Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Khas

GKJW Tejowangi, Pasuruan, Pegang Teguh Budaya Guyub-Rukun

Posted : 14 Januari 2009
images.jpeg
Hawa sejuk, dingin dan segar, ditambah suasana desa yang tertata apik asri tentu membuat mata orang tak jemu memandang. Apa lagi me-nyaksikan senyum ramah nan sumringah khas orang-orang sekitar, niscaya semakin membuat orang betah tinggal. Itulah suasana guyub-rukun di desa Tejowangi, sebuah desa yang terletak di kawasan lereng Timur Gunung Arjuno, tepatnya di wilayah Kecamatan Purwosari, kurang lebih 30 km arah barat kota Pasuruan, Jawa Timur. Tak dinyana dari desa di kawasan timur Pulau Jawa itu muncul semburat “sinar kasih” yang
menyejukkan mata dan jiwa.   Sinar yang datangnya dari sebuah gereja kecil buah pelayanan Pdt. Purwadi, seorang hamba Tuhan yang setia menggembalakan umat mula-mula yang terdiri dari empat keluarga Kristen di Tejowangi tersebut.  Perjuangan Pdt. Purwadi memang cukup berat.  Demi melayani umat di Tejowangi, ia harus mengendarai sepeda ontel dari Lawang, Malang yang jarak tempuhnya puluhan kilometer.  Namun demikian, pengor-banan yang  besar itu ternyata tidak sia-sia.  Seiring waktu berlalu, diiringi beberapa kali pergantian pelayan Tuhan, jemaat kecil tadi pun kian berkembang pesat

Tak bisa dipungkiri, salah satu sebab pesatnya perkembangan jemaat Tejowangi adalah karena pecahnya peristiwa G 30 S PKI, tahun 1965.  Dengan adanya peristiwa tersebut, banyak warga masyarakat Tejowangi dan sekitarnya berbondong-bondong menyatakan diri mengikuti ajaran Tuhan Yesus. Alhasil jemaat yang awalnya terdiri dari empat keluarga itu pun kemudian jumlahnya semakin berlipat.

Berbekal tanah hibah dari seorang jemaat dan dana sebesar Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah), di awal pada bulan September 1968 jemaat Tejowangi secara swadaya dan bergotong royong mulai membangun gereja tersebut, yang kini dikenal dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepantan Tejowangi, Jemaat Pasuruan. Di tengah lingkungan yang asri, ditumbuhi pepohonan besar nan rindang, GKJW Tejowangi berdiri menaungi umat yang setia memuliakan dan menyembah Gusti Yesus.  
Kini jaman sudah berubah, berbagai kemajuan teknologi, juga kebudayaan yang heterogen, telah mengubah desa terpencil menjadi ramai.  Namun demikian tak mengubah kejawaan dan kekhasan umat GKJW Tejowangi.  Umat tetap me-megang teguh budaya guyub-rukun dalam per-sekutuan dengan saudara seiman maupun dengan lingkungan sekitar.  Lantunan kidung pujian berbahasa Jawa pun tetap terjaga dan terde-ngar membahana setiap minggunya dalam gedung ge-reja yang seluruh-nya bercat putih, sebagai tanda kebersihan hati, keteduhan jiwa dan keikhlasan diri menyembah Gusti Yesus.

 Tak hanya itu, di depan gereja, di bawah salib besar bertudungkan cungkup empat persegi, juga terpampang nama gereja dengan aksara Jawa.  Jemaat Tejowangi sadar betul budaya Jawa adalah warisan moyang yang begitu luhur.  Karena itulah tetap harus dijaga dan dilestarikan agar tak digerus oleh jaman.            ? Slawi

69
25 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.4207 sec | TOP
Online Support :