Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Johanes Kanaloni, Pedagang Asongan Dua Puluh Tahun di Lampu Merah

Posted : 10 September 2008
asongan.jpg
USIA boleh beranjak senja, namun semangat mencari uang tidak pernah surut dalam diri Johanes Kanaloni (61). Pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini masih memeras tenaga, pikiran dan waktu demi menafkahi kebutuhan hidup keluarganya. Setiap hari, Johanes—begitu dia disapa—mangkal di perempatan lampu merah Cempaka Mas, Jakarta Pusat, sebagai pedagang asongan. Dia menjual sarung tangan dan masker bagi pengendara sepeda motor yang berhenti saat lampu merah. Johanes mengaku sudah dua puluh tahun mangkal di jalanan sebagai pedagang asongan. Semula dia jualan air minum lalu beralih ke sarung tangan dan masker. Sementara, dua anak laki-laki dari tiga anaknya menjadi kondektur bus.
Melihat usianya, mata pencarian yang digeluti Johanes tergolong menguras banyak energi. Saat lampu merah menyala dan kendaraan berhenti, dia bergegas berkeliling menjajakan jualannya kepada sejumlah pengendara motor. Beberapa penjual lain dengan dagangan sama ikut sibuk menawarkan dagangannya. Walaupun udara di sekitar sangat kotor dan berbahaya bagi kesehatan, Johanes tidak pakai memakai masker. “Tuhan itu adil. Saya malah jarang sakit. Paling cuma sakit kepala dan masuk angin. Minum obat dari warung langsung sembuh,” ucapnya penuh syukur. Pagi itu, dagangan kurang laku.
 
Kendati begitu, dia tetap tenang dan bercanda dengan beberapa teman sesama pedagang di kala lampu hijau menyala. “Saya sudah lama jualan ini. Gak laku sudah biasa,” kata pria yang biasa memakai topi rimba dan rompi saat mengasong ini. Dia mulai dagang pukul 06.30 sampai sore, dan rata-rata mendapat penghasilan bersih Rp 15 ribu setiap hari. Sebelum BBM naik Mei lalu, penghasilannya sempat mencapai Rp 30 ribu. Uang itu hanya cukup buat makan sehari-hari. Yang menyesakkan batin Johanes adalah sang istri yang sudah lama terbaring di rumahnya di Pedongkelan, Jakarta Timur (sekitar 200 meter dari tempat mangkalnya), akibat mengidap tumor otak sejak 2004 silam. Dia tidak berdaya menolong lantaran keterbatasan dana. “Usaha saya hanya bisa berdoa agar Tuhan sembuhkan dia,” kata pria kelahiran Kupang, 7 Agustus 1947 ini. Bagi jemaat Gereja Oikumene Tanahmerah, Jakarta Utara, ini penyakit yang diidap istrinya merupakan cobaan hidup kedua setelah salah satu anaknya pernah tertabrak mobil di tempat dia mangkal. “Saat anak saya menyeberang dari pulang sekolah, mobil Carry menabrak sampai kaki anak saya hancur,” katanya.
 
Sekarang, anaknya yang bernama Adrianus itu berusia 23 tahun, dan menjadi kondektur bus bersama adiknya demi membantu orangtua. Kecewa terhadap pemerintah Kenaikan BBM pada Mei lalu ternyata makin menjepit hidup Johanes. Selain dagangannya makin sepi pembeli dan penghasilan berkurang, harga kebutuhan sembako pun melambung naik. Tidak hanya Johanes, semua pedagang asongan di tempat dia mangkal mengeluh atas kebijakan pemerintah menaikkan BBM. “Saya tidak percaya kalau alasan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan. Lewat BLT, pemerintah beri uang Rp 100 ribu setiap bulan, padahal minyak saja Rp 6.000 per liter. Sedangkan, sayur saja Rp 3.000. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau pemerintah sudah putuskan itu,” ujarnya berang. Namun, dia mengaku beruntung memiliki Yesus. “Saya beriman Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sebagai anak-Nya. Dia kan tidak pernah tidur siang dan malam dan selalu menengok anak-anak-Nya di bumi ini,” kata Johanes. ? Herbert Aritonang
67
23 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.917 sec | TOP
Online Support :