Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Minarsih, Pembantu Rumah Tangga Percaya Yesus, Nasib Berubah

Posted : 20 Agustus 2008
KuDKBJuKgc.jpg
KULIT wajahnya kering dan gelap. Bentuk pipinya terlihat cekung. Minarsih tampak seperti berusia 40 tahun ke atas. Padahal, dia masih berusia 34 tahun. Tubuhnya kurus dan kurang bertenaga. “Saya lagi sakit diare,” katanya kepada REFORMATA di rumah majikannya di Muara Baru Ujung, Penjaringan, Jakarta Utara ini. Di rumah itu, Minarsih bekerja sebagai pembantu sejak tiga tahun lalu.

Hari itu dia tidak bekerja lantaran sejak pagi sering buang air besar sehingga tubuhnya lemah. Siang itu, Minarsih didampingi suami dan anak bungsunya berusia lima tahun. Mukanya makin kusut saat anaknya merengek-rengek minta uang buat jajan. “Tiap jam anak ini minta uang seribu. Dia pengen jajan terus,” keluhnya. “Saya harus kasih, karena tidak tega melihat anak nangis,” katanya. Ditanya tentang wajahnya yang tampak tua, Minarsih berkata kalau dirinya tidak kuasa menolak proses penuaan yang cepat itu. Bertahun-tahun hidup dalam kesusahan, kerap sakit, dan jarang makan makanan bergizi, menjadi penyebab. “Dulu saya sering tidak makan karena tidak ada uang,” kenang Minarsih. Menurut ibu dua anak ini, kepahitan hidup terjadi pada tahun 80-an.

Kemiskinan membuat anak pertamanya, perempuan yang kini berusia 21 tahun, tidak pernah sekolah. Si sulung kini bekerja sebagai penjaga anak,” katanya lirih. Sementara anak keduanya yang berusia lima tahun ini dipastikan mengikuti jejak sang kakak alias tidak bakal sekolah. Padahal, menurut Minarsih, kedua anaknya tampak cerdas. “Saya merasa bersalah tidak menyekolahkan mereka,” ucap Minarsih. Perempuan kelahiran Madiun, 19 Agustus 1973, ini sadar bahwa pedidikan adalah modal untuk mengubah nasib supaya lebih baik. Minarsih hanya pernah duduk di bangku sekolah dasar (SD), itu pun tidak sampai lulus. Perekonomian keluarga yang sulit membuatnya tidak bisa terus sekolah. Padahal, dia bercita-cita menjadi guru. Minarsih mencoba mengadu nasib ke Jakarta. “Pekerjaan apa pun saya jalani asal halal dan bisa untuk makan sehari-hari,” katanya mengenang saat baru tiba di Jakarta beberapa tahun silam. Beberapa tahun kemudian dia menikah dengan seorang tukang becak. Meski demikian kehidupannya tidak bertambah baik. Penghasilan suami hanya cukup buat makan. “Kami tidak sanggup menyekolahkan anak pertama kami,” tuturnya. Ikut Yesus Puluhan tahun berkubang dalam kemiskinan, Minarsih akhirnya dapat mengambil hikmat.

 

Tiga tahun silam dia dan suami memutuskan menerima Yesus. Sang majikanlah yang membimbing mereka menuju Sang Juru Selamat itu. Sejak itu, keadaan ekonomi mereka perlahan membaik, dan berkat terus mengalir. Minarsih mendapat pekerjaan sampingan sebagai tukang sapu di Perum Prasarana Perikanan Samudera Jakarta, sedangkan suaminya mendapatkan pekerjaan tambahan di salah satu perusahaan dekat rumah mereka. “Kami beruntung mendapat kasih anugerah Tuhan,” ungkap jemaat GBI Gedung IKM, Daan Mogot, Jakarta Barat ini. ? Herbert Aritonang

46
24 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 5.7773 sec | TOP
Online Support :