DI usia muda, belajar menjadi kata kunci yang teramat penting. Kata pepatah: “Belajarlah kamu sampai ke negeri China”, artinya kita dipacu agar un-tuk terus-menerus belajar, meski-pun itu harus pergi sampai di negeri yang jauh sekalipun. Tapi bagai-mana dengan mempelajari sesuatu yang baik, namun kemudian “disalah-gunakan”, dan merugikan orang lain? Ya tentu saja tidak benar. Tapi, begitulah, dewasa ini banyak anak muda yang ramai-ramai belajar tentang teknologi informatika (TI), tentu saja dengan berbagai alasan, salah satunya mungkin karena dunia TI sedikit
menjanjikan masa depan. Seperti biasa, di kala sesuatu sedang populer, maka di sisi lain akan ada sesuatu yang negatif menjadi dampaknya – meski semua tak lantas harus digene-ralisasi seperti ini. Di tengah-tengah melonjaknya peminat TI, semakin banyak pula muncul programmer handal. Ini tentu saja hal yang baik. Namun di sisi lain, seiring dengan itu, timbul pula hal yang kian meresahkan masyarakat, se-bagai sisi negatif dari meningkatnya anak muda peminat TI. Hal buruk tersebut secara langsung memang tak bisa disebut dampak, tapi lebih kepada pe-nyelewengan dari oknum tertentu dengan memanfaatkan kecanggihan TI yang kian maju ini.
Hal buruk tadi adalah meluasnya penyebaran virus-virus lokal ciptaan anak negeri yang berkembang di masyarakat. Tak ada alasan yang jelas mengapa oknum pembuat virus, yang seha-rusnya menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsanya ini, getol betul menciptakan virus yang mem-buat gerah banyak orang. Seperti-nya tak ada alasan lain selain ingin popularitas, ego, dan kepuasan diri hingga dia mau saja selama berjam-jam, berhari-hari, hingga bulan, memutar otak menuliskan berbagai kode pemrograman yang mampu menyebarkan dirinya secara otomatis.
Anehnya, sekaligus patut disa-yangkan adalah, para pembuat virus-virus lokal tadi notabene adalah mahasiswa yang sedang belajar pe-mrograman, seperti hasil penelitian vaksin.com beberapa waktu lalu. Mahasiswa yang seharusnya belajar giat demi menghasilkan sesuatu agar menjadi manfaat bagi bangsanya itu, justru menjadi sandungan bagi banyak orang. Berdasarkan pengamatan vak-sin.com, medio 3 tahunan belaka-ngan ini, mayoritas pembuat virus lokal bukan bertujuan untuk mencari uang. Motivasinya tak lain dan tak bukan adalah hanya sekadar iseng, sekaligus mencari pengakuan dari komunitas dunia TI maupun masya-rakat pada umumnya. Uniknya dalam pembuatan virus tadi ada yang dilatarbelakangi hanya karena adanya permasalahan pribadi, khususnya hubungan percintaannya dengan pasangan. Sebut saja virus “ka-ngen” yang berkembang bebe-rapa waktu lalu. Virus yang me-nampilkan foto seorang gadis berusia baya, dibarengi pula de-ngan berbagai kata rindu muncul di desktop monitor kita.Ini me-nandakan bahwa komputer kita telah dijangkiti virus “kangen” ini.
Kini ada begitu banyak varian dan level virus lokal yang berkem-bang. Seperti dilansir oleh ini-lah.com 4/12, CEO perusahaan keamanan vaksin.com, Alfons Tanujaya yang menuturkan, setiap bulannya vaksin.com rata-rata me-nerima 100 varian virus lokal baru. Di antaranya adalah virus “malingsi” yang populer di akhir tahun 2008; Autoit varian, Doremi, Formalin, dll. Pesatnya perkembangan virus lokal dengan segala variannya di Indonesia adalah satu hal yang buruk. Namun dari sini tak bisa disangkali bahwa ini menandakan kepandaian programmer Indonesia dewasa ini patut diperhitungkan. Karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang berwenang sudah seharus-nya menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang untuk menyalurkan kreativitas hitech ini agar berman-faat bagi bangsa dan khalayak umum. ?Slawi/dbs