dan sulit mengganti pakaian dalamnya. Sesuatu yang baru saya ketahui setelah menikah. Orang tuanya juga tidak mendukung untuk perbaikan rumah tangga kami, sebaliknya malah menikmati kesenangan di atas penderitaanku. Untuk rumah yang kami tinggali yang merupakan rumah mertua, itu pun dikenakan biaya yang harus kami bayar setiap bulan. Benar-benar mereka tidak peduli.

            Bapak Pengasuh, tolonglah saya untuk menghadapi semua pergumulan ini. Kadang saya ingin pergi dan meninggalkan suami, tapi tak ada pilihan lagi, karena dia tetap suami saya, yang adalah keputusan saya sebelumnya.

Liana, Kebun Jeruk

 

Liana, arsitek hidup kita adalah diri kita sendiri.  Anda tidak dipaksa untuk berkenalan, memulai dan membangun pengenalan, mengambil keputusan, bahkan mengikatkan diri dalam pernikahan dengan suami. Anda sendirilah arsitek hidup Anda.  Andalah pengambil keputusan untuk setiap hal yang akan Anda alami dalam kehidupan Anda.  Anda mau marah-marah, kecewa, menyesali pernikahan, tetap Andalah yang akan menghadapi dan menghidupi pernikahan Anda.

            Memang Anda bisa menemukan alasan kemarahan dan kekecewaan terhadap suami dan mertua.  Dan semua alasan tersebut bisa benar-benar masuk akal.  Tetapi, tetap sekali lagi Anda sendirilah yang akan menghadapi dan menghidupi pernikahan Anda.  Apapun yang akan Anda pikirkan, katakan, dan perbuat, adalah tanggung jawab dan pilihan Anda sendiri.  Oleh sebab itu, Anda harus benar-benar bijaksana dan mempertimbangkan dengan masak-masak bagaimana dampak atau akibat dari reaksi Anda tersebut.  Saya hanya dapat mengingatkan Anda, yaitu “jangan berpikir, bersikap, dan bertingkah laku yang dampaknya justru memperburuk suasana.”  Artinya, “jangan bereaksi” yang justru akan menstimulir berkembangnya kelemahan suami Anda tersebut.

            Membaca keluhan Anda, saya mendapat kesan bahwa Anda adalah pribadi yang rewel dan berkepribadian kurang matang.  Anda memasalahkan dan memperbesar hal-hal yang sebenarnya biasa saja.  Artinya, kelemahan-kelemahan suami Anda hanyalah kelemahan-kelemahan pribadi yang biasa dan wajar-wajar saja.  Rupanya Anda terganggu dengan kebiasaan suami main games, dan pada “saat-saat tertentu” tidak available/siap membantu dalam kegiatan-kegiatan dalam rumah tangga.  Di tengah frequency/seringnya Anda terpancing untuk marah, Anda menemukan pula bahwa suami Anda seringkali jorok tidak mandi dan tidak ganti pakaian dalamnya.  Ah, Anda benar-benar kekanak-kanakan.  Apa yang Anda keluhkan, semuanya adalah bukti ketidakberhasilan Anda membangun komunikasi yang baik dengan suami.  Anda cuma menuntut, tidak pernah menolong.  Kemungkinan besar, suami Anda sengaja menunjukkan ketidakpeduliannya justru karena dia merasa dirinya terus diomeli dan dipersalahkan.  Bahkan dia mungkin merasa betapa Anda sebagai istri justru terus mencoba memisahkan hubungan cinta kasih antara suami Anda dan kedua orang tuanya yang . . . baginya sudah begitu baik meminjamkan rumah dengan kewajiban membayar “yang ringan.”  Anda selalu melihat dan menangkap sikap orang dari perspektif yang negatif.  Anda adalah pribadi yang menimba kebahagiaan dari luar.  Artinya, Anda adalah pribadi yang terus merasa miskin tak punya apa-apa untuk diberikan pada orang lain di luar diri Anda sendiri.  Anda hanya dapat menuntut orang-orang lain mengisi kebutuhan Anda dengan menuruti segala yang Anda kehendaki.

            Saya kasihan dengan suami dan mertua Anda.  Liana, Anda harus berubah.  Coba belajarlah untuk : (a) tidak memasalahkan kelemahan-kelemahan orang lain (suami dan mertua), (b) selalu bertanya kepada diri sendiri “apa yang dapat saya perbuat untuk dapat membahagiakan suami dan mertua.”  Saya percaya dengan Anda sendiri berubah, Tuhan akan memberkati pernikahan Anda.q             

05 September 2008

Konsultasi Keluarga Index