Sampah-sampah kertas berupa kardus dikumpulkan Yanto (38) ke dalam beberapa plastik hitam besar dan karung lalu diikat dan dimasukkan ke gerobaknya. Sementara gelas plastik bekas minuman mineral dikum-pulkannya ke dalam dua dus besar. Panas matahari yang kian terik dan menyengat tak mengendurkan semangatnya mengais sampah-sampah kertas yang berserakan sehabis suatu acara siang itu.
Sabtu (29/11/2008) siang sekitar pukul 13.25, acara ibadah Natal bagi para pemulung dan anak-anak jalanan pada sebuah lahan terbuka di bilangan Palmerah, Ja-karta Selatan, baru selesai digelar. Raut wajah Yanto menggambar-kan keceriaan. Dia tidak hanya ikut berhimpun merayakan kelahiran Yesus sambil membawa pulang bingkisan Natal berupa beras dan beberapa bungkusan kue. Bapak dua anak ini pun ikut ketiban
“bingkisan” besar dari sampah-sampah kertas bekas makanan ratusan undangan yang hadir pada ibadah Natal siang itu. “Saya harus cepat-cepat beresin karena sebentar lagi mau pulang,” katanya kepada REFORMATA dengan wajah dibanjiri peluh. Sementara itu mata beberapa orang bule asal Australia yang tadi turut merayakan ibadah Natal, tak berkedip memperhatikan Yanto yang bekerja keras mengumpulkan barang-barang yang bagi mereka tidak ada manfaatnya lagi itu.
Yanto adalah pemulung yang setiap hari berkeliling di seputar Slipi dan Grogol, Jakarta Barat. Dengan gerobaknya, dia mengais barang-barang bekas di tong-tong sampah warga dan gedung-gedung bertingkat yang menurutnya masih laku dijual, seperti plastik dan besi. Sebelum matahari terbit sampai menjelang malam, pria bernama asli Asmat ini gigih mencari uang demi kebutuhan hidup keluarganya yang tinggal di Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Penghasilannya setiap hari paling besar Rp 50 ribu rupiah. “Cukuplah untuk makan sehari-hari. Sementara untuk biaya sekolah anak-anak, istri saya kerja di perusahaan konfeksi. Kami harus kerja karena tidak bakal cukup kalau ngandalin satu orang saja. Saya ingin anak-anak lebih baik nasibnya dibanding orangtuanya yang susah gini,” tutur bapak dua anak ini. Apalagi, lanjut Yanto, sejak harga-harga kebutuhan sembako terus naik, dia dan istri makin keras membanting tulang demi menyelamatkan nasib kedua anaknya agar tak putus sekolah. Kedua anak Yanto masing-masing duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Demi harapan itu juga, Yanto rela “lembur” alias tidak pulang ke rumahnya di Cidodol dari hari Senin sampai Jumat dan tidur di atas gerobaknya di pinggiran prapatan Palmerah. “Jika harus pulang setiap hari ongkosnya gede. Lebih baik uangnya dikumpulin,” katanya. Yanto baru pulang hari Sabtu untuk berkecengkerama dengan keluarga. Baginya, Sabtu adalah hari keluarga yang tak bisa ditinggalkan.
Tak pernah sakit
Sejak 2006 menggeluti pekerjaan sebagai pemulung, Yanto mengaku tak pernah mengalami sakit parah. Meski tubuhnya kena hantaman sinar matahari atau diterpa hujan, yang namanya penyakit tak pernah menghampirinya. “Paling cuma sakit flu biasa. Yang penting kalau kita bekerja demi keluarga dan tekun berdoa, Tuhan itu adil kok,” ucap jemaat Persekutuan Doa Palmerah, Jakarta Selatan yang dikelola Yayasan Moria ini.
Dia juga tidak merasakan hal-hal ganjil di tubuhnya meski setiap hari hidup di pinggir jalan raya dan tidur di ruang terbuka tanpa tenda. “Yesus kita kan ajaib,” katanya sumringah. Yang patut diacungi jempol, Yanto tak pernah menggerutu kepada Tuhan atas keadaan hidup keluarga-nya yang belum dihampiri kebe-runtungan. Bagi dia, miskin tidak menjadi alasan untuk tidak mengu-cap syukur. ? Herbert Aritonang